edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Dibaca Legenda Sejarah Kepanjen


Pada Hari Jadi Kabupaten Malang 
ke-1255 tahun, 
Telah ditampilkan foto-foto tempoe doeloe Kabupaten Malang,
sejarah Malang dan legenda sejarah Kepanjen Malang


DPRD Kabupaten Malang telah menggelar acara Rapat "Paripurna Istimewa Hari Jadi Kabupaten Malang yang ke-1255, pada hari sabtu, tanggal 28 November 2015 lalu, acaranya sedikit berbeda dengan  yang sebelumnya,  yang biasanya hanya dihadiri undangan seperti Bupati, Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Malang, Para Komandan Kesatuan TNI, Para Pejabat Sipil dan TNI di Wilayah Kabupaten Malang, Mantan Bupati dan Wakil Bupati Malang serta Mantan Ketua DPRD Kabupaten Malang, Para Pejabat Struktural di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang; Ketua Tim Penggerak PKK, Ketua Dharma Wanita Persatuan, dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Malang, Paguyuban/Istri Pimpinan dan media, sekarang diundang pula :
1. Sesepuh Kepanjen, dan Juru Kunci perawat makam situs
2. Tokoh yang melestarikan seni budaya Kabupaten
3. Dewan Kesenian Kabupaten Malang
4. Tokoh Masyarakat    

karena Kabupaten Malang sedang menggelar pesta demokrasi Pilkada serentak, maka kekosongan pemerintahan Bupati Malang yang telah habis masa jabatannya, diisi oleh seorang Penjabat Bupati Malang, yaitu Ir. Hadi Prasetyo, ME, dilantik pada tanggal 2 November 2015 oleh Gubernur Jatim , Dr, H Soekarwo, beliau yang asli dari Turen tersebut, turut hadir dan memberikan sambutan pada acara tersebut.

Menunggu acara dimulai, para undangan dimanjakan dengan suara musik Sitter juga gamelan, sekelompok seniman yang di datangkan dari Jatiguwi Sumberpucung. Nuansa khas tradisional jawa benar-benar terasa. Sepertinya panitia ingin mengajak semua undangan untuk merasakan aura dan suasana jawa (Malang) tempoe doeloe, mulai dari aroma dupa sampai busana yang dikenakan para pejabat-pejabatnya menggunakan Busana Khas "Malangan". 
Tepat jam 10.15 Wib acara dimulai, dengan dibuka oleh wakil ketua DPRD sebagai pimpinan rapat yaitu Bpk. Siadi, SH. 

Di awali dengan menampilkan foto-foto Tempoe Doeloe yang dimulai dari saat Pendopo Kabupaten ada di Kota Malang, dan sekilas foto-foto tempoe doeloe Kepanjen, Pakisaji dan Sengguruh. Para undangan sempat terbawa oleh suasana yang sakral dan terkesan dengan tampilan foto-foto yang menjadi salah satu bukti sejarah masa lalu.....  

A. Tapak Tilas Kerajaan-Kerajaan di Malang, 
       Diceritakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Malang, Drs Hari Sangko

--------------------bacaan Mulai-------------------------

Assalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.....

Pada kesempatan ini, bertepatan dengan acara peringatan Hari Jadi Ke-1255 Kabupaten Malang Tahun 2015, kami akan mengingatkan kembali pada salah satu pendiri negara kita BUNG KARNO, yang pernah berpesan agar Rakyat Indonesia selalu mengingat  sejarah “Jangan Melupakan Sejarah”
Artinya  jangan sekali-kali kita meninggalkan sejarah,  karena tidak akan ada bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, kalau tidak ada nenek moyang terdahulu.
•    Tidak akan ada cerita Malang, tanpa ada Kerajaan Kanjuruhan…..
•   Tidak akan ada Kerajaan besar di Malang, kalau tidak ada semangat Ken Arok untuk mengalahkan Kerajaan Kediri…..
•   Tidak akan ada Indonesia, jika Majapahit tidak bangkit lewat Sumpah Amukti Palapa  Patih  Gajahmada…..
•   Tidak akan ada Negara Indonesia Merdeka, kalau rakyat Indonesia tidak bersama-sama bangkit melawan penjajah Belanda, Jepang serta Sekutu
•     Dan seterusnya……

Hal itu menunjukkan bahwa, kita tidak bisa lepas dari sejarah masa lalu.
•    Pengungkapan sejarah masa lalu sangat diperlukan oleh bangsa, negara bahkan orang per orang. Dengan mengetahui  sejarah, diharapkan bisa menangkap kearifan lokal/local genius, yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan.
Kearifan lokal akan memperkuat jati diri kita.
•   Suatu tragedi akan terjadi, jika kita apatis terhadap sejarah masa lalu. Mimpi buruk intergnum, suatu kondisi dimana nilai - nilai budaya lama telah ditinggalkan oleh masyarakat, sementara nilai-nilai baru belum ditemukan wujudnya.
Beranjak dari uraian diatas, dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008, tentang “Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Malang dari Wilayah Kota Malang ke Wilayah Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang”, kami mencoba untuk menelusuri jejak asal-usul cerita tapak tilas Sejarah  Kabupaten Malang dimulai dari Kerajaan Kanjuruhan sampai dengan Kerajaan Sengguruh.

----------------------------------------------
Kerajaan Kanjuruhan ...............dan seterusnya
Kerajaan Mataram Kuno Berpusat di Jawa Tengah ..............dan seterusnya
Masa Kerajaan Kediri, Daha Dan Jenggala ...............dan seterusnya
Masa Kerajaan Singosari ...................dan seterusnya
Masa Kerajaan Majapahit .............dan seterusnya
Kerajaan Sengguruh ...................dan seterusnya

----------------------------------------------
Berlatar belakang dari tapak tilas kerajaan-kerajaan di Malang, berikut ini akan diceritakan  sejarah lokal Kepanjen yang sudah menjadi Ibukota Kabupaten Malang dengan berlatar belakang Kerajaan Sengguruh (sekarang lebih dikenal dengan nama Kadipaten Malang)
Cerita Sejarah Putri Proboretno dan Raden Panji Pulang Jiwo, 
digali dari  generasi tua Kepanjen dan sekitarnya, 
yang telah dirangkum dan di bukukan oleh : Agung Cahyo Wibowo.

----------------------------------------------
Bermula dari kawasan Kadipaten Sengguruh atau sekarang lebih dikenal dengan Kadipaten Malang. Pada saat itu Kadipaten Malang masuk kekuasaan Kerajaan Mataram, oleh mataram telah digolongkan ke dalam “Brang Wetan”, yaitu meliputi wilayah Surabaya, Pasuruan, Kediri, Panaraga, Kedu, Brebek, Pakis, Kertasana, Ngrawa, Blitar, Trenggalek, Tulung, Madiun Caruban dan Malang (Sengguruh)  dipimpin oleh seorang Adipati.

Walaupun secara de yure kawasan Malang ditempatkan dalam kekuasaan Mataram, namun dalam pemerintahannya berjalan secara semi-otonom. Saat Sultan Agung wafat, maka penguasa Kadipaten Malang ingin memisahkan diri dengan Kerajaan Mataram, tetapi raja-raja pengganti Sultan Agung masih ingin men-integrasi-kan Kadipaten Malang.

Pusat Pemerintahan Kadipaten Malang saat itu diperkirakan bertempat di Pakisardjo (sekarang dikenal dengan Kecamatan Pakisaji), yang letaknya diantara  “Timur Gunung Kawi” dan “barat sungai Andaka (sekarang Sungai Brantas)”. Kadipaten Malang memiliki dua Benteng yang berada di tepi Sungai Brantas, benteng sebelah utara berada di Gunung Buring (Kedung Kandang), sedangkan benteng sebelah selatan berada di  “Gunung Kendeng” (sekarang Desa Jenggolo). Kedua benteng tersebut  posisinya berada di Sungai Supit Urang (yang artinya berada dipertemuan tiga sungai).
Adipati Ronggo Tohjiwo mempunyai anak perempuan  bernama “Putri Proboretno”, dia memiliki paras yang cantik serta memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Adipati Ronggo Tohjiwo berkeinginan untuk melepas kekuasaan Mataram di Kadipaten Malang, sehingga perlu mempunyai laskar yang banyak dan kuat. Adipati Ronggo Tohjiwo Juga berharap mendapatkan panglima perang yang sakti dan mampu memimpin pasukan perang Kadipaten Malang.

Di sisi lain, sejak kecil Putri Proboretno jarang tinggal di Kadipaten Malang, tetapi lebih banyak tinggal di padepokan yang letaknya di lereng Gunung Kendeng. Putri Proboretno adalah sosok putri yang cantik dan cerdas, karena mudah menyerap ilmu yang diajarkan oleh sang guru, bahkan akhirnya dia berhasil diberikan pusaka berupa “selendang sakti” dan keahlian ilmu tombak.

Salah satu Punggawa Kadipaten Malang yang bernama Sumolewo, ingin memperistri Putri Proboretno. Dia  adalah seorang punggawa  Tinggi yaitu sebagai penguasa “Aris Japanan”,  yang mempunyai banyak pasukan setia.

Permasalahan keinginan Sumolewo telah disampaikan kepada gurunya  yang bernama Ki Japar Sodik. Sang guru melarang  Sumolewo, murid kesayangannya untuk menjadikan Putri Proboretno sebagai istri dan Ki Japar Sodik berpesan, “Jangan sampai kamu menikahi Putri Proboretno, karena nanti kamu akan dikalahkan oleh seorang kasatria yang masih muda, berasal dari Madura, dengan ciri berambut panjang, sakti mandraguna, tidak terkalahkan”. 

Niatan Sumolewo sempat diketahui oleh  Adipati Ronggo Tohjiwo, yang akhirnya mengumpulkan patih dan beberapa punggowo kepercayaannya, untuk mengadakan sayembara yang bunyinya, “Barang siapa yang bisa mengalahkan Putri Proboretno pada akhir pertandingan, maka kalau laki-laki akan dijadikan suami, kalau perempuan akan dijadikan saudaranya”.

Informasi tentang sayembara tersebut sempat di dengar oleh  Sumolewo,  awalnya dia senang, karena merasa akan memenangkan sayembara, akan tetapi ketika mengingat pesan gurunya, maka Sumolewo menjadi was-was.

Sumolewo dengan akal liciknya, mengatasnamakan Kadipaten Malang mendukung pergerakan Mataram, dengan mencegah masuknya “pelarian pemberontak dari Sumenep”.

Akhirnya pasukan Aris Japanan (Sumolewo) mencegat setiap orang Madura yang akan masuk ke Kadipaten Malang (sekarang Kecamatan Lawang) dan mencurigai  orang yang mempunyai ciri-ciri seperti yang disebutkan oleh gurunya, orang tersebut akan ditahan atau dibunuh lalu dilempar ke sungai  (sekarang disebut : Kali Getih, Kali Sorak).

Raden Panji adalah putra adipati Sumenep, yang datang ke Kadipaten Malang, sebagai seorang pelarian yang menghindari kejaran pasukan Mataram, dengan menyamar  sebagai pedagang. Agar tidak dicurigai, maka mereka lewat timur melalui kandang kuda (sekarang  Kedung Kandang), pada saat itulah dia mengetahui kalau Adipati  Malang mengadakan sayembara. 

            Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah para pendekar dari segala penjuru daerah, pelaksanaan sayembara berada di luar benteng Buring. Raden Panji mencoba mendekat kerena ingin mengikuti sayembara tersebut.

Pertandingan berlangsung cukup lama, pada puncak pertandingan tinggallah Sumolewo dan Raden Panji, pertempuran antara kedua pendekar sakti tersebut cukup sengit, dan akhirnya  dimenangkan oleh Raden Panji.

         Di akhir pertandingan, berhadapanlah Putri Proboretno dengan Raden Panji, pertempuran yang awalnya seimbang, pada akhirnya membuat Putri Proboretno terdesak, dia mencoba kemampuan Raden Panji dengan meloncat lalu memacu kudanya dengan cepat  untuk masuk benteng  dan segera menutup pintu gerbangnya.

Raden Panji segera mengejar dengan menunggang kuda yang bernama “Sosro Bahu”, dan pintu gerbang yang sudah di tutup, sanggup dibuka  oleh Raden Panji dan dia berhasil memenangkan sayembara . (sekarang Kuto Bedah) 

           Melihat kemampuan Raden Panji, Adipati Ronggo Tohjiwo merasa puas, apa yang diharapkan telah terwujud, yaitu mendapatkan calon menantu yang handal.

Akhirnya proses pernikahan antara Raden Panji dan Putri Proboretno berlangsung dengan meriah, dihadiri oleh petinggi Kadipaten Malang dan undangan dari mancanegara.

Perkawinan  mereka berlangsung bahagia dan dianugrahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Panji Wulung / Panji Saputra. Pasangan ini tinggal di tempat penaruhan logistik para prajurit (sekarang desa Penarukan), mereka hidup santun pada siapa saja, baik petinggi kadipaten maupun kepada rakyat jelata.

Di sisi lain, Kerajaan Mataram mendapat informasi dari Sumolewo, bahwa Adipati Malang menolak tunduk pada Mataram, dengan tuduhan Adipati Malang telah mendirikan perguruan keprajuritan yang tersembunyi di taman kaputren (sekarang desa Lumbangsari, Kecamatan Bululawang) dipimpin oleh putrinya Proboretno untuk mempersiapkan bala tentara putri. 

Pada saat bersamaan, adipati-adipati dari Brang Wetan ingin melepaskan diri dari kekuasan Mataram. Maka Raja Mataram memerintahkan agar seluruh adipati di Brang Wetan menghadap ke Mataram, tetapi panggilan ini tidak dihiraukan.

Akhirnya Raja Mataram mengirim Pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Surontani (Joko Bodho).

Pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Surontani, bergerak menuju Kadipaten Malang melalui tepi Sungai Brantas Pegunungan Kendeng.  Dari benteng tersebut,  Tumenggung Surontani memberikan surat kepada Adipati Malang.

Utusan segera menuju ke Kadipaten Malang, kebetulan Adipati sedang tidak berada di tempat, akhirnya  utusan  menuju ke tempat petugas punggowo kepanjian (sekarang kelurahan Kepanjen). Kebetulan surat dari Mataram tersebut diterima sendiri oleh Putri Proboretno. Setelah membaca surat dari Raja Mataram, tampak Putri Proboretno sangat marah karena dia difitnah telah membuat kekuatan baru tentara perempuan, padahal dia hanya mengajari beberapa cantrik wanita penjaga kaputren, bukan untuk berperang. 

Putri Proboretno ingin menemui Tumenggung Surontani, dan berniat menjelaskan tentang fitnah tersebut, akhirnya Tumenggung Surontani menjelaskan bahwa Raja Mataram telah dilapori oleh Aris Japanan (Sumolewo) yang pada saat itu dalam posisi meminta perlindungan dari Mataram, maka terjadilah perdebatan yang akhirnya Putri Proboretno mengajak bertarung adu kesaktian dengan Tumenggung Surontani.

Tumenggung Surontani sempat sedikit gentar karena “keris sakti” andalannya tidak diperbolehkan untuk  membunuh seorang wanita.

Karena Putri Proboretno terus menyerang, maka Tumenggung Surontani terpaksa meladeni. Perkelahian berjalan tidak seimbang akhirnya Tumenggung Surontani berhasil menancapkan kerisnya ke dada Putri Proboretno. Prajurit segera membopong untuk memberi pertolongan.

Di Kadipaten, Adipati Ronggo Tohjiwo mendapat laporan bahwa ada utusan dari Raja Mataram yang membawa surat, dan telah disampaikan di tempat urusan kepanjian, maka adipati segera bergegas berangkat, dan mengajak Raden Panji untuk menyusul putri Proboretno.

Setelah tiba di Benteng Selatan, Adipati dan  Raden Panji serta beberapa pasukan melihat  Putri Proboretno sudah tergeletak tewas, spontan Raden Panji berteriak sambil mencari Tumenggung Surontani untuk diajak berperang. 

Sementara itu, Putri Proboretno yang sudah meninggal di Makamkan di Desa Penarukan-Kepanjen (sekarang belakang Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang) 
 Dengan menunggang kuda “Sosro Bahu”, Raden Panji mencari Tumenggung Surontani sambil berteriak menantang untuk perang tanding, sambil menerjang kumpulan pasukan mataram yang menghadangnya, akhirnya satu demi satu pasukan Mataram tewas.

Bantuan pasukan Kadipaten Malang telah tiba dan ikut menyerbu pasukan Mataram, keadaan yang tidak seimbang membuat pasukan Mataram lari masuk ke dalam Hutan.

Melihat pasukannya banyak yang tewas dan  lari ke dalam  hutan, maka Tumenggung Surontani langsung menghadang Raden Panji. Perkelahian seru terjadi, “keris sakti” Tumenggung Surontani berhasil mengenai Raden Panji, namun tidak dapat melukainya, melihat itu maka Tumenggung Surontani mundur untuk menyusun kekuatan lagi dalam hutan ditepi Sungai Brantas. 

           Raden Panji terus melakukan pengejaran, sampai  membuat Tumenggung Surontani terpojok,  karena merasa ioni kerisnya sudah hilang,  maka dia hanya bisa bertahan dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Raden Panji berhasil membunuhnya, dan Tumenggung Surontani dimakamkan di Kadipaten Malang. (Desa Ngebruk Kecamatan Sumberpucung, yang dikenal dengan nama makam Mbah Bodo).  

 Raja Mataram telah mendengar berita kematian Tumenggung Surontani dan pengawalnya. Maka untuk membalas kematian bawahannya, diutuslah  Tumenggung Alap-alap untuk pergi ke Kadipaten Malang guna menyelesaikan perselisihan. 

           Pasukan berjumlah besar yang dikirim Mataram untuk menangani gejolak di Brang Wetan sudah berada di Kadipaten Malang, pasukan beristirahat di Kadipaten Balitar, yang merupakan jalan persimpangan menuju arah Kadipaten Malang dan Kadipaten Surabaya.

Pada saat itu, pimpinan pasukan Mataram sepakat untuk melakukan negoisasi adanya gencatan senjata dan membuat buntu langkah dari Adipati Ronggo Tohjiwo, agar mendukung kepentingan Mataram untuk expansi di Brang Wetan. 
Adipati Malang yang sedang berkabung karena kematian putrinya, dimanfaatkan oleh utusan Mataram untuk menyusun strategi.

Akhirnya, pasukan Mataram menemukan strategi untuk menangkap Raden Panji, dengan cara
1.  Pasukan Mataram membuat panggung hiburan  dengan menampilkan putri Mataram yang wajahnya mirip dengan Putri Proboretno.
2.  Perwira Mataram mengundang Raden Panji, untuk meyakinkan bahwa Putri Proboretno belum meninggal dunia.
3.  Membuat jebakan berupa sumur maut di tangga tempat duduk Putri Proboretno palsu.
Pada saat yang telah ditentukan, Raden Panji datang untuk menemui istrinya, yang dianggapnya belum meninggal (jalan yang dilewati sekarang bernama jalan Panji).

Rasa curiga di hati Raden Panji kepada jebakan taktik Mataram langsung sirna, begitu melihat sosok istrinya Putri Proboretno yang sedang duduk diatas panggung. (sekarang desa Panggungrejo)

Raden Panji langsung mendekat menuju “jalan naik ke atas panggung”, dan masuklah Raden Panji ke jebakan lubang sumur maut yang sudah disediakan, secara serentak puluhan prajurit datang menuju sumur maut  itu untuk membunuh Raden Panji. 

Raden Panji dimakamkan di dekat makam istrinya yaitu Putri Proboretno (di belakang Kantor Dinas Pendidikan, Desa Penarukan).
Untuk mengenang tak-tik Mataram, maka nama Raden Panji lebih dikenal dengan nama panjangnya Raden Panji Pulang Jiwo, baik itu di Kadipaten Malang ataupun di Kadipaten  Sumenep (Raden Panji saat kecil  bernama  Panji Sulung).

Dengan  peristiwa terbunuhnya Raden Panji, maka pemberontakan di Brang Wetan mulai timbul seperti Kadipaten Lumajang, Kadipaten Pasuruan dan Kadipaten Surabaya.

Demikian sekilas cerita sejarah Putri Proboretno dan Raden Panji Pulang Jiwo. Mudah-mudahan cerita ini bisa menginspirasi kita untuk lebih mengenal peninggalan sejarah yang ada di sekitar kita.

Kami mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Malang, melalui stake holder terkait, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan, Kantor Arsip dan Perpustakaan, dll......diharapkan dapat mengeksplor potensi sejarah yang ada di wilayah Kabupaten Malang, bekerjasama dengan tokoh pemuda, sejarawan, saksi-saksi sejarah, guna menggali dan mengkaji lebih mendalam cerita dan nilai-nilai sejarah. Sehingga ke depan ada dokumen-dokumen resmi, yang bisa dipelajari, dijadikan referensi anak cucu kita di masa-masa yang akan datang.

Sebelum saya tutup, akan saya perkenalkan terlebih dahulu beberapa sesepuh kepanjen dan sekitarnya, yang menjadi salah satu sumber informasi pokok cerita sejarah Putri Proboretno dan Raden Panji Pulang Jiwo.
1.  Mbah No, sebagai sumber informasi dan Juru Kunci Makam Raden Panji Pulang Jiwo dan Putri Proboretno; 
2.  Mbah Supani, sebagai sumber informasi dan Juru Kunci Makam Tumenggung Surontani (Mbah Bodho);
3.   Mbah Brintik, sebagai sumber informasi, seorang sastrawati, dan sesepuh Kepanjen;
4.   Mbah Atmo Admodjo, sebagai narasumber dan sesepuh Desa Senggreng;
5.   Mbah Muslimin, sebagai narasumber dan sesepuh Kepanjen;
6.   Mbah Sa’un, sebagai narasumber dan Desa Jenggolo;
7.   Mbah Yohanes Suwoyo, sebagai penulis Majalah “Penyebar Semangat” dari Malang;
8.   Agung Cahyo Wibowo, sebagai pengumpul data, informasi dan penulis;

Di undang pula :
-   putra Alm Bpk. Evri Hendika Kurniawan, pencipta lagu Jawa (Malang Pancen Rame), dari Kecamatan Dampit
-   cucu Alm. Mbah Karimun, pencipta Tari Topeng Malangan, dari Padepokan “Panji Asmoro Bangun” yang berasal dari Dukuh Kedungmonggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji.
-   Pelestari  Topeng Malangan "Padepokan Mangun Dharmo",   dari Kecamatan Tumpang,

dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Mereka-mereka ini yang ikut berperan dalam pelestarian dan pengembangan budaya khususnya yang ada di Kabupaten Malang.
Sekian dan terimakasih, mohon maaf apabila ada kesalahan, kekeliruan dalam penulisan dan hal-hal yang kurang berkenan.
Wabillahitaufiqwalhidayah
Wassalammu’alaikum Wr.Wb
--------------------bacaan Selesai--------------------------

2. Sambutan Penjabat Bupati Malang 
Isi sambutan berkisar upaya agar peningkatan perekonomian di Kabupaten Malang dan ide-ide mengatasi kemacetan jalan, terutama di bag utara.  
Penguatan peran yang di awali dari desa-desa untuk melaksanakan Program Nasional "Ayo Kerja" untuk meningkatkan perekonomian, pembangunan yang berujung pada kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Malang.
Prestasi Kabupaten Malang yang bisa meraih penghargaan Piala Adipura yang ke-8 kali untuk kategori Kota Kecil Kepanjen, juga perlu dipertahankan oleh semua komponen masyarakat, tidak hanya Pemerintah Kabupaten Malang saja. 

sambutan yang disajikan sangat ringan, sederhana dan mudah dipahami, tentunya dengan penyampaian yang santai (diselingi dengan humor ringan).  
setelah  Rapat Paripurna Istimewa selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah.... 
Semoga saja Forum seperti ini bisa berkelanjutan untuk menjalin silaturahmi, antara pemerintah dan semua komponen lapisan masyarakat.....
Bravo DPRD Kabupaten Malang!!!!!