edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

CANDI HINDU / BUDHA

Selasa, 19 Juni 2012

Ditulis : Agung Cahyo Wibowo
 
Selain Candi Badut peninggalan purbakala yang terdapat di daerah Malang adalah sebagai berikut :
3.       Candi Jago di daerah Tumpang
4.       Candi Singasari di daerah Singasari
5.       Candi Sumberawan di daerah Singasari
6.       Pemandian di Watu Gede.
Untuk lebih jelas marilah kita ikuti pembahasannya satu per satu



2. CANDI KIDAL
 

berlokasi di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang
Candi Kidal (tinggi 12,5 m, luas: 35 m2)  Candi Kidal dibangun pada 1248 M,
 
Candi Kidal berdiri dengan kokoh di sebuah taman indah yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang. Ngalamers akan bisa merasakan keagungan Kerajaan Singosari jaman dahulu yang dipadu dengan hijaunya lingkungan sekitar. Candi Kidal terbuat dari batu andesit dengan kaki candi yang lebih tinggi dan ukuran tubuh yang lebih kecil daripada luas kaki serta atap candi. Atapnya yang terdiri atas 3 bagian dulunya merupakan tempat berlian kecil yang tepat diletkakkan di tiap pojok. Candi bercorak Hindu ini dibangun untuk menghormati Raja Anusapati yang tidak lain adalah putra dari Tunggul Ametung yang tewas dibunuh oleh Tohjaya untuk merebut kekuasaan Kerajaan Singosari.

Pada bagian kaki candi terpahatkan tiga buah relief Garuda, yang melambangkan 
Garuda dalam kisah Legenda Garudeya, yaitu
(1) Garuda sedang melayani ular, 
(2) Garuda sedang membawa air tirta amerta dan 
(3) garuda sedang menyelamatkan ibunya.
Terdapat satu kepala Kala diatas pintu masuknya, simbol tolak bala, serta 
Terdapat empat patung Kalamakara di keempat sudut kakinya - binatang khayalan yang memiliki bentuk berkepala Ikan, berbadan Burung.



PENDAPAT


Candi yang dibangun oleh Dinasti Singosari Candi Kidal merupakan candi tertua pada periode peninggalan Jawa Timur.

Sebuah pertanyaan, mengapa dipahatkan relief garuda (garudeya) pada candi kidal ?

Apa hubungannya dengan Anusapati ? Kemungkinan besar sebelum meninggal, Anusapati berpesan kepada keluarganya agar kelak dicandi yang didirikan untuknya supaya dibuatkan relief Garudeya. Dia sengaja berpesan demikian karena bertujuan meruwat ibunya, Kendedes, yang sangat dicintainya, yang selalu menderita dan selama hidupnya belum sepenuhnya menjadi wanita utama. 

Candi kidal tidaklah sepopuler temannya Candi Singosari, Jago atau Jawi. 
Dilihat dari usianya, Candi Kidal merupakan candi paling tua dari peninggalan candi-candi di Jawa Timur. Hal ini karena periode Airlangga (11-12 M) dan (Kediri (12-13 M) tidak meninggalkan sebuah candi, kecuali Candi Belahan dan Jolotundo yang sesungguhnya bukan merupakan candi melainkan pertirtaan. 
Bertitik tolak dari uraian diatas, dengan masih memiliki corak Jawa Tengahan dan mengandung unsur Jawa Timuran, maka Candi Kidal dibangun pada masa transisi dari kedua periode tersebut. Bahkan Candi Kidal disebut sebagai prototipe candi periode Jawa Timur-an.


Nama Kidal sendiri sangat mungkin berasal dari bentuk ragam hias candi makam Anusapati yang tidak lazim, dimana umumnya ragam hias terutama relief-relief pada candi bersifat paradaksina (sansekerta = searah jarum jam, dari kanan ke kiri), tetapi Candi Kidal justru bersifat prasawya (sansekerta = berlawanan arah jarum jam, dari kiri ke kanan). Kidal sendiri dalam bahasa Jawa Kuno bermakna “kiri”.
Candi Kidal adalah satu-satunya candi Jawa yang meiliki narasi cerita Garuda terlengkap.