💏
Untuk memudahkan pemahaman alur cerita sejarah leluhur, berdasarkan penelusuran kesaksian keluarga, terjadi eksodus besar-besaran laskar Diponegoro ke wilayah Timur. Peristiwa ini berdampak pada perpindahan mereka menuju rimbunnya hutan di lereng Gunung Kawi, yang kemudian dijadikan sebagai benteng pertahanan terakhir saat pemerintah kolonial Belanda mulai memperluas kendali administratifnya ke wilayah pedalaman Malang.
Setelah Perang Jawa dianggap selesai oleh pihak Belanda, pemerintahan Residen semakin memperoleh wewenang yang luas. Kekuasaan ini mencakup bidang administrasi, pemerintahan, peradilan, hingga kepolisian, sehingga memperkuat kendali kolonial atas wilayah tersebut,
Dalam bidang peradilan, perkara besar ditangani di tingkat keresidenan, sedangkan perkara kecil diselesaikan di tingkat kabupaten.
Penggalian data ini bertujuan untuk menelusuri jejak kehidupan Cangga dan Buyut kami.
Cara yang dilakukan adalah melalui wawancara langsung dengan sesepuh keluarga serta orang-orang yang memahami riwayat hidup beliau. Namun, penggalian ini dapat dikatakan terlambat, karena sebagian besar informasi hanya diperoleh dari generasi ke-4 (bapak-ibu) dan generasi ke-3 (mbah), yang pada saat itu masih hidup dan aktif dalam pertemuan keluarga besar.
Dari keterangan kedua generasi tersebut, diketahui bahwa nama Cangga Singo Prawiroyudha atau Buyut Darmoredjo bukanlah nama asli sejak kecil, melainkan julukan yang diberikan oleh teman-temannya ketika mereka berpindah tempat untuk menghilangkan jejak perjuangan melawan penjajah Belanda.
Harapan penulis, melalui penggalian data ini, dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang asal-usul dan perjalanan hidup beliau, meskipun masih terdapat keterbatasan informasi. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan generasi ke-3 (mbah), yang ketika ditanya oleh anak-anaknya hanya berpesan, “Sssstt, mboten pareng tangglet asmane mbah ya… bahaya.”
Cangga Singo
Semangat Raden Mas Antawirya dalam menegakkan syariat Islam, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Diponegoro setelah dewasa, diperkuat dengan bergabungnya seorang tokoh agama dari Surakarta yang bernama Kyai Maja ke dalam pasukan Gua Selarong. Keikutsertaan Kyai Maja memiliki pengaruh yang sangat besar karena beliau memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. Selain Kyai Maja, perjuangan Diponegoro juga didukung oleh Raden Tumenggung Prawiradigda atau Bupati Gagatan dan Sunan Pakubuwono VI.
Pemerintahan keraton yang dipegang oleh Patih Danureja dan Residen
Belanda pada awalnya menjadi pemicu perang Jawa 1825-1830. Meskipun
terjadi penangkapan terhadap Pangeran Diponegoro, yang oleh Belanda
dianggap dapat meredakan peperangan di wilayah Jawa Tengah, semangat
perlawanan melawan penjajah tidak surut. Bahkan, perlawanan semakin
meluas dengan cara bersembunyi, menyusun kekuatan, dan menyerang Belanda
saat pertahanan sedang lengah, dengan menggunakan pasukan kecil agar
serangan bisa dilakukan secara mendadak dan bersembunyi.
Perang yang semakin meluas dan luasnya area perang membuat Belanda
merasa tidak aman dan mengalami pembengkakan biaya perang. Untuk
menghadapi perang yang semakin sulit, Belanda akhirnya perlu mengangkat
serdadu pribumi, yang dikenal dengan istilah Londo Blangkonan atau Londo
Gosong, dalam jumlah yang besar. Selain itu, Belanda juga perlu
menambah persenjataan yang lebih modern serta membangun benteng
pertahanan dan meningkatkan logistik, yang semuanya memerlukan biaya
yang besar. Akhirnya, pemerintah Kompeni Belanda mengalami kebangkrutan di
sektor keuangan akibat perang yang terus berlanjut dan biaya yang
semakin membengkak
![]() |
| => peta dibuat tahun 1874 - 1880 <= |
Mengapa Cangga Singgo tinggal di Kepanjen-Sengguruh ..?
Menurut cerita seorang Mbah yang rumahnya berada di sekitar Gribik Malang, Canggah Singo awalnya datang ke Brang Wetan dan tinggal di hutan di daerah Balitar bersama teman seperjuangannya yang bernama Imam Supardjo, atau nama aslinya Ahmad Yakin. Mereka tinggal dan membuka desa yang sekarang dikenal sebagai desa Bumiaji. Di desa ini, mereka melatih beberapa prajurit baru dari orang lokal untuk melanjutkan perjuangan di wilayah Balitar (sumber terlampir)
.
lanjut cerita mbah yang saat itu sudah berusia 67 tahun,
Berada di perbatasan antara Balitar dan Sengguruh, tepatnya di sungai Supit Urang, sungai Brantas, dan sungai Lahor, Canggah Singo dan pasukannya berhenti di sebuah perkampungan kecil yang disebut Sumberpucung. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah Blimbing - Sumbermanjing Kulon. Ternyata, di daerah ini banyak pendukung Diponegoro, dan Belanda mengalami kesulitan dalam mendeteksi pasukan Diponegoro karena letaknya di tengah hutan lebat dan masih banyak binatang buasnya.
Setelah tinggal beberapa saat, Cangga Singgo dan beberapa teman melanjutkan perjuangannya menuju ke pusat keramaian di wilayah Sengguruh, yakni di Kepanjen.
Cangga Singo tiba di Kepanjen setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kompeni Belanda. Sang pangeran yang berani itu ditipu dalam perundingan di mana ia dijanjikan pembebasan bagi pasukan yang telah ditawan. Namun, Belanda justru mengkhianati janjinya dan memenjarakan Pangeran Diponegoro.
Akibatnya, pasukan Diponegoro, termasuk Cangga Singo yang merupakan pasukan inti dari Keraton Sultan Hamengkubuwana III, juga terancam ditangkap dan dipenjarakan. Pasukan tersebut akhirnya diperintahkan untuk menyelamatkan diri dengan meminta perlindungan di Kadipaten sekutunya yang berada di selatan lereng Gunung Kawi.
Dengan seringnya Kompeni Belanda melakukan penangkapan disertai dengan pembunuhan, pejuang Sabillilah segera menyesuaikan diri dengan menggunakan sistem pertahanan "menghindari, bersembunyi, menghimpun kekuatan, dan menyerang saat musuh lengah".
Selama masa persembunyian ini, Cangga Singo mendapat perlindungan dari seorang kyai sepuh yang memimpin padepokan tua bernama "Tunggul Wulung". Padepokan tua ini terletak di antara timur sungai Metro-Kepanjen dan barat sungai Sukun-Kepanjen. Mereka tinggal di dalam gubuk sederhana dekat sumber Metro. Daerah tersembunyi ini cukup efektif untuk persembunyian karena musuh harus melewati sungai dan hutan yang sangat lebat untuk masuk ke wilayah ini.
Sebagai seorang yang pernah dipercaya memimpin pasukan Mataram, tentunya
Cangga Singo sudah dibekali kemampuan sebagai seorang tilik sandi serta
kemampuan mengatur strategi dan mengoordinir perlawanan. Saat awal
kedatangan beliau, pertempuran antara pasukan pribumi dengan pasukan
Belanda di tepi Brantas dekat garnisun/benteng masih terjadi. Pasukan
Belanda berada di Benteng utara sungai Brantas, sedangkan pasukan
Pribumi berada di selatan Brantas. Kadangkala juga terjadi korban yang
meninggal, meskipun dalam jumlah kecil..
Setelah Kompeni Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, pemerintahan Belanda semakin menekan para penguasa dan bangsawan pribumi agar tidak menentang pemerintahan penjajah Belanda. Jika mereka berani melanggar, maka akan menerima sanksi berat atau hukuman mati. Dalam situasi perang yang belum berhenti, Belanda curiga pada semua pangeran yang tinggal di sekitar pesisir pantai utara Jawa Tengah. Oleh karena itu, Belanda telah melakukan penyebaran mata-mata dan melakukan blokade di sekitar tempat tinggal pangeran yang dicurigai.
Sebelum membahas buyut Darmoredjo sebaiknya kita ketahui dulu fase gelombang para pelarian pasukan Diponegoro ke kadipaten Sengguruh, yakni :
- Gelombang pertama saat Diponegoro belum ditangkap.
- Gelombang kedua saat Diponegoro tertangkap (1830)
- Gelombang ketiga saat Diponegoro meninggal (1855)
Dengan mengetahui fase tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Buyut
Darmoredjo telah berhasil menghindari penangkapan oleh Kompeni Belanda
dengan pergi ke daerah pedalaman, tepatnya di lereng Gunung Kawi, untuk
meminta perlindungan kepada "saudara sepuh dari leluhur". Kedatangannya
diperkirakan sebelum Pangeran Diponegoro dan Kyai Modjo wafat, yaitu
sekitar tahun 1840-1850.
Mengapa Buyut Darmoredjo Tinggal di Kepanjen..?
Ketiga : Setelah terbentuknya pemerintahan Karisidenan Pasuruan, pada awal abad ke-18, pemerintahan Ketemenggungan pun didirikan. Pada awalnya, pemerintahannya hanya dipimpin oleh seorang Patih. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, pemerintahan tersebut akhirnya dipimpin oleh seorang Tumenggung keturunan Cina dari keluarga Han (dinasti). Kantor Ketemenggungan saat itu berlokasi di Kota Lama, tempat Ketemenggungan saat itu terletak di selatan Kuil-Klenteng Malang sekarang.
Setelah mengetahui informasi diatas akhirnya rombongan kecil ini membagi dua kelompok, yaitu kelompok Buyut Darmoredjo menuju arah 👉 "bukit Selorejo wilayah Sengguruh" dan kelompok lainnya menuju arah "bukit Selorejo wilayah Ngantang" (sumber terlampir), menurut mereka bukit Selorejo adalah bukit terjal yang tidak berpenghuni dan sering digunakan sebagai benteng pertahanan alam.
Saat tiba di Kepanjen, buyut Darmoredjo datang ke tempat penampungan sementara di Padepokan Tunggul Wulung yang terletak didekat Sungai Metro Kepanjen. Selama tinggal di padepokan, beliau sering belajar di tempat tinggal canggah Singgo. Menurut ceritanya rumah cangga Singo pada waktu itu sering didatangi tamu yang ingin diantar ke tokoh penting Mantaram pujuang era Diponegoro yang berada di sekitar Gunung Kawi dan Gunung Semeru untuk membahas soal-soal penting yang berkaitan dengan perjuangan rakyat melawan Kompeni Belanda.
Mungkin karena seringnya buyut Darmoredjo bersama cangga Singo dalam perjuangan melawan penjajah Belanda di Malang, akhirnya mbah Darmorejo dipercaya dan dinikahkan dengan putrinya bernama 👩 Larasati, (kelahiran di Kepanjen) dan 👨 Buyut Darmoredjo (kelahiran dari kota Demak).
Buyut Darmoredjo dan buyut Larasati dikaruniai : delapan anak, yaitu 👧 tujuh anak perempuan dan 👦 satu anak laki-laki. Menurut informasi keluarga kepada penulis, putra-putri mbah Darmoredjo semua tinggal di wilayah Malang dan buyut Darmorrejo berpesan, bahwa anak-anaknya tidak diizinkan menjadi pegawai kadipaten, karena saat itu masih dianggap bentukan Belanda, dengan konsekwensi putra-putrinya diajari mandiri dengan diberi ilmu pedagang, guru, dan tabib (peracik jamu).
Jejak sejarah Buyut Darmoredjo dikenal sebagai sosok multi-talenta yang memadukan ilmu keprajuritan dengan kecakapan praktis. Beliau tidak hanya terampil dalam tata gerak prajurit dan menunggang kuda, tetapi juga memiliki keahlian sebagai ahli pertukangan kayu serta seorang tabib (pengobat tradisional). Kombinasi kemampuan ini mencerminkan sosok pejuang-masyarakat yang mandiri pada masanya.
Buyut Darmoredjo dan buyut Larasati dikaruniai : delapan anak, yaitu 👧 tujuh anak perempuan dan 👦 satu anak laki-laki. Menurut informasi keluarga kepada penulis, putra-putri mbah Darmoredjo semua tinggal di wilayah Malang dan buyut Darmorrejo berpesan, bahwa anak-anaknya tidak diizinkan menjadi pegawai kadipaten, karena saat itu masih dianggap bentukan Belanda, dengan konsekwensi putra-putrinya diajari mandiri dengan diberi ilmu pedagang, guru, dan tabib (peracik jamu).
Jejak sejarah Buyut Darmoredjo dikenal sebagai sosok multi-talenta yang memadukan ilmu keprajuritan dengan kecakapan praktis. Beliau tidak hanya terampil dalam tata gerak prajurit dan menunggang kuda, tetapi juga memiliki keahlian sebagai ahli pertukangan kayu serta seorang tabib (pengobat tradisional). Kombinasi kemampuan ini mencerminkan sosok pejuang-masyarakat yang mandiri pada masanya.
Kaitan Sejarah dan Kesaksian Nilai sejarah senjata ini diperkuat oleh kesaksian Ibu Titik Sri Endahwati, yang pernah melihat langsung pusaka tersebut tersimpan rapi dalam peti di bawah tempat tidur dan keris tertempel di tembok kamar tidur. Keberadaan pusaka ini menjadi simbol perlindungan fisik maupun spiritual, terutama mengingat peran strategis keluarga dalam sejarah lokal salah satunya kisah Kapten Matasim yang pernah lolos dari berondongan peluru Belanda saat melakukan patroli di wilayah Kepanjen.
Tentang keahlian dalam pertukangan bisa dilihat dari beberapa peninggalan dari perabot rumahnya. Sedangkan Ilmu meramu obat-obatan herbal diwariskan mbah putri Pranti, mbah Arbining dan mbah Darmowiyoto (guru), serta ilmu pertukangan diwariskan kepada putra-putra mbah Trami dan mbah-mbah putri lainnya memiliki rumah-toko tepatnya di selatan pasar Kepanjen.
Lampiran :
Sumber
dari Keluarga Dekat
- "bahwa Mbah buyut singo
mempunyai ilmu kesaktian, salah satunya, kalau marah kekuatan membuat
lawanya takut tak berdaya".
- tambah lagi, Buyut Darmoredjo
dan Canggah Singgo sering mendapat tamu dari orang asing, yang bukan
berasal dari Kepanjen, kemungkinan teman seperjuangannya dulu ".
- Buyut Darmoredjo mempunyai
wajah lancap berwibawaannya, orangnya sabar dan suka memberi.
- “Hubungan keluarga Kepanjen
Darmoredjo masih ada erat dengan Buyut Putri Lastri istri Wedono
pertama Sengguruh di Kepanjen (anak Breh Kerto wedono tebasan
Tumpang), beliau tidak mempunyai anak dengan istri pertamanya,
akhirnya menikah lagi dan mempunyai anak. Buyut putri dipanggil "Ibu
Sepuh" makamnya di penarukan.
- Hubungan dengan Makam Jenggolo
- Sengguruh. tentang Riwayat keluarganya Dharmoredjo ini masih ada hub.
dengan makam Mbah Rekso. Keris Pusaka yang dimiliki kedua keluarga dari
keluarga Tumpang dan Keluarga Kepanjen, mempunyai ciri dan bentuk yang
sama.
- Buyut Tumpang ini memberi
warisan berupa Doa Salam yang ditujukan kepada yang hidup dan Gaib. Ilmu
ini diberikan oleh Wali Songo”. Do'a Salam tersebut masih dihapal oleh
beliau. Ada keris yang dibawah oleh keluarga Mudjiono Ronodiwiryo (Alm),
cucu mantu yang tinggal di Kepanjen, karena dianggap mampu
membawanya.
- "Keluarga Darmoredjo
ini masih ada hubungan dengan mbah-mbah di Sengguruh, karena waktu kecil
yang saya tahu keluarga kepanjen sering nyekar ke Makam umum di Jenggolo
atau Sengguruh".
- Penulis juga sempat tahu
tentang cerita budhe Mukti istri dari Petinggi Kastam yang tinggal di
Gunung Kawi, tapi sayang beliau tidak mempunyai keturunan, sehingga sumber
infonya terputus.
- Bulek Tatik ini adalah cucu
Buyut yang menempati rumah punden.
- "Mbah Darmo kalau keluar
rumah maksudnya keluar untuk berjuang bekal yang dibawah adalah nasi
'Karak' (nasi kering) dan air putih.
.png)

