edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

AGRESI BELANDA DI MALANG

Kamis, 26 Juli 2012

Dirangkuman dari Cerita Masyarakat oleh  : Agung Cahyo Wibowo




Belanda Masuk setelah menyerang Surabaya, lalu menuju Kabupaten Malang tanggal 23 Juli 1947 mulai dari Lawang – Singosari – Blimbing - Desa Arjosari banyak tentara Belanda yang mati dan luka-luka – Blimbing pasar.

31 Juli 1947 Sudah Masuk Kota Malang dan TNI mengalami kesulitan dalam pertahanan – posisi TNI banyak menduduki desa-desa kecil di sekitar Kota dan dapat bantuan dari patroli 3-5 RI dari Pacet di Gunung Arjuno (warta Paguyupan Setia kawan, hal 62 – 67)



1. Perjuangan di Kabupaten Malang Utara

Pada tanggal 23 Juli 1947 para prajurit Marinir menduduki Lawang, 25 Kilometer sebelah utara Malang, sesudah meriam – meriam tanknya menghalau batalyon Brigade Mobil Pasukan kepolisian dari kubu-kubu di pinggir kota. Pasukan yang menyerang Malang terdiri dari Kompi L Marinir dan 1-12 RI dari angkatan darat. Kekuatan pendobrak pasukan ini terdiri dari satu seksi tank Sherman dan dua seksi amtrac Marinir, dan beberapa tank Stuart angkatan darat.

Pada tanggal 30 Juli kelompok penyerang ini berangkat dari Lawang. Baru keluar dari kota ini langsung saja tersandung dengan pertahanan Divisi 7 TNI, yang di sini didukung oleh kesatuan TRIP, dan dikenal bertempur dengan fanatik. Penembak senapan dan senapan mesin tidak membiarkan prajurit Belanda dengan tenang membersihkan rintangan dan menutup galian jebakan tank sedikit di sebelah utara Singosari seorang prajurit TNI menunggu dengan tenang sampai regu penerobos dari 1-12 RI tiba dekat dengan bahan peledak, lalu ditariknya tali yang menghubungkannya dengan penggalak bom tarik….. ledakannya mnelan empat prajurit Belanda gugur.

Kompi Marinir mengambil alih tugas cucuk dari prajurit angkatan darat dan sekitar pukul empat merebut Singosari setelah terjadi beberapa kali tembak-menembak singkat. Malang masih tinggal 12 Kilometer lagi. Mayor Ebben, komandan kontingen angkatan darat, mengira dapat mengadakan gerakan penigkaran dari Singosari, sementara pasukan Marinir dapat bergerak terus. Ternyata jembatan-jembatan di jalan samping terlalu sempit untuk kendaraan. Karena jalan utama pun sama saja tidak dapat dilalui, maka Mayor Ebben dengan kedua kompinya berjalan kaki menuju Blimbing, rintangan terakhir sebelum Malang. Di belakang infanteri serta satuan Zeni, yang membersihkan rintangan, menyusul pasukan Marinir yang berkendaraan.

Demi menghindari ranjau darat, yang banyak sekali ditanam di tengah jalan, kelompok angkatan darat bergerak melintasi sawah di kiri kanan rute gerakan. Semua berjalan lancar sampai Desa Arjosari, tetapi semula pasukan infanteri dan kemudian Marinir dihujani tembakan senapan mesin. Lagi-lagi korban gugur dan luka-luka dialamai tentara Belanda.


2. Perjuangan di Kota Malang

Akibat perlawanan dan gerakan 1-12 RI melintas pematang sawah kemajuannya sangat lamban. Akan tetapi, menjelang petang prajurit infanteri yang kelelahan akhirnya mencapai Blimbing. Setengah jam prajurit Marinir menyusul.

Pasukan menginap di pasar Blimbing, tetapi jam-jam pertama orang tidak mampu memejamkan mata. Sepanjang malam TNI terus-menerus menembaki Blimbing dengan mortar dan dari berbagai penjuru kota Blimbing pasarnya ditembaki dengan senapan mesin. Pada suatu saat granat-granat mortir berjatuhan di sekitar pasukan TNI sendiri, yang masih berada dalam kota Blimbing. Kemudian komando TNI memutuskan untuk menghentikan tembakan.
Gerakan dilanjutkan pada tanggal 31 Juli dengan pasukan Marinir di depan. Malang masih enam kilometer lagi, dan jembatan besar di atas Kali Brantas masih utuh. Pada malam hari artileri Belanda menembaki sekitar jembatan secara terus-menerus untuk mencegah regu – regu perusak TNI agar tidak mendekati jembatan.

Para prajurit Marinir melaju cepat sampai  di pinggir utara kota Malang dan mereka ditembaki dari arah penjara. Kemudian tank – tank Sherman mengambil posisi untuk menembaki bangunan itu. Hal itu berlangsung cermat, sementara itu para prajurit infanteri bergerak melewati pasukan Marinir yang menjadi orang – orang pertama memasuli kota Malang. Sebelum 10 Wib. lapangan dan persimpangan jalan yang terpenting di bagian utara kota diduduki pasukan kombinasi Belanda.

Perebutan sisa kota oleh 1-12 RI lebih sulit. Masih dibutuhkan hari berikutnya, 1 Agustus, sebelum batalyon itu mampu mematahkan pertahanan di jalan – jalan bagian selatan kota. Sementara itu, prajurit Marinir menduduki desa – desa kecil di sekitar kota. Mereka juga mengirim patroli pengintai yang kuat ke Batu, kota pegunungan di ketinggian punggung  anatara Gunung Kawi dan Gunung Arujuno. Membersihkan rintangan jalan bagi patroli itu makan waktu hingga baru pada pukul sepuluh malam sampai di Batu. Hari berikutnya para prajurit Marinir melanjutkan gerakan ke utara, dan di atas jalan kecil di kampong Junggu mereka akhirnya berjumpa dengan patroli dari 3-5 RI yang datang dari pacet di Gunung Arjuno.


3. Perjuangan di Malang Selatan

Bantuan pasukan RI didukung dari Selatan Malang (pejuang dari Kepanjen, Pakisaji, Ngebruk, Sumberpucung, Sengguruh) semua perlawanan di lakukan dengan menahan masuknya belanda kearah selatan tepatnya di pakisaji, semua pasukan pejuang selalu melakukan perang secara gerilya. Sebagai antisipasi banyaknya korban dari masyarakat pihak perempuan dan anak diungsikannya di daerah Ngebruk, Senggreng, disusul pengungsi dari kota Malang sampai Surabaya (maka daerah ini menjadi nama bruk-brukan orang dan barang ungsiannya).


Untuk menghambat masuknya pasukan Belanda yang menggunakan Kendaraan Truk, Motor dan Tank, upaya yang dilakukan adalah dengan mengebom jembatan metro tetapi tidak bisa dihancurkan, akhirnya di desa Talanggagung tepatnya di jembatan sungai jalan Kodok ngorek di buntu dengan tujuan airnya meluber ke jalan dan pejuang melakukan perlawanan dengan system serang dan menhilang.

Ada kejadian yang membuat pejuang dari “pemikir strategi dari kepanjen” banyak yang mati karena pengkhianatan seorang kepala desa, dengan memberi laporan kepada belanda bahwa pejuang Indonesia sedang mengadakan rapat, maka belanda dengan gerakan penyerangan tapal kuda maka terkepung dan akhirnya ditembaki semua pejuang yang ada di situ, tapi masih ada yang bisa menyelamatkan dengan lari ke Sungai Molek, walau tetap dihujani oleh ratusan peluruh.

Karena mengetahui bahwa aparat Kepala Desa berkhianat maka pasukan pejuang menculiknya. Sehingga kepemerintahan desa saat itu sempat terjadi kekosongan, untuk mengganti sementara maka “Kami Tuo Desa” yang bernama Bapak Shaleh Marto Utomo diangkat sementara mara  untuk menggantikan  oleh tokoh-tokoh masyarakat Kepanjen.



Setelah Agresi Berakhir perubah Tatanan Pemerintah 

Pada tanggal 22 Juli 1947 Belanda berusaha untuk kembali menjajah dan meletuslah perang (Clash I) yang menyebabkan pemerintahan daerah dengan perangkatnya mengungsi keluar kota, kemudian sampai dengan tahun 1950 berlangsung pemerintahan Federasi. Baru pada tanggal 2 Maret 1950 pemerintah daerah Republik Indonesia yang di pimpin oleh Walikota M. Sarjono Wirjohardjono kembali dari  pengungsi dan menempati Balai Kota Malang. Sejak masa itu pemerintahan kota Madya Malang dan Kabupaten Malang berlangsung kembali di naungan pemerintah Republik Indonesia dan di atur Undang-undang pemerintah daerah yang terus berkembang hingga berlakunya undang-undang no 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah sampai sekarang ini