edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Cerita Leluhur

Kamis, 24 Maret 2011

DARMOREDJO
( Sesepuh Kepanjen Malang )
   

Pendahuluan
Perang Diponegoro, adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jenderal De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin Pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.

Pangeran Diponegoro menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dan selama perang, dibantu sebanyak 15 dari 19 pangeran. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Dan sisa-sisa pasukan Diponegoro melarikan diri ke segalah kota yang ada di Jawa. Salah satu kelopok pasukan Diponegoro lari kearah timur lewat arah Kadipaten Balitar dan kearah Gunung Kawi untuk menuju Kadipaten Singosari atau Kadipaten Sengguruh.

Sedangkan posisi Kompeni sudah menguasai ketiga Kadipaten tersebut dalam masa kejayaan Mataram Islam Kompeni mulai tahun 1768 di daerah Kadipaten Singosari merambat kadipaten Sengguruh, setelah dari duatempat berhenti sesaat diteruskan lagi kedaerah Bang Wetan

Akhirnya beberapa saat sambil menunggu waktu yang tepat untuk menuju daerah timur atau Bang Wetan, karena Malang dianggap daerah yang tidak aman.

Berkaitkan dengan perjalan sejarah diatas penulis ingin memaparkan  tentang
"Sejarah Tokoh Lokal Kepanjen" 
berdasarkan beberapa saksi hidup, adalah sebagai berikut : 



Mbah Cangga Singo

Bapak dari Mbah Buyut Puteri

Sebelum mengetahui anak-turun dari keluarga Darmoredjo, kami coba cerita tentang mbah cangga Singo bapak berasal dari “Kutho Gedhe” Yogjakarta. Saat datang ke Kepanjen-Malang beliau sebagai seorang pelarian dari perang Jawa dijaman Diponegoro dengan  Kompeni Belanda setelah tahun 1825 masehi.
Sebelum datang ke Kepanjen mbah Cangga Singo bersembunyi di dalam hutan daerah Balitar, bersama teman seperjuangan yaitu  Imam Supardjo (Ahmad Yakin) untuk tempat persembunyian   sekarang dikenal sebagai desa Bumiaji Balitar.
Mbah canggah Singo saat itu ditugaskan sebagi pimpinan pasukan didampingan oleh temannya Ahmad Yakin sebagai ahli siasat perang. Setelah bersembunyi dihutan beberapa saat lamanya mbah cangga Singo pergi ke arah timur, untuk membawa pengaruh kepada masyarakat Jawa tentang perjuangan dalam melawan pemerintah yang "pro-kompeni Belanda". Daerah yang dituju antara lain daerah Karangkates, daerah Blimbing-Sumbermanjing, daerah Sengguruh yang akhirnya lama bersembunyi di Kepanjen-Malang, di timur sungai Metero untuk membabat tanah di Kepanjen sebelah barat.
Untuk menutupi jati dirinya maka beliau menyamar sebagai rakyat jelata, sehingga yang kami ketahui hanya nama panggilan samaran “Darmoyudan” atau ”Darmobrojo”, untuk nama aslinya penulis masih belum mengetahuinya. Sedikit cerita tentang kehidupan canggah Singgo yaitu mempunya kemampuan beladiri yang tinggi, sehingga apabila berhadapan dengan musuhnya  hatinya akan gemetar ketakutan.
Mbah canggah Singo menikah dengan mbah canggah putri yang konon berasal dari kota Kediri (masih kemungkinan). Dari pernikahan beliau hanya mempunyai satu putri yang bernama Larasati (ganti nama, sampai sekarang disebut mbah buyut putri "Darmosati").
Mbah canggah Singo meninggal dunia sebelum tahun 1900 dalam usia tua, dan dimakamkan sekarang jalan punten Kepanjen yang merupakan “makam pertama di Kepanjen barat”, sedangkan  dengan mbah canggah putri sebelum meninggal pulang ke Kediri dan meninggal dunia disana, untuk makamnya sampai sekarang kami belum mengetahui.


Mbah buyut Darmoredjo

Cerita tentang mbah buyut Darmoredjo dan mbah cangga Singo sama-sama pelarian perang Diponegoro, saat dalam pelarian tersebut mbah buyut Darmoredjo masih berusia belia. Supaya tidak diketahui oleh Kompeni Belanda mbah buyut Darmoredjo menyamar menjadi rakyat biasa.
Kemampuan mbah buyut Darmoredjo yang dimiliki selain ilmu perang atau beladiri mempunyai ketrampilan pertukangan ini terlihat dari beberapa karya perabot rumah yang ditinggalkan di rumah punden, selain itu juga terampil dalam ilmu pertabiban dan membuat minuman jamu tradisional, kemampuan ini bisa diketahuai dari pekerjaan anak-anaknya, misalnya : Mbah putri Arbining, mbah putri Katri sampai ke cucunya pandai meramu obat, mbah kakong Dharmowiyata sebagai  guru tempo dulu pada masa Belanda,

Mbah buyut Darmoredjo sering berada di tempat tinggal mbah canggah Singgo, untuk menjaga, mengantar tokoh penting Mataram yang ada disekitaran gunung Kawi,  gunung  Semeru, kegiatan ini sebagai cara untuk membahas soal penting untuk menanamkan   perjuangan rakyat melawan kompeni Belanda

Dengan seringnya mbah buyut kakong Darmoredjo bersama mbah cangga Singo dalam perjuangan, akirnya  dipercaya dan dinikahkan dengan putrinya bernama Larasati, puteri kelahiran Kepanjen dengan mbah buyut kakong Darmoredjo kelahiran dari kota Demak.

Dan setelah pernikahan  maka mbah canggah Singgo dan mbah Buyut Darmoredjo tinggal bersebelahan di Kepanjen, sekarang menjadi  jalan Anjasmoro dan gang Pande Kepanjen, mbah canggah Singgo meninggal diusia tua, nama beliau setelah "perangan jawa" dikenal dengan nama “Singo Tomporedjo”, perjuangan beliau masih diteruskan oleh mbah buyut Dharmoredjo sambil bekerja menjadi orang kepercayaan/penasehat pribadi dari Wedono pertama Sengguruh dengan bekerja senagai "kusir", selain itu juga ditugaskan untuk memugar tempat tinggal dan pendopo  Wedono Sengguruh sekitar 1890-an.
Mbah buyut kakong Darmoredjo mempunyai  8 anak, dengan 7 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, sepengetahuan saya mereka  tersebar  di daerah Jawa Timur. Anak-anak mbah Buyut Darmoredjo saat itu tidak ada yang diijinkan menjadi pegawai bentukan dari penjajah  Belanda,  tetapi telah diajari untuk  usaha mandiri. yaitu menjadi pedagang, guru dan tabib.

Mbah buyut kakong Darmoredjo meninggal dunia pada usia tua sekitar awal abad 20 dan letak makam mbah buyut kakong "Darmoredjo" berdekatan dengan "Mbah Canggah Singo" berada di barat rumah beliau (200 m). Sekarang  menjadi Makam Umum Kepanjen Barat. Ditempat itu akhirnya dijadikan makam keluarga dan di sebalah barat makam keluarga telah diwakafkan untuk dijadikan  makam umum masyarakat kota Kepanjen, sekarang menjadi jl. Punten Kepanjen. ...............(klik)



-->

Nara Sumber dari Keluarga


Bapak Pitono bin Sudarmo binti Rupiah 
(umur saat wawancarah : lebih dari 70 tahun)
hubungan Kel. :  Cucu - Keluarga Dalam
Sumber Info     : Ibu Rupiah
ceritanya sebagai berikut.
  • "bahwa Mbah buyut singo mempunyai ilmu kesaktian, salah satunya, kalau marah kekuatan membuat lawanya takut tak berdaya".
  • tambah lagi, Buyut Darmoredjo dan Canggah Singgo sering mendapat tamu dari orang asing, yang bukan berasal dari Kepanjen, kemungkinan teman seperjuangannya dulu ".
  • Buyut Darmoredjo mempunyai wajah lancap berwibawaannya,  orangnya sabar dan suka memberi.

Bapak Sumardiatmodjo bin Abdulah bin Lastri 
(umur saat wawancarah : lebih dari 75 tahun) 
Hubungan : Cucu - Keluarga Luar (cucu mantu)
Sumber info : Mbah Lastri (Ibunya)
ceritanya sebagai berikut.
  • Hubungan keluarga Kepanjen Darmoredjo masih ada erat dengan  Buyut Putri Lastri istri Wedono pertama Sengguruh di Kepanjen (anak Breh Kerto wedono tebasan Tumpang),  beliau tidak mempunyai anak dengan istri pertamanya, akhirnya menikah lagi dan mempunyai anak. Buyut putri dipanggil "Ibu Sepuh" makamnya di penarukan. 
  • Hubungan dengan Makam Jenggolo - Sengguruh. tentang Riwayat keluarganya Dharmoredjo ini masih ada hub. dengan makam Mbah Rekso. Keris Pusaka yang dimiliki kedua keluarga dari keluarga Tumpang dan Keluarga Kepanjen, mempunyai ciri dan bentuk yang sama. 
  • Buyut Tumpang ini memberi warisan berupa Doa Salam yang ditujukan kepada yang hidup dan Gaib. Ilmu ini diberikan oleh Wali Songo”. Do'a Salam tersebut masih dihapal oleh beliau. Ada keris yang dibawah oleh keluarga Mudjiono Ronodiwiryo (Alm), cucu mantu yang tinggal di Kepanjen, karena  dianggap mampu membawanya. 

Ibu Sustina bin Saleh Martoutomo binti Rukmini
(umur saat diwawncari : lebih dari 75 tahun)
hubungan Kel. :  Cucu - Keluarga Dalam
Sumber Info     : Mbah Rukmini, Budhe Mukti - alm.(kakak), Bulik Suwarsini -Alm. (adik)
ceritanya sebagai berikut.
  • "Keluarga Darmoredjo ini masih ada hubungan dengan mbah-mbah di Sengguruh, karena waktu kecil yang saya tahu keluarga kepanjen sering nyekar ke Makam umum di Jenggolo atau Sengguruh".
  • Penulis juga sempat tahu tentang cerita budhe Mukti istri dari Petinggi Kastam yang tinggal di Gunung Kawi, tapi sayang beliau tidak mempunyai keturunan, sehingga sumber infonya terputus.

Larasati bin Admodiardjo binti Arbining (almarhum) bahwa 
(umur saat wawancarah : lebih dari 65 tahun
hubungan Kel. : Cucu - Keluarga Dalam
sumber Info     : Mbah Arbining (Ibunya)
ceritanya sebagai berikut. 
  • Bulek Tatik ini adalah cucu Buyut yang menempati rumah punden
  • "Mbah Darmo kalau keluar rumah maksudnya keluar untuk berjuang bekal yang dibawah adalah nasi 'Karak' (nasi kering) dan air putih.

Karyadi bin Darmowiyoto binti Mujilah
(umur saat diwawncari : lebih dari 75 tahun
hubungan Kel. :  Cucu - Keluarga Dalam
sumber Info     : Mbah Mujilah (Ibunya)
ceritanya sebagai berikut. 
"Mbah Darmo atau buyut Singo (agak lupa) diceritakan, masih ada hubungan silsilah leluhur dari Mataram yang "lembar tulisan" diketahui dirobek-robek, karena saat itu takut diketahui oleh penjajah Belanda tentang  identitasnya".

Bambang putra ragil dari wedono pertama dengan istri ke dua
(umur saat diwawncari : lebih dari 90 tahun)
hubungan Kel. :  -
Sumber Info     :  Bambang 
ceritanya sebagai berikut.
  • "Pak Bambang putera dari istri kedua Wedono pertama Sengguruh di Kepanjen dan  saat itu sudah meninggal pada tahun 1926, beliaunya masih balita". Beliau sering mendengar cerita ibunya bahwa, nama mbah Singo adalah seorang yang disepuhkan di kawedanan Sengguruh dan mbah buyut Darmoredjo sebagai pengawal pribadi untuk kegiatan di luar kantor..
edit akhir  Tertanggal 8/2015