NAMA DESA TUA DI MALANG

Jurnal Sejarah :

Rekonstruksi Epigrafi dan Arkeologi Desa Segenggeng
sebagai Pusat Peradaban Lintas Zaman di Malang Raya

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tabir sejarah Desa Segenggeng di wilayah Pakisaji, Malang, yang selama ini terfragmentasi dalam narasi lisan dan naskah kuno. Dengan mengintegrasikan data dari Prasasti Ukir Negara, teks sastra sejarah Pararaton, serta temuan artefaktual berupa bata kuno dan sebaran benda cagar budaya di kawasan sekitarnya, studi ini merekonstruksi posisi Segenggeng bukan sekadar desa agraris, melainkan sebuah entitas penting dalam peta politik dan spiritual Jawa Timur sejak era Singhasari hingga transisi Mataram Islam.

Abstract

This article aims to unveil the historical veil of Segenggeng Village in the Pakisaji region, Malang, which has long been fragmented within oral narratives and ancient manuscripts. By integrating data from the Ukir Negara Inscription, the historical literary text Pararaton, as well as artifactual findings such as ancient bricks and the distribution of cultural heritage objects in the surrounding area, this study reconstructs the position of Segenggeng not merely as an agrarian village, but as a significant entity within the political and spiritual landscape of East Java, spanning from the Singhasari era to the Mataram Islam transition.


I.   Pendahuluan

Kawasan Malang Selatan, khususnya daerah yang kini dikenal sebagai Pakisaji dan sekitarnya, menyimpan memori kolektif tentang keberadaan pusat kekuasaan kuno. Salah satu nama yang muncul secara konsisten dalam berbagai lapisan sumber sejarah adalah Segenggeng. Signifikansi wilayah ini menjadi krusial pasca runtuhnya Kerajaan Sengguruh pada tahun 1613 M di tangan ekspansi Sultan Agung dari Mataram Islam. Pergeseran pusat pemerintahan dari Benteng Kebalon menuju Segenggeng menandai fase transisi penting dalam geopolitik lokal di Malang Raya.

 

Peta Desa Segenggeng dikelilingi oleh situs-situs yang terletak di sekitarnya.

Struktur bata kuno berukuran besar ditemukan tepat di bawah bangunan Langgar Baru, di Segenggeng.

II. Tinjauan Sumber Epigrafi: Prasasti Ukir Negara

Bukti paling otentik mengenai eksistensi Segenggeng ditemukan dalam Prasasti Ukir Negara (juga dikenal sebagai Prasasti Pamotoh). Dalam naskah tembaga tersebut, nama Segenggeng disebut dalam satu rangkaian konteks wilayah bersama dengan Kebalon, Kotaradja, Gadang, Segenggeng,  dan Dungulan [1].

III. Perspektif Sastra Sejarah: Narasi Ken Arok dalam Kitab Pararaton

Validasi historis Segenggeng melampaui data administratif prasasti dan masuk ke dalam ranah biografi tokoh besar. Dalam Kitab Pararaton, dikisahkan bahwa tokoh Ken Arok, pendiri Wangsa Rajasa, memiliki keterkaitan erat dengan Segenggeng.

IV. Bukti Arkeologis dan Observasi Lapangan

Eksistensi literatur tersebut didukung secara empiris melalui temuan material di lapangan yang mencakup:

  1. Struktur Bata Kuno: Penemuan bata berukuran besar (khas era Majapahit dan pra-Majapahit) di area pemukiman penduduk Desa Segenggeng menjadi bukti fisik adanya struktur bangunan permanen diemungkinan berupa rumah bangsawan atau tempat ibadah, atau gelanggang tempat para panji.[2].
  2. Sebaran Artefak Hindu-Buddha: Kawasan Pakisaji, khususnya di Sonotengah, Kebonagung, dan wilayah Kagenengan (Gunung Katu), menunjukkan konsentrasi benda cagar budaya yang tinggi. Hal ini sinkron dengan letak Segenggeng yang secara geografis terjepit di antara pusat-pusat sakral tersebut.
  3. Memori Kolektif Masyarakat: Tradisi lisan penduduk asli yang menyebutkan adanya pemukiman tua memberikan lapisan validasi tambahan (etnohistori) mengenai kontinuitas hunian di wilayah ini selama berabad-abad.

V. Transisi Era Mataram Islam dan Sengguruh (1613 M)

Kehancuran Kerajaan Sengguruh pada tahun 1613 M oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Surontani memaksa sisa-sisa kekuatan lokal untuk bergeser. Penaklukan Benteng Kebalon mengakibatkan perpindahan pusat aktivitas ke area yang lebih aman namun tetap strategis, yakni Segenggeng (kini meliputi area Pakisaji, Gelanggang, Sutojayan, Genengan, dan Sonosari).[3].

VI. Kesimpulan

Misteri Desa Segenggeng tersibak melalui sinkronisasi data multidimensional. Sebagai wilayah yang disebut dalam prasasti, dikisahkan dalam naskah kuno sebagai tempat berguru Ken Arok, dan dibuktikan dengan temuan arkeologis, Segenggeng sah dinyatakan sebagai salah satu titik sentral dalam sejarah Malang. Penelitiam lebih lanjut melalui penggalian arkeologis sistematis (ekskavasi) sangat diperlukan untuk mengungkap sisa-sisa kemegahan "Kota Tua" yang terkubur di bawah pemukiman modern Pakisaji saat ini.

 

Daftar Pustaka Referensi:

  1. "Terjemahan Prasasti Ukir Negara dari Jawa kuno ke Bahasa Indonesia", Penerbit : dharma wiyata, agung cahyo Wibowo, halaman 22       < klik >
  2. Kitab Pararaton, Bab 1 : Asal-usul Ken Angrok  < klik >
  3. "Putri ayu Proboretno dan Panji Pulang Jiwo",Bab3 : Runtuhnya benteng Kutho Bedhah (Kebalon), Penerbit : Arta Media, 2025, halaman 46-55



0 komentar anda:

ARTIKEL POPULER

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO
PILIH JUDUL DIBAWAH INI :