Legenda Kepanjen Malang

Selasa, 20 Januari 2009

(Versi Mataram Islam)
Oleh : Agung Cahyo Wibowo



Dalam legenda lokal “Babad Malang” dikisahkan bahwa kala itu Adipati Malang dijabat oleh Ranggo Tohjiwo, saudara Panji Pulang Jiwo – panglima perang Malang yang gugur di dalam pertempuran melawan Mataram. Pusat pemerintahan berada di Pakisharjo, (diperkirkan di Pakisaji timur Pasar) yang kemungkinan berlokasi di lereng barat Gunung Buring (dahulu termasuk Distrik Pakis). Basis pertahanan mempergunakan bekas benteng dari masa awal kerajaan Singosari di Kutho Bedhah, yang berada di tanah membukit dan terlindung oleh tiga aliran sungai (Brantas, Bango dan Amprong). Toponomi “Kutho Bedhah” berarti kota atau benteng kota yang terkoyak oleh serangan musuh. Bentuk topografinya mengingatkan kita pada supit udang (supit urang).
Kawasan Malang oleh Mataram ditempatkan ke dalam “Mancanegara atau Brang Wetan”, dan dipimpin oleh adipati. Walaupun secara de yure kawasan Malang ditempatkan dalam kekuasaan Mataram, namun sebagaimana halnya penguasa-penguasa lokal lain di mancanegara, Adipati Malang juga memerintah secara semi-otonom. Bahkan, sepeninggal Sultan Agung, penguasa di Malang bermaksud untuk turut memisahkan diri dari kekuasaan Mataram. Oleh karenanya, para penguasa Mataram pengganti Sultan Agung berusaha untuk mereintegrasikan Malang kedalam kekuasaan Mataram.
Pada awal pemerintahan Kasultanan Mataram, yang diperintah oleh Panembahan Senapati, penguasa di Malang menolak tunduk kepada Mataram. Dalam kitab “Babad Tanah Jawi Pesisiran” diberitakan bahwa Adipati Malang dan seluruh adipati di Jawa Timur menolak tunduk pada Mataram. Pasukan Mataram yang dikerahkan oleh Senapati tidak berhasil menundukkan Adipati Malang, dan baru berhasil oleh ekspansi militer pada masa pemerintahan Sultan Agung (1614).

Menurut sesepuh-sesepuh Kepanjen, Babad Kota Kepanjen dibawah keperintahan Kadipaten. Daerah Malang masih menjadi satu belum terbagi menjadi Kota Malang dan Kabupaten, didalam kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Pusat Pemerintahannya Kadipaten Malang yang di perkirakan di Pakishardjo (kemungkinan ditimur pasar Desa Pakisaji).
“Daerah ini diketahui oleh penulis adanya peninggalan berupa :
1. Batu sebagai alas soko guru pendopo kadipaten
2. Batu gajah adalah gambaran hewan kendaraan sang bupati (menurut tembang “Pucung”)
3. Batu Hewan ternak yang menggambarkan daerah pertanian

Sedangkan nama dari Kepanjen dahulunya adalah "Kepanjian", yang mempunyai kata dasar Panji. Menurut artinya adalah sebagai berikut. :
- Panji bisa berarti suatu bendera perang
- Panji adalah suatu tempat berlatihnya suatu prajurit-prajurit
- Panji adalah suatu orang yang gagah berani dan telah berjasa pada Negara,
atau panji ini atas namakan sebagai Nama orang yang berjasa yaitu Raden Panji Pulang Jiwo
Untuk itu cerita tentang asal-usul sejarah Kepanjian akan kami ceritakan sebagai berikut :

Kadipaten Malang berada dipimpin seorang adipati, yang mempunyai anak perempuan bernama Roro Proboretno (masih gadis, sakti dan peparas ayu rupawan), dengan kelebihan ini banyak pemuda mengagumi dan mempersuntingnya, tetapi Roro Proboretno mengiginkan suami yang sakti mondro guna tanpa tanding. Tempat pertapaan Roro Ayu Proboretno berada Gua sungai Amprong.
Akhirnya Adipati membuka sayembara yaitu yang berbunyi, “Barang siapa yang bisa mengalahkan kesaktian anaknya maka akan menjadi suaminya”. Sayembara ini akhirnya cepat tersebar sampai diluar daerah Kadipaten Malang.

Salah satu punggawa Kadipaten Malang yang bernama Sumolewo, ingin memperistri Raden Proboretno. Sumolewo adalah seorang punggawa kadipaten yang terkenal sakti, mempunyai guru bernama Ki Japar Sodik, gurunya Sumolewo pernah berpesan, “Supaya Sumolewo tidak menikahi Proboretno karena nanti akan dikalahkan oleh seorang yang berasal dari madura, berambut panjang dan seorang kasatria yang masih muda, sakti mandraguna dan tak terkalahkan”.

Karena besar keinginannya untuk memiliki Roro Proboretno maka Sumolewo mencoba untuk menghadang orang yang dimaksud oleh guru Ki Japar Sodik dengan mencegat setiap orang yang akan masuk Kadipaten tepatnya di Malang sebelah utara (Desa Lawang). Setiap orang madura yang mempunyai ciri-ciri yang dipesan gurunya maka dibunuh di tepi sunga (maka sekarang disebut Kali Getih, Kali Sorak).

Raden Panji Pulang Jiwo adalah adipati Sumenep dari Madura, datang ke Kadipaten Malang karena ingin mengikuti sayembara Adipati Proboretno. Karena tahu kalau lewat Desa Lawang maka akan ketemu Sumolewo, maka Raden Panji mencoba lewat Malang sebelah timur adalah tempat pemeliharaan hewan-hewan piaraan kadipaten tempat itu sekarang disebut Kedung Kandang. Pada akhirnya Raden Panji tidak bisa dihadang Sumolewo.

Pada hari yang ditentukan sudah berkumpulah pendekar-pendekar dari segala penjuru daerah, maka pertandingan dimulai dengan aturan siapa yang terakhir memenangkan pertandingan maka akan melawan Roro Proboretno. Setelah pertandingan berlangsung cukup lama maka tinggalah Sumolewo dengan Raden Panji, Pertandingan antara pendekar tangguh ini cukup terjadi cukup sengit dan akhirnya Raden Panji Bulang Jiwo sebagai pemenangnya. diakhirnya pertandingan maka berhadapanlah dengan Pendekar Roro Proboretno. Pertandingan ini seimbang dan pada akhirnya Proboretno terdesak dan akhirnya berlari dengan menunggang kuda untuk bersembunyi di benteng patilasan kerajaan singosari yang tertutup oleh Gerbang yang kuat bagi pertahanan Proboretno. Raden Panji segera mengejar dengan Kudanya yang bernama Sosro Bahu akhirnya diketahuilah persembunyian Proboretno. Maka dengan Turun dari Kuda maka mendekatilah pada gerbang penutup. Karena Kesungguhan dan kesaktian Raden Panji maka Pintu Gerbang bisa dibuka, yang akhirnya Roro Proboretno bisa dikalahkan. (bisa membuka gerbang Benteng makanya disebut kuto bedah).

Maka Proses Pernikahan antara Raden Panji Pulang Jiwo dan Proboretno berlangsung dengan Meriah yang dihadiran oleh petinggi kadipaten dan pesta rakyat . Pada masa perkawinan mereka hidup rukun, bahagia dan dianugrahi satu anak laki-laki yang diberi nama Raden Panji Wulung / Raden Panji Saputra. Sikap pasangan ini selalu santun pada siapa saja baik petinggi dan rakyatnya.

Pada pemerintahan kerajaan Mataram, Dalam kitab “Babad Tanah Jawi Pesisiran” diberitakan bahwa Adipati Malang dan seluruh adipati di Jawa Timur menolak tunduk pada Mataram, dengan cara tidak mau mengirim upeti. Karena adipati Malang dianggap makar, maka Raja memerintahkan untuk menghadap ke Mataram, tetapi panggilan ini tidak dihiraukan. Akhirnya Raja Mataram mengirim Pasukannya yang dipimpin oleh Joko Bodho (ini julukan karena peristiwa masuk hutan dihuni harimau putih, karena keberaniannya ini dianggab pemuda Bodho).

Pasukan Malang dipimpin Raden Panji dan Proboretno, Pada akhirnya terjadilah perang besar, dan perang tanding antar Proboretno dengan Joko Bodho, Joko Bodho bisa menancapkan keris ke tubuh Proboretno (pesan pada joko bodo oleh gurunya bahwa, “keris saktinya tidak boleh untuk membunuh perempuan, karena menyebabkan kesaktian keris itu hilang”) pada waktu Proboretno coba diselamatkan, tetapi akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju Kadipati, lalu dimakamkan dengan cara Islam yang tempatnya di belakang kantor Diknas Kabupaten Malang di Wilayah Desa Penarukan.

Raden Panji Betapa Marahnya ketika istri tersayang diketahui telah meninggal, maka dikejarlah pasukan musuh, dengan menunggang kuda Sosro Bahu, saat itu banyak pasukan Mataram yang terbunuh. Sisa-sisa pasukan Mataram mencoba bersembunyi di daerah hutan rimba yang bernama Desa Ngebruk, (ada dusun Mataraman).

Akhirnya sisa pasukan Mataram yang bersembunyi bisa diketahui, maka perang tanding antara Raden Panji dan Joko Bodo berlangsung, karena kesaktian keris Joko Bodo sudah hilang ioninya, maka dengan mudah Joko Bodo dibunuh, jenasahnya dimakamkan di dusun Desa Ngebruk dusun Mbodo.

Raja Mataram mengetahui kekalahan pasukannya dan kesaktian Raden Panji, maka dikirim pasukan lebih besar, tetapi menuju tempat istirahat dan mengatur strategi di suatu pasanggrahan (sekarang bernama desa Sangrahan, Kepanjen selatan).

Raden Panji mendapat tekanan Jiwa yang berat atas kehilangan Proboretna, karena merasa berdosa tidak mampu melindungi istrinya yang sebenarnya harus tinggal di Kadipaten, bukan ikut dalam perang.

Akhirnya perwira-perwira Mataram menemukan strategi jitu, maka dijalankan nya strategi dengan membuat panggung yang disitu di beri seorang putri Mataram yang wajahnya memang mirip dengan Putri Proboretno, yang didepan jalan naik pangung diberi jebakan sumur. (tempat itu sekarang bernama desa Panggung Rejo)

Pada saat itu diundanglah Raden Panji Pulang Jiwo untuk bertemu Putri Proboretno palsu, dengan diiringan lantunan tembang asmarodono, maka datanglah Raden Panji lewat jalan (sekarang Jalan Raya Panji disitu banyak berdiri perkantoran), begitu melihat sosok Putri Proboretno duduk diatas panggung maka langsung mendekat menuju “jalan naik ke atas panggung”, dan masuklah ke jebakan lubang sumur maut, dan langsung puluhan prajurit datang kesumur itu untuk membunuh Raden Pulang Jiwo.

Dalam Pemakaman Raden Panji di tempat Kepanjian / Kepanjen, banyak pejabat kadipaten Malang dan sebagai rakyat berkumpul disuatu tempat untuk menghormati pejuang Malang menuju ke pemakaman terakhir (sekarang disebut Kelayatan di kota Malang)

----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Pemakaman Raden Panji Pulang Jiwo berada :
Bersebelahan dengan makam Putri Proboretno, putranya, kudanya (Jasad Raden Panji) di jalan penarukan Kepanjen-Malang. Sebagai orang yang mengenalkan Nama Daerah Kepanjian yang sekarang menjadi Ibu Kota Kabupaten Malang


1. Raden Panji Pulang Jiwo mempunya cincin yang bernama Akik Sholeman Perang, Kelebihannya adalah Apa bila dipakai adalah menjadi Kekuatan “Samber Nyowo” dan mempunya daya tahan perang yang tinggi, sehingga lawan berhadapan pasti gentar.
2. Kuda Sosro Bahu milik Raden Panji mempunyai Badanya Tinggi Besar dan Besar, mampu bertahan dan menerjang sekelompok pasukan musuh, berlari dengan cepat, mampu melompat tinggi dan sangat penurut sama tuannya.



-----------------------------------------------------------------------------------
Hikmah dari Perjalanan hidup cerita sejarah ini :

Bahwa Perjuangan menjadi seorang pemimpin harus memiliki kemampuan yang unggul, melindungi masyarakatnya dengan meringankan beban hidupnya terbukti dari beberapa nara sumber penulis tidak pernah menceritakan masalah kepemimpinannya, Yang terpenting semasa memimpin masih mengutamakan Kesetiaan dengan suami-istri (keluarga) dan Masyarakat sehingga Rela berperang melawan Pemerasan Pajak/Upeti yang membebani Rakyat, dengan mengorbankan jiwanya.


"Yang perlu kita ingat betapa beratnya seorang pemimpin jaman dahulu, tanpa punya fasilitas alat, tapi dia siap bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa pamrih. jangan sampai generasi muda sekarang lupa akan contoh tauladan dan perjuangan para leluhur yang telah berjasa untuk jaman sekarang" ujar budaya wati Kepanjen




Pada hari Sabtu, 17 Januari 2008 (20 Suro), jam 8 malam - 10 malam. Penulis - Teman-teman dari masyarakat generasi muda, sesepuh kepanjen - Budayawan Kepanjen mbah brintik, wartawan dan Juru Kunci Makam mengadakan uri-uri/kirim do'a dengan cara kenduri / tahlil di makam Raden Panji Pulang Jiwo & Proboretno. Dan harapan dari Bapak Juru Kunci mudah-mudahan acara ini bisa dilakukan setiap tahunpada bulan suro tanggal 20, jangan sampai awal uri-uri selamat ini hanya selesai begitu saja, tanpa bekas. Kami Masyarakat Muda Kepanjen ingin melanggengkan acara ini. Tanpa menyimpang ajaran Agama. amin... 
Kami Menginginkan adanya seorang yang mendukung tergalinya suatu cerita sejarah yang hilang, sebagai aset Kekayaan Budaya Nasional.
 

sedangkan data yang kami miliki sudah hampir lengkap, berupa Foto-foto Situs, catatan cerita masyarakat sesepuh, foto-foto (Kerajaan-Belanda-Agresi-Menjadi Ibu Kota Kabupaten)


Production by. Masyarakat Kepanjen