edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Kapan Kepanjen ada peradapan..?

Jumat, 04 Juni 2010




judul :
Keberadaan Pemerintahan Watak Tugaran
pada masa Raja Medang Kamulan

(oleh : Agung Cahyo Wibowo)


A.  Latar Belakang
Berdasarkan penemuan beberapa prasasti juga berita asing dari India dan Cina. Data tersebut dapat diketahui bahwa Kerajaan Medang Kamulan terletak di muara Sungai Brantas, dengan ibu kotanya bernama Watan Mas. Kerajaan ini didirikan oleh Empu Sendok, setelah ia memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Wilayah kekuasaan Medang Kamulan pada masa pemerintahan Empu Sendok mencakup :
  1. Nganjuk di sebelah barat
  2. Pasuruan disebelah timur
  3. Surabaya di sebelah utara
  4. Malang di sebelah Selatan[1]

Dalam perkembangan selanjutnya wilayah kekuasaan kerajaan Medang Kamulan mencakup hampir seluruh seluruh wilayah Jawa Timur[2]

Empu sendok adalah raja pemerintah pertama yang memerintah Mataram Kuno di Jawa Timur, sebagaimana diketahui, pemerintahan Raja Rakai Sumba Dyah Wawa di Mataram berakhir dengan tiba-tiba. Menurut Van Bammelen, pada masa itu telah terjadi letusan Gunung Berapi yang sangat dasyat sehingga sebagian puncak dunung lenyap dan terjadi pergeseran lapisan tanah kearah barat daya. Akibatnya terjadi lipatan yang antara lain membentuk gunung Gendol karena gerakan tanah tersebut membentur pada lempengan Gunung Menoreh. Letusan yang disertai gempa bumi, banjir lahar hujan abu dan batu-batuan sangat mengerikan,. Bencana ini merusak ibu kota Medang dan banyak daerah pemunkiman di Jawa Tengah. Hal ini yang menjadi alasan perpindahan ibu kota kerajaan dari “Medang ke Tamwlang di wilayah Kerajaan Kanjuruhan” yang terletak di Jawa Timur (Bochari, 1975: 15-16). Sesuai dengan landasan kosmogoni kerajaan, maka kerajaan baru ini dianggap sebagai dunia baru, dengan tempat-tempat pemujaan yang baru dan pemerintah oleh dinasti baru pula. Sebab itu, walaupun Pu Sendok  sebenarnya masih berasal dari Dinasti Shailendra sesuai dengan kedudukannya sebelumnya sebagai Rakai Halu dan Rakai Hino[3]  pada masa pemerintahan Rakai Layang dan Rakai Sumba yah Wawa, namun ia dianggap pendiri dinasti baru, yakni Dinasti Isana (Soemadio, 1984:155).

Menurut artikel dari ahli Arkeolog/Sejarawan asal Malang, bapak Dwi Cahyono, bahwa setelah pusat pemerintahan Mataram direlokasi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur — tepatnya di Tamwlang, yang berlokasi pada lembah utara hulu Brantas, yakni di kampung Tembalangan yang terletak di Kota Malang, oleh Empu Sindok, jumlah Watak di wilayah Malang Raya pun dimekarkan menjadi :
1.    Watak Hujung,
2.    Watak Kanjuron
3.    Watak Tugaran.
Pada masa pemerintahan selanjutnya jumlah watak tersebut kian ditambah, sehingga Kerajaan Kanuruhan tinggal menjadi satu diantara tiga Watak di Malang Raya.

Kegiatan Kerajaan Kanuruhan berubah untuk pola kepemerintahannya, perintah raja ditujukan kepada Rakyan Mapati yang terdiri dari Rakai Halu dan Rakai Wka. Perintah tersebut untuk dilaksanakan oleh Rakai Kanuruhan. Dalam hal ini Rakaia tau Sangat Momahumah sudah tidak disebut sebagai pelaksana perintah, namun mereka tetap memegang jabatan sebagai pengurus rumah tangga raja, watak Kanuruhan menjadi lebih menciut dan posisi birokrasi Rakryan Kanuruhan sangat sestrategis (Wibowo, 1979:34-35). Pergeseran jabatan ini akan menjadi indikasi pada jaman selanjutnya, yakni mengapa tiba-tiba jabatan Rakai Kanuruhan menjadi penting pada masa pemerintahan Raja Airlangga dan sesudahnya.

Sebenarnya Jabatan Rakai Kanuruan sudah muncul didalam prasasti Kubu-kubu 827 saka, yaitu pada masa pemerintahan Raja Balitung. Pada saat itu prasasti Kubu-kubu  di keluarkan untuk memberi  hadiah wilayah sima, karena telah berjasa dalam kegiatan penyeberangan ke wilayah timur untuk menaklukkan Kerajaan Bantan (Bali).

Dengan keterangan diatas adanya perkembangan politik pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan yang pada masa Empu Sendok telah membagi kekuasaanya menjadi tiga watak, yakni Watak Hujung, Watak Kanjuron dan Watak Tugaran, keterangan tempat tersebut masih perlu diteliti keberadaanya, saya akan memulai dengan :

Keberadaan Pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan

Dengan adanya penelitian tersebut maka akan diketahuinya keberadaan pemerintahan Watak Tugaran pada masa raja Medang Kamulan dan dampak yang terjadi dengan adanya pemerintahan tersebut.

Dan penelitian ini bisa menambah sejarah panjangnya wilayah ibu kota Kabupaten Malang, bisa menambah jati diri tentang tentang asal usul daerah yang sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang  dan  tidak diragukan lagi. 


B.   Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian
  1. Berdasarkan Latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, penulis akan mengungkap perkembangan tentang keberadaan pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan.
  2. Dampak  apa yang ditimbulkan dengan adanya keberadaan pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan….?
C.    Batasan Masalah.
Penulis mencoba membatasi dalam merumuskan masalah yaitu hanya akan mengungkap tentang :
1.     Perkembangan keberadaan pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan
2.     Dampak  yang ditimbulkan dengan adanya keberadaan pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan.

D.   Manfaat Penelitian.
Maafaat dari penelitian akan mengungkap perkembangan tentang keberadaan wilayah dan pemerintahan dari Watak Tugaran dimasa Raja Medang Kamulan dan dampak  yang ditimbulkan dengan adanya keberadaan pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan, yang menurut saya akan bisa diketahui tempat di sekitar Malang Raya.

E.   Metodologi Penelitian
     Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu :
      a) Heruistik
Pada tahap heuristik dikumpulkan sumber-sumber sejarah berupa dokumen,  buku dan sumber-sumber internet. Untuk melengkapi sumber tertulis dilakukan tulisan dan wawancara dengan nara sumber :
    • Dwi Cahyono :  Arkeolog dari Universitas Malang
    • Nara Sumber dari sesepuh wilayah Malang Selatan
b)   Kritik
Setelah sumber-sumber ditemukan dilakukan verifikasi terhadap terhadap sumber dengan cara membandingkan sumber yang satu dengan sumber yang lain.

c)    Interpretasi
Tahap selanjutnya adalah interprestasi yaitu memberi makna pada sumber sejarah yang telah diverifikasi kemudian sumber tersebut dihubungkan satu sama lain untuk memperjelas makna yang ada.

d)   Historiografi
Tahap terakhir adalah historiografi yakni menuliskan kisah sejarah tentang Keberadaan Pemerintahan Watak Tugaran pada masa Raja Medang Kamulan berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam ilmu sejarah

1.7.    Sistematika Penulisan
BAB 1.     Pendahuluan
                           1. Latar Belakang, 
                           2. Rumusan Masalah, 
                           3. Batasan Masalah, 
                           4. Tujuan dan Manfaat Penulisan, 
                           5. Metode Penelitian 
                           6. Kajian Pustaka
                           7. Sistematika Penulisan

BAB 2.      Keberadaan Pemerintahan Watak Tugaran
Membahas tentang keberadaan pemerintahan dengan data-data pendukung yang bisa digunakan sebagai bukti dan pendukung data guna melakukan pengidentifikasian tentang  keberadaan pemerintahan watakTugaram.

Bab 3      Dampak Kebijakan Medang Kamulan dengan Watak Tugaran
                Membahas tentang dampak kebijakan apa yang akan terjadi 
                pada kehidupan sosial pemerintahan di Watak Tugaran pada 
                masa Raja Medang Kamulan

           Bab 4        Penutup



[1]   Dikeluarkan oleh Empu Sendok sebuah Prasasti Turyyan sekarang di Turen
       (tahun 929 masehi), yangmenyebutkan ibu kota pertama kerajaan Mataram 
       Kuno berpusat di Tamwlang
[2]   Sejarah untuk SMA Kelas XI, Program Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga, tahun 2006, hal  29
[3]  Jabatan Rakai Hino adalah jabatan tinggi yang diperuntukkan  bagi putra-putra 
      raja dan putra mahkot didalam pemerintahan Kuno.