edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Kapan Kepanjen ada Peradapan ..?

Jumat, 10 November 2017


judul :
Keberadaan Pemerintahan Watak Tugaran 
 pada masa Raja Medang Kamulan

(oleh : Agung Cahyo Wibowo)











BAB II

Keberadaan Pemerintahan Watak Tugaran


Pada bab ini saya akan membahas tentang keberadaan pemerintahan Watak Tugaran dengan cara mencari data-data pendukung yang bisa digunakan sebagai bukti data yang bisa digunakan sebagai bahan penelitian dalam melakukan pengidentifikasian masalah tentang  keberadaan pemerintahan Watak Tugaram di Dusun Tegaron, Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang,


1. Kajian Data Heruistik 
Saya mencoba mengumpulkan sumber data sejarah yang berupa berasal dari tulisan diprasasti, buku literatur sejarah, wawancara dan sumber-sumber internet. Data-data tersebut sebagai berikut :

    1.1. Prasasti Dinoyo 
Prasasti yang ditemukan di daerah Dinoyo Kota Malang ada dua buah prasasti yaitu :
Prasasti yang pertama tidak terbaca tahun pembuatan prasasti karena aus, tapi didlamnya ada tulisan yang menerangkan tentang nama-nama tempat seperti tanah kabya…., tanah di Pilingpiling, dan tanah di Inangsean, serta para pejabat yang hadir dalam upacara penetapan suatu sima yaitu rakyan gotra, patih pungkur di waharu dan parujar di waharu.
Prasasti yang kedua sama sekali tak menyebutkan anasir penanggalan. Bagian yang terbaca juga membicarakan hal yang sama, yaitu para saksi yang diundang hadir dalam upacara penetapan sima, yang datang dari beberapa desa, seperti Wurandungan, Panabahan, Jawuhan, Luh, Landa, Tanggara (Tugaran), Wunggalinngah, Halu, Pandak, Baniwen (Peniwen), Kagu…tya, dan Warigan (Wagir).
  1.2. Patung Ganesha di Karangkates
Wilayah Malang terletak di Sebelah timur Gunung Kawi, merupakan daerah subur dengan sungai besar dan kecil mengalir didaerah itu, Sungai Brantas sungai yang terbesar di Jawa Timur dan telah ditemukan Arca Ganesha dengan ukuran tinggi 192 cm dan tergolong besar, ditemukan di desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, dan daerah tersebut diperkirakan jalan besar yang perlu dijaga atau merupakan batas kerajaan sebelum berdiri kerajaan Singosari.[1]
  1.3. Prasasti Turriyan / Watu Godek
Prasasti ini merupakan peninggalan dari Raja Empu Sendok, pada Tahun 24 Juli 929 masehi dan ditemukan di pinggir Sungai Jaruman, Desa Tanggung, Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Isi dari prasasti itu adalah :

“Dikabulkannya oleh raja tentang pemberian sebidang sawah di desaTuryyan yang telah menghasilkan pajak sebesar 3 suwarna emas. Pajak yang di hasilkan desa turyyan setahun ialah 1 Kati dan 3 suwarna emas, 3 suwarna itulah yang di anugerahkan kepada Dang Atu, ditambah lagi sebidang tanah tegalan di sebelah barat sungai dan tanah itu di sebelah utara pasar desa Turyyan. Tanah yang di sebelah barat sungai digunakan untuk tempat mendirikan bangunan suci, dan penduduknya hendaknya bekerja bakti membuat bendungan terusannya sungai tadi, mulai dari air luah, sedang tanah yang di sebelah utara pasar itu untuk kamulan dan pajak yang 3 sawarna emas sebagai sumber biaya pemeliharaan bangunan suci. Selebihnya di jadikan sawah untuk tambahan sawah sima bagi bangunan suci itu.
   1.4. Nama Desa Tua di Malang Selatan
           1.4.1. Menurut Kitab Pararaton
Disebutkan beberapa nama tempat yang ada di sekitar Watak Tugaran, versi Kitab Kitab Pararaton, yang berbunyi pada :
".......... Ken Angrok pergi ke Kebalon, untuk mengungsi ke Turyantapada lalu ke daerah wilayah Bapa; sempurnalah kepandaiannya tentang emas. Ken Angrok pergi dari lingkungan Bapa menuju ke daerah desa Tugaran, Kepala tertua di Tugaran tidak menaruh belas kasian, maka digangguilah orang Tugaran oleh Ken Angrok, arca penjaga pintu gerbangnya diangkat diletakkan di daerah lingkungan Bapa, kemudian dijumpai anak perempuan kepala tertua di Tugaran itu, sedang menanam kacang di sawah kering..........."
           1.4.2. Kitab Negara Kertagama
Disebutkan beberapa nama tempat yang ada di sekitar Watak Tugaran, versi Kitab Negara Kertagama, yang berbunyi pada :
Pupuh XXXV
4. Karena terburu-buru, maka berangkat setelah dijamu oleh bapa asrama, Karena ingat akan giliran untuk menghadap di balai Singasari untuk habis nyekar di candi makam. Setelah itu Baginda mengumbar nafsu kesukaan, untuk menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.
Pupuh XXXVII
7. Paginya Baginda berkunjung ke candi Kidal, sesudah menyembah batara, dilanjutkan malam hari berangkat ke Jajago, habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan, paginya menuju ke Singasari, karena belum lelah berhenti sampai Bureng.
Pupuh XXXVIII
1. Keindahan Bureng sebagai telaga yang bergelombang yang airnya jernih, berwarna kebiru-biruan, di tengah terdapat candi Karang Bermekala, ditepinya berderet rumah panggung, yang penuh perbagai ragam bunga, Tujuan para pelancong untuk penyerap sari kesenangan pemandangannya.
2. Terlewati keindahannya berganti cerita narpati, Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi, Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang, Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
        1.4.3. Prasasti Kemuning

Penemuan dari Prasasti Kemuning berada di lereng selatan Gunung Kawi, tepatnya di dusun Kemuning, desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, prasasti tersebut diketemukan dalam keadaaan tulisannya prasasti dalam keadaan aus, sehingga isinya sulit dimengerti dengan jelas, meskipun begitu isinya masih bisa di difahami, yaitu penetapan status sima (perdikan) pada daerah Lereng selatan gunung Kawi dan masih beruntung angka tahun pembuatan prasasti tersebut masih bisa diketahui, yaitu pada tahun 1178 Çaka atau 1256 M.
Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanegara sewaktu masih menjabat sebagai raja muda (Yuwaraja/Kumararaja) di Kediri. Kertanegara adalah putra dari Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singhasari. Dengan adanya prasasti Kemuning ini, ada gambaran sekarang tentang nama desa Kranggan (Kasuranggan) dan penduduk sudah hidup menetap di daerah lereng selatan gunung Kawi, lalu dijadikan daerah perdikan maksudnya yaitu daerah yang diberi otonomi (swatantra), karena dianggap sudah berjasa atau dianggab mampu untuk mengelola rumah tangga daerahnya sendiri.
1.4. Penemuan Umpak Turus
Umpak Turus ini di temukan di desa Turus, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Jumlah yang saya lihat berjumlah 8 buah dengan rincian :
- Dua umpak ukuran besar,
- Empat umpak berukuran sedang,
- Dua umpak lebih kecil dan
- Satu lingga,
 
Benda tersebut diatas masih terawat baik. Dengan banyaknya jumlah umpak dengan ukuran yang berbeda, saya menduga umpak-umpak berupa "pendopo besar" dan dibelakanya mengalir sumber air yang menuju ke sungai Metro.
  1.5. Penemuan Candi Senggreng (belum digali)  
Candi Senggreng ini telah di temukan oleh penduduk setempat di Desa Turus, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, tepatnya di sumber dekat persawahan tersimpan baik oleh penduduk,
Benda yang di temukan :
1. Arca Dewi Durga yang masih utuh,
2. Gelas batu ukir dan
3. Arca berasal dari perunggu.
4. Candi yang terbenam
Menurut penduduk di sekitar wilayah Tugaran, juga pernah ditemukan patilasan Candi yang sempat dibongkar oleh penduduk, saat itu keadaan candi tersebut masih di dalam lumpur sawah, beberapa penemuan yang sempat diperoleh oleh penduduk dan ditunjukan kepada penulis berupa foto yang terlihat diatas, yang letaknya tidak jauh dari peninggalan berupa pendopo.

  1.6. Keunikan Dusun "Tegaron Kepanjen" secara Administrasi Desa
Tanah bengkok dari dusun Tegaron, desa Panggungredjo, Kecamatan Kepanjen memiliki keunikan yaitu tanah milik dusun dimiliki oleh Desa-desa lain, dalam dua kecamatan yaitu Kecamtan Kepanjen dan Kecamatan Sumberpucung, yang pembagian tanah bengkoknya adalah sebagai berikut, yaitu :
1. Kelurahan Kepanjen, hak tanah bengkok seluas 7 ha (kec. Kepanjen)
2. Kelurahan Cepokomulia, hak tanah bengkok seluas 7.ha (kec. Kepanjen)
3. Desa Ngadilangkung, hak tanah bengkok seluas 6,3 ha (kec. Kepanjen)
4. Desa Dilem, hak tanah bengkok seluas 3,5 ha (kec. Kepanjen)
5. Desa Panggungredjo, hak tanah bengkok seluas 5 ha (kec. Kepanjen)
6. Desa Jenggolo, hak tanah bengkok seluas 4 ha (kec. Kepanjen)
7. Desa Sengguruh, hak tanah bengkok seluas 4 ha (kec. Kepanjen)
8. Desa Talangagung, hak tanah bengkok seluas 5 ha (kec. Kepanjen)
9 Desa Mangunredjo, hak tanah bengkok seluas 3,5 ha (kec. Kepanjen)
10.Desa Mangunrejo, hak tanah bengkok seluas 3 ha (kec. Kepanjen)
11.Desa Trenyang, hak tanah bengkok seluas 3 ha (kec. Sumberpucung)
12.Desa Turus, hak tanah bengkok seluas bersebelahan (kec. Sumberpucung)
13.Desa Senggreng, hak tanah bengkok seluas 2 ha (kec. Sumberpucung)
14.Desa Jatikerto, hak tanah bengkok seluas 2 ha (kec. Sumberpucung)
15.Hutan jati di tepi sungai Metro juga hak, Dinas Kehutanan kabupaten Malang


FOOTNOTE

[1] Sejarah Kabupaten Malang Sejak Prasejarah sampai abad XXI, Hadiah HUT
      Kabupaten Malang ke 1250, tahun 2010, hal 31



BAB 2 : Sumber Data Sejarah


Penelitian ini masih dalam proses pengembangan data... 
karena bukti peninggalan diperkirakan tertimbun tanah, sedalam 3m - 5m, 
semoga bisa segera terkuak keberadaan desa Tugaran ( tegaron )