KISAH LELUHUR KEPANJEN

💏











Pada mulanya, Belanda sering menelan kekalahan dalam pertempuran melawan pasukan Diponegoro. Namun, pada tahun 1827, Belanda mengubah strategi perangnya dengan menggunakan sistem benteng yang sangat kuat, sehingga membuat pasukan Diponegoro terjepit dan terdesak. Pada tahun 1829, ketika Kyai Maja ditangkap, Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyusul tak lama setelahnya. Kemudian, pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang, dan Pangeran Diponegoro bersiap untuk menyerah dan melakukan perjanjian. Namun, Belanda mengkhianati perjanjian tersebut dengan menangkap Pangeran Diponegoro dan mengasingkannya ke Manado, diikuti dengan penangkapan dan pengejaran para pangeran yang mendukung perang Jawa. Sebuah tragedi yang menyedihkan dari sejarah negeri ini....






Penggalian data ini bertujuan untuk menelusuri jejak kehidupan Cangga dan Buyut kami.

Cara yang dilakukan adalah melalui wawancara langsung dengan sesepuh keluarga serta orang-orang yang memahami riwayat hidup beliau. Namun, penggalian ini dapat dikatakan terlambat, karena sebagian besar informasi hanya diperoleh dari generasi ke-4 (bapak-ibu) dan generasi ke-3 (mbah), yang pada saat itu masih hidup dan aktif dalam pertemuan keluarga besar.

Dari keterangan kedua generasi tersebut, diketahui bahwa nama Cangga Singo Prawiroyudha atau Buyut Darmoredjo bukanlah nama asli sejak kecil, melainkan julukan yang diberikan oleh teman-temannya ketika mereka berpindah tempat untuk menghilangkan jejak perjuangan melawan penjajah Belanda.

Harapan penulis, melalui penggalian data ini, dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang asal-usul dan perjalanan hidup beliau, meskipun masih terdapat keterbatasan informasi. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan generasi ke-3 (mbah), yang ketika ditanya oleh anak-anaknya hanya berpesan, “Sssstt, mboten pareng tangglet asmane mbah ya… bahaya.”



Cangga  Singo 









Semangat Raden Mas Antawirya dalam menegakkan syariat Islam, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Diponegoro setelah dewasa, diperkuat dengan bergabungnya seorang tokoh agama dari Surakarta yang bernama Kyai Maja ke dalam pasukan Gua Selarong. Keikutsertaan Kyai Maja memiliki pengaruh yang sangat besar karena beliau memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. Selain Kyai Maja, perjuangan Diponegoro juga didukung oleh Raden Tumenggung Prawiradigda atau Bupati Gagatan dan Sunan Pakubuwono VI.

Pemerintahan keraton yang dipegang oleh Patih Danureja dan Residen Belanda pada awalnya menjadi pemicu perang Jawa 1825-1830. Meskipun terjadi penangkapan terhadap Pangeran Diponegoro, yang oleh Belanda dianggap dapat meredakan peperangan di wilayah Jawa Tengah, semangat perlawanan melawan penjajah tidak surut. Bahkan, perlawanan semakin meluas dengan cara bersembunyi, menyusun kekuatan, dan menyerang Belanda saat pertahanan sedang lengah, dengan menggunakan pasukan kecil agar serangan bisa dilakukan secara mendadak dan bersembunyi.

Perang yang semakin meluas dan luasnya area perang membuat Belanda merasa tidak aman dan mengalami pembengkakan biaya perang. Untuk menghadapi perang yang semakin sulit, Belanda akhirnya perlu mengangkat serdadu pribumi, yang dikenal dengan istilah Londo Blangkonan atau Londo Gosong, dalam jumlah yang besar. Selain itu, Belanda juga perlu menambah persenjataan yang lebih modern serta membangun benteng pertahanan dan meningkatkan logistik, yang semuanya memerlukan biaya yang besar. Akhirnya, pemerintah Kompeni Belanda mengalami kebangkrutan di sektor keuangan akibat perang yang terus berlanjut dan biaya yang semakin membengkak

=> peta dibuat tahun 1874 - 1880 <=

Mengapa Cangga Singgo tinggal di Kepanjen-Sengguruh ..?
 
 
lanjut cerita mbah yang saat itu sudah berusia 67 tahun, 
 
Berada di perbatasan antara Balitar dan Sengguruh, tepatnya di sungai Supit Urang, sungai Brantas, dan sungai Lahor, Canggah Singo dan pasukannya berhenti di sebuah perkampungan kecil yang disebut Sumberpucung. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Blimbing - Sumbermanjing Kulon. Ternyata, di daerah ini banyak pendukung Diponegoro, dan Belanda mengalami kesulitan dalam mendeteksi pasukan Diponegoro karena letaknya di tengah hutan lebat dan masih banyak binatang buasnya.

Setelah tinggal beberapa saat, Cangga Singgo dan beberapa teman melanjutkan perjuangannya menuju ke pusat keramaian di wilayah Sengguruh, yakni di Kepanjen. 

Cangga Singo tiba di Kepanjen setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kompeni Belanda. Sang pangeran yang berani itu ditipu dalam perundingan di mana ia dijanjikan pembebasan bagi pasukan yang telah ditawan. Namun, Belanda justru mengkhianati janjinya dan memenjarakan Pangeran Diponegoro. 

Akibatnya, pasukan Diponegoro, termasuk Cangga Singo yang merupakan pasukan inti dari Keraton Sultan Hamengkubuwana III, juga terancam ditangkap dan dipenjarakan. Pasukan tersebut akhirnya diperintahkan untuk menyelamatkan diri dengan meminta perlindungan di Kadipaten sekutunya yang berada di selatan lereng Gunung Kawi.

Dengan seringnya Kompeni Belanda melakukan penangkapan disertai dengan pembunuhan, pejuang Sabillilah segera menyesuaikan diri dengan menggunakan sistem pertahanan "menghindari, bersembunyi, menghimpun kekuatan, dan menyerang saat musuh lengah". 

Selama masa persembunyian ini, Cangga Singo mendapat perlindungan dari seorang kyai sepuh yang memimpin padepokan tua bernama "Tunggul Wulung". Padepokan tua ini terletak di antara timur sungai Metro-Kepanjen dan barat sungai Sukun-Kepanjen. Mereka tinggal di dalam gubuk sederhana dekat sumber Metro. Daerah tersembunyi ini cukup efektif untuk persembunyian karena musuh harus melewati sungai dan hutan yang sangat lebat untuk masuk ke wilayah ini.

Sebagai seorang yang pernah dipercaya memimpin pasukan Mataram, tentunya Cangga Singo sudah dibekali kemampuan sebagai seorang tilik sandi serta kemampuan mengatur strategi dan mengoordinir perlawanan. Saat awal kedatangan beliau, pertempuran antara pasukan pribumi dengan pasukan Belanda di tepi Brantas dekat garnisun/benteng masih terjadi. Pasukan Belanda berada di Benteng utara sungai Brantas, sedangkan pasukan Pribumi berada di selatan Brantas. Kadangkala juga terjadi korban yang meninggal, meskipun dalam jumlah kecil..
 


Karena dianggap mumpuni dan mendukung perjuangan pribumi Jawa, Cangga Singo sering diminta oleh sesepuh padepokan untuk mendampingi mereka dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh penting di Sengguruh. Pertemuan-pertemuan rahasia dengan teman seperjuangan asal Yogyakarta juga sering dilakukan dengan koordinator yang berada di Gunung Kawi, Pakisaji, Sengguruh, Wagir, Kendalpayak, Sumbermanjing, Turen, Kebalen, lereng Gunung Semeru, dan Balitar. (area bekas perjuangan Trunojoyo dan pernah tinggal bersembunyi di desa Sutojaya, Pakisaji)

Tugas penting untuk menginventarisasi kekuatan dan menyusun strategi melawan Kompeni Belanda dipercayakan pada Cangga Singo. Gelar "Singo" lebih dikenal oleh orang sekitarnya daripada nama asli sejak kecilnya.

Gelar jabatan "Singo" ini dianggap sebagai "seorang pemimpin pemberontakan" yang pasti akan dihukum mati jika tertangkap oleh serdadu Kompeni Belanda, namun Cangga Singo tetap menjalankan tugasnya dengan tulus dan penuh keberanian. Pertempuran untuk melawan Belanda selalu dilakukan dengan jangkauan yang semakin melebar, seperti memberi bantuan pasukan dari daerah lain atau menyerang benteng pertahanan Belanda di Utara Sungai Berantas, sekarang dikenal Celaket - Malang.

Setelah tinggal beberapa tahun di Kepanjen, Cangga Singo berkenalan dengan seorang perempuan yang tinggal di sekitar padepokan dan tidak lama kemudian menikah untuk membangun rumah tangga dan tinggal di sekitar timur Sungai Sukun Kepanjen. Dalam pernikahannya, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama 👉 Larasati. 

Nama putri tunggalnya, "Larasati," menurut arti dalam bahasa Jawa adalah  (bênêr), (gêndhewa - ati resik) yang berharap putrinya memiliki  perilaku yang selaras antara pikiran, tujuan, dan kebenaran dikehidupan.  

Pada tanggal 8 Januari 1855, seluruh pejuang Sabilillah terkejut mendengar kabar bahwa Pangeran Diponegoro telah wafat di Benteng Rotterdam, tokoh yang dianggap sebagai "jimat" atau simbol perjuangan melawan Belanda. Dengan adanya kabar tersebut, perjuangan semakin melemah dan sisa-sisa pasukan serta para pangeran banyak yang melarikan diri ke kota-kota yang dianggap aman. Hal ini membuat Belanda lebih mudah untuk memperluas ke wilayah pedalaman, khususnya Malang, dengan cara yang tidak loyal pada pemerintahan Belanda atau hanya bersifat lokal.

Para bangsawan Eropa, khususnya Belanda, semakin mencengkeram wilayah Jawa dengan menjalankan taktik perang "De Vide in Imper", yang lebih dikenal dengan politik adu domba antara bangsawan seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta.

Dalam masa pelarian, Cangga Singo menyamar menjadi seorang "petani kebun" dan berjanji untuk menutup identitas diri agar tidak dikenali orang lain. Tugas khusus yang diberikan oleh Kesultanan Jogjakarta terputus karena situasi. 

Sedikit gambaran tentang kemampuan beladiri yang dimiliki Cangga Singgo adalah beliau cerdik berwawasan, kreatif, dan memiliki ilmu bela diri yang pilih-tanding. Menurut keterangan salah satu cucunya yang rumahnyadekat  dari tempat tinggal Cangga Singo, yaitu jika berhadapan dengan satu atau beberapa lawan tanding, beliau menggunakan suaranya yang dikeraskan untuk mengertak lawan, sehingga hati lawan tanding yang berhadapan akan gemetar ketakutan, baru menggunaklan jurus-jurus yang mematikan dan membahayakan  serangan lawan tanding. Cerita lanjutnya tentang kehidupan rumah tangga canggah Singo bahwa, beliau sering bepergian beberapa minggu untuk keluar dengan cara menyamar sebagai tukang cari kayu dihutan. 

Oh.. ya 
Rumah keluarga Cangga Singo terletak di timur sungai Sukun, Kerpanjen, yang pada waktu itu belum memiliki nama jalan dan kini menjadi Gang Pande Kepanjen. Menurut beberapa keterangan dari sesepuh keluarga, rumah Cangga Singo sering dikunjungi oleh tamu yang sedang menyamar dan tinggal di sana untuk beberapa waktu. Jika mereka menginap untuk jangka waktu yang lebih lama, mereka akan disarankan untuk tinggal di padepokan.

Menurut keterangan beberapa cucu keluarga, "canggah putri Singo" meninggal dunia lebih dulu dalam usia tua, sedangkan "canggah kakong Singo" diperkirakan meninggal dunia sebelum tahun 1890 dalam usia tua juga. Keduanya kemudian dimakamkan di Makam Keluarga yang terletak di Jalan Punten, Kepanjen-Malang. Sampai meninggal dunia nama asli canggah Singo tidak dikenal, tetapi ada satu cucu pernah mendengar nama lanjutannya yakni "Singo Prawiranyuda" 



Setelah Kompeni Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, pemerintahan Belanda semakin menekan para penguasa dan bangsawan pribumi agar tidak menentang pemerintahan penjajah Belanda. Jika mereka berani melanggar, maka akan menerima sanksi berat atau hukuman mati. Dalam situasi perang yang belum berhenti, Belanda curiga pada semua pangeran yang tinggal di sekitar pesisir pantai utara Jawa Tengah. Oleh karena itu, Belanda telah melakukan penyebaran mata-mata dan melakukan blokade di sekitar tempat tinggal pangeran yang dicurigai.
Sebelum membahas buyut Darmoredjo sebaiknya kita ketahui dulu fase gelombang para pelarian pasukan Diponegoro ke kadipaten Sengguruh, yakni :
- Gelombang pertama saat Diponegoro belum ditangkap.
- Gelombang kedua saat Diponegoro tertangkap (1830)
- Gelombang ketiga saat Diponegoro meninggal (1855)

Dengan mengetahui fase tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Buyut Darmoredjo telah berhasil menghindari penangkapan oleh Kompeni Belanda dengan pergi ke daerah pedalaman, tepatnya di lereng Gunung Kawi, untuk meminta perlindungan kepada "saudara sepuh dari leluhur". Kedatangannya diperkirakan sebelum Pangeran Diponegoro dan Kyai Modjo wafat, yaitu sekitar tahun 1840-1850.

Mengapa Buyut Darmoredjo Tinggal di Kepanjen..? 
 
Dengan didampingi oleh abdi yang bernama mbah "Gudang" sekalian dan "saudara laki-lakinya", buyut Darmoredjo memiliki dukungan dan perlindungan yang kuat dari orang-orang terdekatnya juga sangat penting dalam menjalankan perjuangan melawan kedholiman penjajah.

Dalam perjalanannya menuju Bang Wetan rombongan kecil tersebut menyamar sebagai rakyat biasa, mereka melewati jalur sungai dan pegunungan untuk menghindari mata-mata kompeni, setelah sampai di sekitar wilayah Tulungagung akhirnya rombongan kecil tersebut berhenti dan tinggal beberapa saat untuk berfikir dan mencari informasi, dimana kira-kira tempat yang bisa dipakai untuk bersembunyi, akhirnya mereka mendapat informasi yaitu :

Pertama : Wilayah Ngantang-Penaggungan, dan Kepanjen-Sengguruh merupakan tempat yang aman dan banyak digunakan sebagai tempat persembunyian oleh orang-orang yang anti Kompeni Belanda.

Kedua : Belanda berhasil menguasai wilayah utara Sungai Brantas, termasuk Singosari, Lawang, Bangil, dan Pasuruan. Mereka kemudian membangun kembali benteng pertahanan di bukit Celaket yang dihuni oleh beberapa orang Belanda dan ratusan serdadu bayaran dari orang-orang pribumi. Wilayah tersebut tetap berada di bawah kendali Sultan Surakarta (Solo) yang pada saat itu pro-Kompeni Belanda.


Ketiga : Setelah terbentuknya pemerintahan Karisidenan Pasuruan, pada awal abad ke-18, pemerintahan Ketemenggungan pun didirikan. Pada awalnya, pemerintahannya hanya dipimpin oleh seorang Patih. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, pemerintahan tersebut akhirnya dipimpin oleh seorang Tumenggung keturunan Cina dari keluarga Han (dinasti). Kantor Ketemenggungan saat itu berlokasi di Kota Lama, tempat Ketemenggungan saat itu terletak di selatan Kuil-Klenteng Malang sekarang.

Setelah mengetahui informasi diatas akhirnya rombongan kecil ini membagi dua kelompok, yaitu kelompok Buyut Darmoredjo menuju arah 👉 "bukit Selorejo wilayah Sengguruh" dan kelompok lainnya menuju arah "bukit Selorejo wilayah Ngantang" 
(sumber terlampir), menurut mereka bukit Selorejo adalah bukit terjal yang tidak berpenghuni dan sering digunakan sebagai benteng pertahanan alam.



Mungkin karena seringnya buyut Darmoredjo bersama cangga Singo dalam perjuangan melawan penjajah Belanda di Malang, akhirnya mbah Darmorejo  dipercaya dan dinikahkan dengan putrinya bernama 👩 Larasati, (kelahiran di Kepanjen) dan  👨 Buyut Darmoredjo (kelahiran dari kota Demak).

Buyut Darmoredjo dan buyut Larasati dikaruniai : delapan anak, yaitu 👧 tujuh anak perempuan dan 👦 satu anak laki-laki. Menurut informasi keluarga kepada penulis, putra-putri mbah Darmoredjo semua tinggal di wilayah Malang dan buyut Darmorrejo berpesan, bahwa anak-anaknya tidak diizinkan menjadi pegawai kadipaten, karena saat itu masih dianggap bentukan Belanda, dengan konsekwensi putra-putrinya diajari mandiri dengan diberi ilmu pedagang, guru, dan tabib (peracik jamu).


Jejak sejarah Buyut Darmoredjo dikenal sebagai sosok multi-talenta yang memadukan ilmu keprajuritan dengan kecakapan praktis. Beliau tidak hanya terampil dalam tata gerak prajurit dan menunggang kuda, tetapi juga memiliki keahlian sebagai ahli pertukangan kayu serta seorang tabib (pengobat tradisional). Kombinasi kemampuan ini mencerminkan sosok pejuang-masyarakat yang mandiri pada masanya.
Kaitan Sejarah dan Kesaksian Nilai sejarah senjata ini diperkuat oleh kesaksian Ibu Titik Sri Endahwati, yang pernah melihat langsung pusaka tersebut tersimpan rapi dalam peti di bawah tempat tidur dan keris tertempel di tembok kamar tidur. Keberadaan pusaka ini menjadi simbol perlindungan fisik maupun spiritual, terutama mengingat peran strategis keluarga dalam sejarah lokal salah satunya kisah Kapten Matasim yang pernah lolos dari berondongan peluru Belanda saat melakukan patroli di wilayah Kepanjen.











Lampiran : 
Sumber dari Keluarga Dekat









ARTIKEL POPULER

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO
PILIH JUDUL DIBAWAH INI :