Sejarah Gunung Kawi


Di ketinggian 2.860 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Dusun Gendoga, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, berdiri Keraton Gunung Kawi, sebuah lokasi yang sarat sejarah dan mitologi. Gunung Kawi sering disebut bersama Gunung Kelud dan Gunung Arjuna sebagai bagian dari rangkaian pegunungan yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah dan kepercayaan masyarakat Jawa kususnya Malang raya.

Lereng Gunung Kawi
Gunung Butak di anak  gunung Kawi
Keberadaan Gunung Kawi tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga menjadi simbol persatuan tradisi lintas budaya. Sejak masa transisi dari Kerajaan Kanjuruhan menuju Medang Kamulyan, kemudian berlanjut ke Jenggolo - Panjalu (Kediri) hingga Tumapel/Singosari, Gunung Kawi diyakini sebagai tempat yang disucikan. Prasasti-prasasti kuno mencatat jejak aktivitas keagamaan yang berlangsung di kawasan ini, mempertegas peran Gunung Kawi sebagai pusat spiritual dan budaya yang penting dalam sejarah Jawa Timur.

Selain itu, Gunung Kawi dianggap sebagai tempat persemayaman roh leluhur, menjadikannya titik ziarah yang dihormati oleh masyarakat setempat. Aura spiritual yang menyelimuti kawasan ini telah melahirkan tradisi yang terus hidup, menghubungkan generasi masa kini dengan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan selama berabad-abad.


Tinjauan dari Arti Kata "Kawi" 
menurut Kamus Bausastra Jawa,

Gunung Kawi bukan sekadar bentangan alam, gunung Kawi adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban, tradisi, dan keyakinan masyarakat Jawa yang terus memberikan inspirasi hingga hari ini.Penulis ingin memperjelas makna kata "Kawi" : 

Bausastra Jawa, yang ditulis oleh W. J. S. Poerwadarminta dan diterbitkan pada tahun 1939, merupakan karya monumental dalam sejarah sastra dan budaya Jawa. Kamus ini bukan sekadar daftar kata dan artinya, tetapi juga cerminan kekayaan bahasa Jawa yang mencakup berbagai aspek kehidupan, tradisi, dan pemikiran masyarakat Jawa pada masa itu.

Sebagai salah satu naskah terpilih, Bausastra Jawa memiliki posisi istimewa dalam dunia sastra Jawa. Karya ini dianggap langka karena diterbitkan pada masa kolonial Belanda dan menjadi acuan penting bagi para peneliti, budayawan, dan pecinta bahasa hingga kini. Melalui kamus ini, Poerwadarminta berhasil merekam ragam bahasa yang digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari kosakata sehari-hari hingga istilah-istilah sastra klasik.

Karya ini juga mencerminkan upaya pelestarian budaya di tengah derasnya arus modernisasi yang mulai masuk ke Nusantara pada awal abad ke-20. Dengan menyusun Bausastra Jawa, Poerwadarminta tidak hanya mengabadikan bahasa Jawa, tetapi juga memperkokoh identitas budaya Jawa di tengah perubahan zaman.

Arti kata 
Kawi  = (S) 1 kw. pangarang, pujangga; 2 (ut. kakawin) kw. karangan, têmbang; 3 kn. têmbung-têmbung kang kanggo ana ing kapujanggan (layang-layang têmbang lsp) ora kaprah dianggo padinan; 4 kn. têmbung Jawa-kuna; di-[x] kw: dikarang, dirumpaka.




1.  Juru Kunci Mbah Giok.


Keraton Gunung Kawi
Keraton Gunung Kawi bukanlah istana megah seperti bayangan umum. Menurutnya, Keraton Gunung Kawi adalah sebuah tempat yang digunakan oleh seorang tokoh pemerintahan dari Mataram Hindu sebagai pusat spiritual. Tempat ini dibangun dengan sederhana menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitarnya.

Cerita turun-temurun dari leluhur Mbah Giok menyebutkan bahwa di Gunung Kawi terdapat sebuah rumah peribadatan sederhana yang digunakan untuk menyampaikan wejangan kepada para muridnya. Bahkan, raja-raja dari sekitar Jawa Timur sering datang ke tempat ini untuk meminta nasihat kepada Empu Sindok ketika menghadapi kesulitan. Demikian cerita yang penulis simpulkan dari kisah panjang yang disampaikan oleh Mbah Giok.

2. Pegawai Perhutani. Bapak Siget

Cerita ini juga dibenarkan oleh Bapak Siget, seorang pegawai Perhutani yang bertugas menjaga hutan di lereng Gunung Kawi. Saat ditemui oleh penulis di rumahnya di Jalan Banurejo  Kepanjen (utara pasar), Bapak Siget mengonfirmasi kisah tersebut yang sama dari keterangannya mbah Giok dan bahkan sempat memberikan sebuah buku tulisan tangan saat masih dinas dan buku tersebut hingga kini masih di simpan oleh penulis.

3. Budayawan Kelahiran Doko-Blitar, Bapak Suryanto 
Candi dilereng Gunung Butak
Dalam kegiatan menelusuri Gunung Kawi, penulis kebetulan menuju ke barat puncak Gunung Kawi, tepatnya di Gunung Butak, dan sempat melihat candi di perkebunan teh Sirah Kencong, Kabupaten Blitar. Saat beristirahat di warung kopi di perkebunan teh tersebut, Bapak Suryanto bertanya kepada penulis, "Di mana puncak Gunung Kawi?" Ternyata, hampir sebagian warga sekitar Gunung Kawi jarang yang tahu dan tidak pernah mendaki ke puncaknya.

Patilasan Tumpukan Batu di Puncak Kawi
Bapak Suryanto kemudian bercerita bahwa jalur menuju puncak Gunung Kawi sangat sulit karena jarang ada orang yang ke sana. Tanpa pemandu, orang bisa tersasar hingga ke puncak Gunung Panderman. Beliau juga menceritakan pengalamannya saat di puncak, pernah melihat tumpukan batu-batu yang disusun seperti gapura, dengan batu-batu besar di sekitarnya membentuk lingkaran seperti pot tanaman. Penulis berniat mengajak beliau kembali ke tempat itu, namun Bapak Suryanto menjawab, "Sudah, wes gak mau saya .... sebab jalannya jauh, cukup sekali saja saya pergi kesana.", sambil menggoyankan tangannya tanda tidak mau.







 
Keraton Gunung Kawi, meskipun sederhana dan jauh dari kemewahan,
telah menginspirasi ajaran banyak raja-raja besar Jawa Timur di Nusantara.











ARTIKEL POPULER

edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo