Kerajaan - GalUh DirgantOrO


Jejak Cerita Panji :
dari Leluhur Eyang Supriyadi 
oleh : Agung Cahyo Wibowo


Tulisan ini merupakan hasil penelusuran cerita Panji yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan Eyang Supriyadi. Beliau mendapatkan cerita tersebut secara turun-temurun dari para leluhurnya. Keluarganya dipercaya memiliki garis keturunan bangsawan yang sejak dahulu sangat dekat dengan cerita dan sejarah masyarakat Malang Selatan.
Logo Galuh dirgantara
Menurut cerita yang diwariskan dalam keluarganya, terdapat catatan tentang silsilah keluarga yang menceritakan garis keturunan dari seorang raja kerajaan kuno yang pernah ada di wilayah Malang. Kerajaan tersebut dalam cerita leluhur disebut Hujung Galuh atau Galuh Dirgantara.

Eyang Supriyadi diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai salah satu sesepuh dan tokoh yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Desa Senggreng dan wilayah sekitarnya. Beliau dikenal karena perannya dalam menjaga dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan serta cerita budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Desa Senggreng merupakan salah satu desa tua yang berada di sebelah barat kawasan yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama “Beting” atau benteng Jenggolo Manik. Saat ini, kawasan tersebut dikaitkan dengan keberadaan puing-puing benteng yang berada di wilayah Desa Jenggolo.

Untuk mencapai kawasan tersebut, seseorang harus melewati aliran Sungai Metro dan Sungai Brantas. Letak geografis seperti ini menarik untuk diperhatikan karena sungai sejak dahulu memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Sungai menyediakan air, mendukung pertanian, menjadi jalur perjalanan, serta membantu terbentuknya permukiman.

Dalam cerita dan tradisi masyarakat, para leluhur, kesatria, atau tokoh penting pada masa lampau sering dikisahkan memilih tempat yang tenang dan dekat dengan sumber air untuk membangun permukiman. Bahkan, dalam perkembangan masyarakat pada masa kerajaan, kawasan di sekitar sungai dapat menjadi tempat tumbuhnya kehidupan dan pusat kegiatan masyarakat.

Oleh karena itu, keberadaan Desa Senggreng yang berada di sekitar Sungai Metro dan Sungai Brantas menjadi bagian yang menarik untuk ditelusuri. Namun, hubungan antara lokasi tersebut dengan pusat kekuasaan kerajaan pada masa lampau masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui sumber sejarah, prasasti, peninggalan arkeologi, kajian lingkungan, dan tradisi lisan masyarakat setempat.


Sebelum membahas tentang babat kerajaan Hujung Galuh atau Goluh Dirgantara, Medang Kamulan dan alangkah baiknya penulis mencoba mengartikan tenta kata "Galuh" dan "Dirgantara dan "Hujung" ke bahasa Jawa kuno, yakni :

Arti kata "Galuh"
Menurut kamus : Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75
artinya : galuh (galUh) : (S) kn 1 intên; 2 putri.

Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun, Wintêr, 1928, #1506.
galuh (galUh) : prawan, èstri, êbèng.

Arti kata "Dirgantara"
Menurut kamus : Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
dirgantara (dIrgantOrO) : kw awang-awang.

Menurut kamus : Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.
dirgantara (dIrgantOrO) : Kw. het luchtruim [=awang-awang, Skr. digantara].

Arti kata "Hujung"
Menurut kamus : Kawi - Indonesia, Wojowasito, 1977, #1019.
hujung : ujung; humujung, menuju ke.

Arti kata "Medang"
Menurut kamus : Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
Medang (medaG) : kn. ngombe wedang (ing nalikane ngaso); [x]-i: 1 wis manuh ngombe wedang (tèh, kopi); 2 mènèhi wedang tèh (kopi); 3 ngêsoki lsp. nganggo wedang; kc. wedang. Sumber: Bausastra.

Arti kata "Kamulan"
Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
Menurut kamus :
kamulan (kamulan) : kn. ak asal, wiwitan; kc. mula.

Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun, Wintêr, 1928, #1506.
kamulan (kamulan) : kawitan.


Dengan cara mengetahui kosa kasa diatas lalu dihubungkan dengan penafsiran berdasar literasi dan tapak-tilas penulis kelapangan langsung, diharapkan mampu membuka jalan bagi Literasi Baru Sejarah Malang, khususnya dalam mengungkap tabir peradaban klasik yang selama ini masih tersimpan rapi di bumi Malang Selatan.


Tafsir Bebas dan Berdasar

1. Galuh Dirgantara dan Tradisi Cerita Lokal Kepanjen

Istilah Galuh Dirgantara, yang dalam konteks ini dipahami sebagai suatu wilayah kerajaan yang berada di sekitar kawasan Supit Urang, yaitu di antara aliran Sungai Brantas dan Sungai Metro pada masa tersebut diperkirakan belum memiliki nama sebagaimana dikenal sekarang. hal ini menarik untuk dikaji dari perspektif bahasa dan tradisi budaya Jawa.

Secara etimologis, kata galuh dalam tradisi bahasa dan sastra Jawa dapat dikaitkan dengan makna gadis atau perempuan bangsawan, sedangkan dirgantara berarti angkasa atau ruang luas di antara bumi dan langit. Dengan demikian, secara interpretatif, Galuh Dirgantara dapat dimaknai sebagai “gadis di angkasa” atau secara lebih simbolis sebagai sesuatu yang masih berada di awang-awang, yakni sebuah harapan, cita-cita, atau impian yang belum berwujud secara nyata. Namun, pemaknaan tersebut perlu ditempatkan sebagai interpretasi budaya atau etimologis, bukan sebagai kesimpulan sejarah yang telah terbukti secara epigrafis.

Menurut Eyang Supriyadi, seorang budayawan yang turut menjaga dan melestarikan (uri-uri) tradisi Topeng Senggreng, terdapat cerita lokal yang berkembang di wilayah Kepanjen dan sekitarnya yang memiliki keterkaitan dengan tradisi cerita Panji. Salah satu cerita yang dikenal oleh masyarakat adalah Ande-Ande Lumut.

Dalam tradisi cerita Panji, Ande-Ande Lumut mengisahkan perjalanan Pangeran Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala yang menyamar dan melakukan perjalanan untuk mencari istrinya, Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri. Dalam salah satu versi cerita, sang pangeran menyelenggarakan sayembara di Desa Dadapan. Sekartaji kemudian hadir dengan menggunakan nama samaran Kleting Kuning. Berbeda dengan Kleting Merah dan Kleting Biru, Kleting Kuning digambarkan sebagai sosok yang memiliki ketulusan, kesabaran, dan hati yang bersih. Pada akhirnya, Ande-Ande Lumut memilih Kleting Kuning sebagai perempuan yang akan dinikahinya.

Cerita tersebut merupakan bagian dari khazanah cerita Panji yang berkembang luas di Jawa Timur dan memiliki berbagai versi lokal. Oleh karena itu, apabila dikaitkan dengan kawasan Kepanjen dan sekitarnya, kisah tersebut lebih tepat dipahami sebagai tradisi lisan dan memori budaya masyarakat setempat yang perlu dikaji melalui pendekatan sejarah, filologi, folklor, antropologi, serta kajian toponimi.

Dalam konteks penelitian sejarah lokal, keterangan lisan dari tokoh budaya seperti Eyang Supriyadi memiliki nilai penting sebagai sumber sejarah lisan (oral history). Akan tetapi, informasi tersebut perlu dibandingkan dengan sumber lain, seperti prasasti, naskah kuno, data arkeologis, toponimi, dan sumber tertulis lainnya, agar dapat diketahui hubungan antara tradisi cerita masyarakat dengan kondisi historis kawasan Kepanjen pada masa lampau.

Dengan demikian, hubungan antara istilah Galuh Dirgantara, kawasan Supit Urang, tradisi Topeng Senggreng, serta cerita Ande-Ande Lumut dapat ditempatkan sebagai bagian dari kajian mengenai memori budaya dan tradisi lokal Kepanjen. Kajian tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana masyarakat mempertahankan ingatan mengenai masa lalu melalui cerita rakyat, kesenian tradisional, penamaan tempat, dan tradisi lisan yang diwariskan antargenerasi.





< SABAR ..... : masih proses penyusunan >

0 komentar anda:

ARTIKEL POPULER

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO
PILIH JUDUL DIBAWAH INI :