Cerita Rakyat Malang

Jumat, 03 Juli 2015

Mengangkat Cerita Seni Budaya Lokal
ditulis : Agung Cahyo Wibowo


Cerita Panji adalah sekumpulan cerita pada masa Hindu-Budha di Jawa yang berkisah seputar kisah asmara Panji Asmorobangun dan Puteri Candrakirana (Dewi Sekartaji) yang penuh dengan petualangan sampai akhirnya memerintah di Kerajaan Kadiri. 

Cerita Panji adalah cerita Jawa asli yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah nusantara (Bali, Sunda, Lombok, Kalimantan, Palembang , Melayu) serta di berbagai negara di daratan Asia Tenggara. Hal ini merupakan aspek penting yang perlu disosialisasikan sebagai alternatif cerita wayang yang selama ini hanya menjadi monopoli Mahabarata dan Ramayana yang datang dari India . 

Beberapa kesenian tradisional yang selama ini menggunakan cerita Panji misalnya Wayang Beber (Malang), Wayang Topeng (Pacitan), wayang golek Kediri, wayang thengul (Bojonegoro) , wayang krucil (Nganjuk), Legong Kraton (Lasem), Lutung Kasarung (Jabar) dan banyak kesenian di Bali, Kalimantan, Kamboja dan sebagainya.

Sementara yang berupa fisik, terpahat dalam relief di beberapa candi (punden berundak) di lereng Gunung Penanggungan, Candi Penataran dan peninggalan purbakala di lereng gunung Arjuno. Bahkan, patung Panji pernah ditemukan di Candi Selokelir di lereng Penanggungan. Panji adalah tokoh manusia biasa, yang merupakan Pangeran Jawa dan bukan pahlawan pendatang seperti Rama dan Pandawa. Panji adalah sosok yang piawai berolah seni, seorang Maecenas kesenian Jawa masa lalu. 

Panji acap diceritakan sebagai pemain musik, penari, pemain drama (sendratari) dan penulis puisi. Panji adalah tokoh teladan masa lampau, dan perilakunya merupakan teladan arif dalam mengembangkan lingkungan dengan cara-cara yang sarat dengan nilai ekologis. Keteladanan Panji sebagai seseorang yang dipredikati sebagai pahlawan budaya masa lalu (masa Hindu-Budha) itulah kiranya yang perlu diupayakan untuk dapat ditransformasikan bagi pengembangan kesenian lokal dan pertanian serta pengelolaan lingkungan hidup pada masa kini maupun mendatang.

"Pada acara Sarasehan Ngunggar Greget Seniman, Sastrawan, Budayawan Kabupaten Malang", se Malang selatan yang diselenggarakan oleh masyarakat Kepanjen Malang yang di didukum oleh Paguyuban Java Cultura, yang difasilitasi oleh camat Kepanjen, berkeinginan mewujudkan ibu kota Kabupaten Malang menjadi "Kota Wisata berbasis Seni dan Budaya".

Semoga dukungan dari masyarakat, para pengusaha lokal, utamanya pemerintah bisa memfasilitasi misi kumpulan putra daerah yang punya harapan ikut "mewarnai daerah kelahirnya". dan mudah mudahan  penyingkapan seni budaya lokal tidak selalu terjawab  terlambat, yang paling penting perlunya bersama merapatkan barisan untuk kepentingan bersama, sebagai upaya dalam mengisi seni budaya daerah yang tidak menyimpang dari pakem sejarah daerah terkait.