edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Ekspansi Mataram di Malang

Kamis, 08 Juni 2017

Karya seni : Agung Cahyo Wibowo

Kadipaten Sengguruh menghadapi
Mataram Islam

dikumpulkan dari cerita rakyat asal Malang 
tentang Sepasang Kekasih yang bernama
Raden Ayu Prabaretna dan Raden Panji Pulang Jiwa,
yang dimakamkan di desa Mentaraman Penarukan Kepanjen

Kami mencoba menayangkan cerita dalam bentuk Vidio yang dikemas enak untuk dilihat dan difahami, tentang pengorbanan seorang putri dari kadipaten Sengguruh dan seorang putera Adipati Sumenep. ingin tahu vidionya klik saja gambar dibawah ini. 



Bacaaan Singkat cerita :

Bermula dari kawasan Kadipaten Sengguruh atau sekarang lebih dikenal dengan Kadipaten Malang. Pada saat itu Kadipaten Malang masuk kekuasaan Kerajaan Mataram, oleh mataram telah digolongkan ke dalam “Brang Wetan”, yaitu meliputi wilayah Surabaya, Pasuruan, Kediri, Panaraga, Kedu, Brebek, Pakis, Kertasana, Ngrawa, Blitar, Trenggalek, Tulung, Madiun Caruban dan Malang (Sengguruh) dipimpin oleh seorang Adipati.


Walaupun secara de yure kawasan Malang ditempatkan dalam kekuasaan Mataram, namun dalam pemerintahannya berjalan secara semi-otonom. Saat Sultan Agung wafat, maka penguasa Kadipaten Malang ingin memisahkan diri dengan Kerajaan Mataram, tetapi raja-raja pengganti Sultan Agung masih ingin men-integrasi-kan Kadipaten Malang.

Pusat Pemerintahan Kadipaten Malang saat itu diperkirakan bertempat di Pakisardjo (sekarang dikenal dengan Kecamatan Pakisaji), yang letaknya diantara “Timur Gunung Kawi” dan “barat sungai Andaka (sekarang Sungai Brantas)”. Kadipaten Malang memiliki dua Benteng yang berada di tepi Sungai Brantas, benteng sebelah utara berada di Gunung Buring (Kedung Kandang), sedangkan benteng sebelah selatan berada di “Gunung Kendeng” (sekarang Desa Jenggolo). Kedua benteng tersebut posisinya berada di Sungai Supit Urang (yang artinya berada dipertemuan tiga sungai).

Adipati Ronggo Tohjiwo mempunyai anak perempuan bernama “Putri Proboretno”, dia memiliki paras yang cantik serta memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Adipati Ronggo Tohjiwo berkeinginan untuk melepas kekuasaan Mataram di Kadipaten Malang, sehingga perlu mempunyai laskar yang banyak dan kuat. Adipati Ronggo Tohjiwo Juga berharap mendapatkan panglima perang yang sakti dan mampu memimpin pasukan perang Kadipaten Malang,

Di sisi lain, sejak kecil Putri Proboretno jarang tinggal di Kadipaten Malang, tetapi lebih banyak tinggal di padepokan yang letaknya di lereng Gunung Kendeng. Putri Proboretno adalah sosok putri yang cantik dan cerdas, karena mudah menyerap ilmu yang diajarkan oleh sang guru, bahkan akhirnya dia berhasil diberikan pusaka berupa “selendang sakti” dan keahlian ilmu tombak.

Salah satu Punggawa Kadipaten Malang yang bernama Sumolewo, ingin memperistri Putri Proboretno. Dia adalah seorang punggawa Tinggi yaitu sebagai penguasa “Aris Japanan”, yang mempunyai banyak pasukan setia.

Permasalahan keinginan Sumolewo telah disampaikan kepada gurunya yang bernama Ki Japar Sodik. Sang guru melarang Sumolewo, murid kesayangannya untuk menjadikan Putri Proboretno sebagai istri dan Ki Japar Sodik berpesan, “Jangan sampai kamu menikahi Putri Proboretno, karena nanti kamu akan dikalahkan oleh seorang kasatria yang masih muda, berasal dari Madura, dengan ciri berambut panjang, sakti mandraguna, tidak terkalahkan”. 

Niatan Sumolewo sempat diketahui oleh Adipati Ronggo Tohjiwo, yang akhirnya mengumpulkan patih dan beberapa punggowo kepercayaannya, untuk mengadakan sayembara yang bunyinya, “Barang siapa yang bisa mengalahkan Putri Proboretno pada akhir pertandingan, maka kalau laki-laki akan dijadikan suami, kalau perempuan akan dijadikan saudaranya”.

Informasi tentang sayembara tersebut sempat di dengar oleh Sumolewo, awalnya dia senang, karena merasa akan memenangkan sayembara, akan tetapi ketika mengingat pesan gurunya, maka Sumolewo menjadi was-was.

Sumolewo dengan akal liciknya, mengatasnamakan Kadipaten Malang mendukung pergerakan Mataram, dengan mencegah masuknya “pelarian pemberontak dari Sumenep”.

Akhirnya pasukan Aris Japanan (Sumolewo) mencegat setiap orang Madura yang akan masuk ke Kadipaten Malang (sekarang Kecamatan Lawang) dan mencurigai orang yang mempunyai ciri-ciri seperti yang disebutkan oleh gurunya, orang tersebut akan ditahan atau dibunuh lalu dilempar ke sungai (sekarang disebut : Kali Getih, Kali Sorak).

Raden Panji adalah putra adipati Sumenep, yang datang ke Kadipaten Malang, sebagai seorang pelarian yang menghindari kejaran pasukan Mataram, dengan menyamar sebagai pedagang. Agar tidak dicurigai, maka mereka lewat timur melalui kandang kuda (sekarang Kedung Kandang), pada saat itulah dia mengetahui kalau Adipati Malang mengadakan sayembara. 

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah para pendekar dari segala penjuru daerah, pelaksanaan sayembara berada di luar benteng Buring. Raden Panji mencoba mendekat kerena ingin mengikuti sayembara tersebut.

Pertandingan berlangsung cukup lama, pada puncak pertandingan tinggallah Sumolewo dan Raden Panji, pertempuran antara kedua pendekar sakti tersebut cukup sengit, dan akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji.

Di akhir pertandingan, berhadapanlah Putri Proboretno dengan Raden Panji, pertempuran yang awalnya seimbang, pada akhirnya membuat Putri Proboretno terdesak, dia mencoba kemampuan Raden Panji dengan meloncat lalu memacu kudanya dengan cepat untuk masuk benteng dan segera menutup pintu gerbangnya.

Raden Panji segera mengejar dengan menunggang kuda yang bernama “Sosro Bahu”, dan pintu gerbang yang sudah di tutup, sanggup dibuka oleh Raden Panji dan dia berhasil memenangkan sayembara . (sekarang Kuto Bedah) 

Melihat kemampuan Raden Panji, Adipati Ronggo Tohjiwo merasa puas, apa yang diharapkan telah terwujud, yaitu mendapatkan calon menantu yang handal.

Akhirnya proses pernikahan antara Raden Panji dan Putri Proboretno berlangsung dengan meriah, dihadiri oleh petinggi Kadipaten Malang dan undangan dari mancanegara. 

Perkawinan mereka berlangsung bahagia dan dianugrahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Panji Wulung / Panji Saputra. Pasangan ini tinggal di tempat penaruhan logistik para prajurit (sekarang desa Penarukan), mereka hidup santun pada siapa saja, baik petinggi kadipaten maupun kepada rakyat jelata.

Di sisi lain, Kerajaan Mataram mendapat informasi dari Sumolewo, bahwa Adipati Malang menolak tunduk pada Mataram, dengan tuduhan Adipati Malang telah mendirikan perguruan keprajuritan yang tersembunyi di taman kaputren (sekarang desa Lumbangsari, Kecamatan Bululawang) dipimpin oleh putrinya Proboretno untuk mempersiapkan bala tentara putri. 

Pada saat bersamaan, adipati-adipati dari Brang Wetan ingin melepaskan diri dari kekuasan Mataram. Maka Raja Mataram memerintahkan agar seluruh adipati di Brang Wetan menghadap ke Mataram, tetapi panggilan ini tidak dihiraukan.

Akhirnya Raja Mataram mengirim Pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Surontani (Joko Bodho).

Pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Surontani, bergerak menuju Kadipaten Malang melalui tepi Sungai Brantas Pegunungan Kendeng. Dari benteng tersebut, Tumenggung Surontani memberikan surat kepada Adipati Malang.

Utusan segera menuju ke Kadipaten Malang, kebetulan Adipati sedang tidak berada di tempat, akhirnya utusan menuju ke tempat petugas punggowo kepanjian (sekarang kelurahan Kepanjen). Kebetulan surat dari Mataram tersebut diterima sendiri oleh Putri Proboretno. Setelah membaca surat dari Raja Mataram, tampak Putri Proboretno sangat marah karena dia difitnah telah membuat kekuatan baru tentara perempuan, padahal dia hanya mengajari beberapa cantrik wanita penjaga kaputren, bukan untuk berperang. 

Putri Proboretno ingin menemui Tumenggung Surontani, dan berniat menjelaskan tentang fitnah tersebut, akhirnya Tumenggung Surontani menjelaskan bahwa Raja Mataram telah dilapori oleh Aris Japanan (Sumolewo) yang pada saat itu dalam posisi meminta perlindungan dari Mataram, maka terjadilah perdebatan yang akhirnya Putri Proboretno mengajak bertarung adu kesaktian dengan Tumenggung Surontani.

Tumenggung Surontani sempat sedikit gentar karena “keris sakti” andalannya tidak diperbolehkan untuk membunuh seorang wanita.

Karena Putri Proboretno terus menyerang, maka Tumenggung Surontani terpaksa meladeni. Perkelahian berjalan tidak seimbang akhirnya Tumenggung Surontani berhasil menancapkan kerisnya ke dada Putri Proboretno. Prajurit segera membopong untuk memberi pertolongan.

Di Kadipaten, Adipati Ronggo Tohjiwo mendapat laporan bahwa ada utusan dari Raja Mataram yang membawa surat, dan telah disampaikan di tempat urusan kepanjian, maka adipati segera bergegas berangkat, dan mengajak Raden Panji untuk menyusul putri Proboretno.

Setelah tiba di Benteng Selatan, Adipati dan Raden Panji serta beberapa pasukan melihat Putri Proboretno sudah tergeletak tewas, spontan Raden Panji berteriak sambil mencari Tumenggung Surontani untuk diajak berperang. 

Sementara itu, Putri Proboretno yang sudah meninggal di Makamkan di Desa Penarukan-Kepanjen (sekarang belakang Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang) 

Dengan menunggang kuda “Sosro Bahu”, Raden Panji mencari Tumenggung Surontani sambil berteriak menantang untuk perang tanding, sambil menerjang kumpulan pasukan mataram yang menghadangnya, akhirnya satu demi satu pasukan Mataram tewas.

Bantuan pasukan Kadipaten Malang telah tiba dan ikut menyerbu pasukan Mataram, keadaan yang tidak seimbang membuat pasukan Mataram lari masuk ke dalam Hutan.

Melihat pasukannya banyak yang tewas dan lari ke dalam hutan, maka Tumenggung Surontani langsung menghadang Raden Panji. Perkelahian seru terjadi, “keris sakti” Tumenggung Surontani berhasil mengenai Raden Panji, namun tidak dapat melukainya, melihat itu maka Tumenggung Surontani mundur untuk menyusun kekuatan lagi dalam hutan ditepi Sungai Brantas. 

Raden Panji terus melakukan pengejaran, sampai membuat Tumenggung Surontani terpojok, karena merasa ioni kerisnya sudah hilang, maka dia hanya bisa bertahan dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Raden Panji berhasil membunuhnya, dan Tumenggung Surontani dimakamkan di Kadipaten Malang. (Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung, yang dikenal dengan nama makam Mbah Bodo). 

Raja Mataram telah mendengar berita kematian Tumenggung Surontani dan pengawalnya. Maka untuk membalas kematian bawahannya, diutuslah Tumenggung Alap-alap untuk pergi ke Kadipaten Malang guna menyelesaikan perselisihan. 

Pasukan berjumlah besar yang dikirim Mataram untuk menangani gejolak di Brang Wetan sudah berada di Kadipaten Malang, pasukan beristirahat di Kadipaten Balitar, yang merupakan jalan persimpangan menuju arah Kadipaten Malang dan Kadipaten Surabaya.

Pada saat itu, pimpinan pasukan Mataram sepakat untuk melakukan negoisasi adanya gencatan senjata dan membuat buntu langkah dari Adipati Ronggo Tohjiwo, agar mendukung kepentingan Mataram untuk expansi di Brang Wetan. 

Adipati Malang yang sedang berkabung karena kematian putrinya, dimanfaatkan oleh utusan Mataram untuk menyusun strategi.

Akhirnya, pasukan Mataram menemukan strategi untuk menangkap Raden Panji, dengan cara
  1. Pasukan Mataram membuat panggung hiburan dengan menampilkan putri Mataram yang wajahnya mirip dengan Putri Proboretno.
  2. Perwira Mataram mengundang Raden Panji, untuk meyakinkan bahwa Putri Proboretno belum meninggal dunia.
  3. Membuat jebakan berupa sumur maut di tangga tempat duduk Putri Proboretno palsu.
Pada saat yang telah ditentukan, Raden Panji datang untuk menemui istrinya, yang dianggapnya belum meninggal (jalan yang dilewati sekarang bernama jalan Panji).

Rasa curiga di hati Raden Panji kepada jebakan taktik Mataram langsung sirna, begitu melihat sosok istrinya Putri Proboretno yang sedang duduk diatas panggung. (sekarang desa Panggungrejo)

Raden Panji langsung mendekat menuju “jalan naik ke atas panggung”, dan masuklah Raden Panji ke jebakan lubang sumur maut yang sudah disediakan, secara serentak puluhan prajurit datang menuju sumur maut itu untuk membunuh Raden Panji. 

Raden Panji dimakamkan di dekat makam istrinya yaitu Putri Proboretno (di belakang Kantor Dinas Pendidikan, Desa Penarukan).

Untuk mengenang tak-tik Mataram, maka nama Raden Panji lebih dikenal dengan nama panjangnya Raden Panji Pulang Jiwo, baik itu di Kadipaten Malang ataupun di Kadipaten Sumenep (Raden Panji saat kecil bernama Panji Sulung).

Dengan peristiwa terbunuhnya Raden Panji, maka pemberontakan di Brang Wetan mulai timbul seperti Kadipaten Lumajang, Kadipaten Pasuruan dan Kadipaten Surabaya.

Demikian sekilas cerita sejarah Putri Proboretno dan Raden Panji Pulang Jiwo. Mudah-mudahan cerita ini bisa menginspirasi kita untuk lebih mengenal peninggalan sejarah yang ada di sekitar kita.


     Ingin beli buku cerita  legenda diatas, klik gambar diatas ...