edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Perkembangan Sejarah Islam di Malang

Rabu, 09 Januari 2019


Pembuktian keberadaan bangunan Gumuk Berundak, Panggung yang bercorak Hindu-Buddha dan Mushola Kecil di Kota Kepanjen Malang, dimungkinkan berkaitan dengan Proses Islamisasi di Wilayah Malang, khususnya dikerajaan Sengguruh.

oleh : Agung Cahyo Wibowo

"MISTERI BANGUNAN GUMUK BERUNDAK"



"Tanah Gumuk berundak"  yang terbuat dari batu bata merah, diperkirakan memiliki ukuran tinggi 3 meter x 7 meter x 7 meter Gambaran dari bangunan gumuk menurut cerita beberapa saksi mata adalah sebagai berikut : 
"Merupakan bentuk bangunan terlihat seperti gundukan tanah yang tinggi, yang ditumbuhi oleh rumput liar, disalah satu sisi sebelah barat tampak sebuah tangga berukuran sekitar 90 cm untuk jalan naik keatas, jika kita sudah berada diatas lalu menghadap kebawah akan terlihat sebuah lubang kecil ukuran badan manusia dan didalamnya akan tampak ruang gelap, pengap dan menakutkan"

Menurut pemilik tanah  "bangunan misteri" tersebut,  dirobohkan sekitar tahun 1979 disebabkan  karena ketidaktahuannya tentang manfaat bangunan situs tersebut dan posisi situs tersebut tepat ditengah-tengah tanah miliknya. Kesan pemilik tanah tentang situs tersebut  batu berundak yang bisa dilewati manusia.

Menurut dari Putra Mantu dan Cucu laki-laki dari Bapak Kasim (alm) tentang selain situs tanah berundak adalah situs berupa "Bangunan Panggung" yang berbentuk tumpukan batu bata berbentuk bangunan segi empat, yang menurut saksi mata diduga sebuah bangunan panggung, letak situs ini disebelah barat situs tanah berundak dan sejajar dengan situs bangunan panggung tadi ada bangunan lagi yaitu "bangunan rumah kecil" yang diduga bangunan  "Langgar kecil" yang digunakan untuk pengimaman saat sholat berjamaah.

Menurut keterangan pemilik tentang situs bangunan panggung tersebut di rusak  lalu digunakan untuk menanam singkong pada tahun 1985-an, sedangkan untuk situs bangunan langgar dirobohkan  dibangun sebuah Tower Telkom, pada tahun 2000-an. 

Ditambah informasi oleh Ibu Asminin seorang mantan anggota DPR Kabupaten Malang (usia 76 tahun), diawali saat beliau masih sekolah di Sekolah Rakyat (SR)  Klenjeran Ardiredjo Kepanjen sekitar tahun 1954 (sekarang SDN Ardiredjo 1 Kepanjen), saat itu sekolahannya sangat berdekatan sekitar 150 meter  sebelah utara situs-situs diatas dan bisa dikatakan satu halaman dengan situs, hanya terhalangan pagar tanaman yang tumbuh tidak tinggi
Beliau menyampaikan tentang letaknya situs diatas, menurut gurunya,  "Tempat itu (Situs) adalah makam Raja atau makam seorang Panji". diperkuat oleh Bapak Gatot (usia 70 tahun), putra seorang veteran pejuang 45, bernama Bapak Siren, tinggalnya dijalan Sawunggaling Kepanjen, saat dia menonton bioskop mengetahui ada 2 makam, posisinya disekitar situs tanah berundak, makam tersebut ada "dua nisan" letaknya berdekatan dan berjajar, tampak tidak terawat.

Keterangan lain dari ahli waris dan orang kampung sebelah, bahwa di sekitar area tempat situs tersebut juga pernah ditemukan beberapa "gerabah kuno", "arca", "pecah belah" dan "patung emas". diarea bekas gedung bioskop, kini tempat tersebut sedang dibangun gudang.

Catatan :
Agar lebih jelas tentang letak dan masa penemuan situs kuno, perlu penulis jelaskan tentang sejarah kegunaan tempat berupa tanah yang sangat luas, berupa tanah lapang adalah sebagai berikut :
  1. Sebelum Belanda datang (dalam penelitian)
  2. Jaman Belanda dihuni oleh priyayi dan menempati rumah besar, rumah besar ada 3 bangunan kembar, letaknya berjajar ditepi jalan raya "Pecinan Klenjeran", arah Malang-Blitar sekarang.
  3. Saat sudah Merdeka tanah pekarangan luas dibeli Bapak Kasim (alm) dengan cara bertahap. Setelah itu gedung Belanda dihalamannya digunakan usaha "Bioskop Misbar", sedangkan gedung Belanda digunakan sekolahan "SR Klenjeran 1 Ardirejo Kepanjen" sampai tahun 1972 lalu gedung kosong akhirnya digunakan "Gedung Bioskop", dikenal dengan "Bioskop Pak Kasim".
  4. Saat bioskop sudah tidak produktif oleh pemiliknya lalu dijual (sekitar tahun 2000-an), sedangkan tanah yang bersitus tidak dijual oleh ahli warisnya sampai sekarang.
Demikian penjelasan tentang informasi bukti-bukti peninggalan sejarah yang pernah ada di Kota Kepanjen. Bagi orang  yang asli lahit dikota Kepanjen atau sekitarnya, yang usia lebih dari 60 tahun (pada tahun 2019) atau yang pernah tinggal pada tahun 1950 sampai 1980  atau sering menonton "Bioskop milik Bapak Kasim" bisa dipastikan akan mengetahui fisik situs tersebut, tetapi saat itu tidak ada perhatikan tentang situs tersebut karena  dianggap tidak penting.
Sehubungan informasi diatas oleh penulis bisa jadi hal penting dan perlu diangkat  sebagai bahan penelitian, guna nantinya bisa bermanfat bagi warga Kepanjen khususnya dan sangat perlu diketahui oleh Generasi yang akan datang.

Aamiin....  

A. Latar Belakang

Manusia dalam kehidupannya selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat terjadi secara cepat atau pun lambat, sehingga kalu dilihat dari kacamata ilmu sejarah akan mencoba untuk merekonstruksi kehidupan manusia masa lampau, menyusun sejarah kebudayaan, dan menggambarkan proses perubahan kebudayaan.

Dalam upaya untuk memahami manusia dan budaya masa lalu yang pernah terjadi di wilayah Malang dilakukan dengan mempelajari segala sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan aktivitas manusia masa lalu.

Menurut pendapat beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh Arkeologi  tercatat adanya sejumlah tinggalan arkeologis bercorak Hindu-Buddha yang sudah mengalami transformasi bentuk dan lokasi. Transformasi bentuk yang dilakukan terhadap tinggalan arkeologis tersebut berupa dirusak, dibalik, dan diubah fungsinya. Sedang transformasi lokasi berupa pengumpulan tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut pada satu tempat.

Sehubungan keterangan diatas penulis mencoba untuk mengumpulkan Data Primer yang berkenaan dengan informasi masyarakat Kepanjen tentang kebenaran situs tanah berundak, bangunan panggung dan bangunan langgar kecil (tempat beribadah orang islam) dan penemuan benda-benda kuno di Jalan Raya Ahmat Yani Ardirejo, Kepanjen, Kabupaten Malang.
 

B. Ruang Lingkup Masalah 
  1. Berdasarkan Keterangan diatas penulis akan mencari dan menelisik kebenaran cerita tentang bangunan Gumuk berundak, Panggung yang bercorak Hindu-Buddha dan Mushola Kecil di Kota Kepanjen Malang
  2. Dampak apa yang ditimbulkan pada masyarakat saat itu dengan adanya bangunan Gumuk berundak, Panggung bercorak yang Hindu-Buddha dan Mushola Kecil di Kota Kepanjen Malang
C. Batasan Masalah
  1. Penulis  hanya mencari dan menelisik kebenaran cerita tentang bangunan Gumuk berundak, Panggung yang bercorak Hindu-Buddha dan Mushola Kecil di Kota Kepanjen Malang
  2. Dampak-dampak yang akan timbulkan pada masyarakat saat itu dengan adanya bangunan Gumuk berundak, Panggung yang bercorak Hindu-Buddha dan Mushola Kecil di Kota Kepanjen Malang
 D. Manfaat Penelitian

Bisa mengetahui kebenaran tentang bangunan Gumuk berundak, Panggung yang bercorak Hindu-Buddha dan Mushola Kecil di Kota Kepanjen Malang, sehingga bisa mengetahui kebenaran tentang Dampak-dampak yang akan timbulkan pada masyarakat saat itu diera peralihan agama Hindu-Budha ke agama Islam.

E. Metode Penelitian 
  1. Heruestik
  2. Kritik
  3. Interprestasi
  4. Historigrafi