edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

CANDI HINDU / BUDHA

Kamis, 05 Juli 2012


 
Selain Candi Badut peninggalan purbakala yang terdapat di daerah Malang adalah sebagai berikut :
5.       Candi Sumberawan di daerah Singasari
6.       Pemandian di Watu Gede.
Untuk lebih jelas marilah kita ikuti pembahasannya satu per satu




 Candi Jago



Candi Jago dapat sebagai sumber pengetahuan, yaitu selain dari segi seni pahat maupun ukir, juga ilmu bangunan dan filsafat,  Candi Jago yang terletak di Desa Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini aslinya bernama Jayaghu. Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Singosari sekitar abad ke-13. Candi ini memiliki panjang 23,71 m dengan lebar 14 m dan tinggi 9.97 m.





Terbuat dari batu andesit, bagian atas dari Candi Jago ini konon hancur karena disambar petir. Disebut-sebut bahwa ornamen Candi Jago sama persis dengan Candi Penataran yang terdapat di Blitar. Candi yang awalnya dibangun sebagai makam raja keempat Singosari, yaitu Raja Wishnuwardhana,

Tentang sejarah tidak banyak tulisan-tulisan tentang menceritakan tentang Candi Jago. Jadi kalau tidak ada orang yang meneliti Candi Jago ada kemungkinan informasi yang penting untuk mempelajari zaman Majapahit hilang, karena candi itu diterlantarkan dan dirusak. Sekarang sudah ada banyak candi yang dilupakan dan informasinya hilang selama-lamanya. Maka tentang Candi Jago cerita sejarah  atau peninggalan lain dari zaman lalu penting sekali untuk mengerti sejarah perkembangan Indonesia dan pengaruhnya terhadap masyarakat masa kini.

Candi Jago ini diketahui sebagai tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singasari, namun jika dilihat dari bentuk arsitektur dan ragam hiasnya maka situs ini berasal dari zaman Majapahit akhir.

Salah satu candi dengan relief yang begitu kompleks dan detail adalah candi Jago. Relief-relief tersebut dipahatkan hampir merata keseluruh sisa bangunan candi yang masih dapat kita lihat sekarang ini. Disini dipahatkan begitu banyak cerita-cerita moral baik dari unsur Jawa asli, Budhisme, dan Hinduisme. Suatu bentuk perpaduan dinamis yang jarang ditemui di candi-candi lain.

Didepan candi terdapat sebuah batu yoni besar berasal dari ruang tengah candi :

1.     Patung Avalokiteswara
Arca ini merupakan salah satu bentuk perwujudan Avalokiteswara yang digambarkan bertangan 8, dikelilingi dewa-dewi, Dhyani Budha dan Tara, sikap tangan wara mudra (sikap memberi) dan abhaya mudra (menolak bala) ; sedang tangan-tangan yang lain memegang aksamala (tasbih), pasa (jerat), pustaka (kitab), padma (teratai), dan kamandalu (kendi).
2.     Patung Amogaphasa
Di halaman candi tergeletak sebuah patung tanpa kepala merupakan perwujudan Amoghapasa. Diketahui dari tulisan nagari yang dipahatkan sebelah atasnya serta atribut dan ciri khasnya. Terdapat juga sisa-sisa 3 kepala kala yang dulunya terletak diatas pintu masuk dan bilik-bilik candi. arca inilah yang disebutkan dalam Negarakertagama sebagai perwujudan dari Raja Wisnuwardhana.
3.     Dikaki candi inilah terpahatkan relief-relief yang memiliki nuansa agama berbeda. Pada tingkatan terbawah dipahatkan beberapa cerita Tantri (Jawa) seperti kura-kura dan anjing, lembu dan buaya, dan Anglingdarma, Kunjarakarna yang bernuansa agama Budha. Pada tingkat kedua dilukiskan cerita Parthayadnya, bagian dari Mahabarata, yang bernuansa agama Hindu; Begitu juga tingkat ketiga dengan cerita Arjunawiwaha.




Catatan :

Patung Amogaphasa yang masih utuh dan diduga kuat berasal dari atas yoni candi Jago, telah disimpan di Musium Negara Belanda.
Patung ini biasanya dikelilingi 4 pengikutnya ; Sudhanakumara, Syamatara, Hayagriwa, dan Bherkuti dan sekarang masih tersimpan di museum Nasional – Jakarta.

Bentuk bangunan berundak di candi Jago merupakan elemen-elemen pra-sejarah Indonesia seperti bangunan dalam bentuk pemujaan yang diletakkan dilereng-lereng gunung. Sejak periode Singosari, terlihat adanya keinginan kuat untuk memunculkan ide-ide asli Jawa.