Tampilkan postingan dengan label 2. Sejarah Topeng Malangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Sejarah Topeng Malangan. Tampilkan semua postingan

Cerita Panji dari Malang Selatan




Penyebaran Cerita Panji
oleh : Agung Cahyo Wibowo


Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli, antara lain membicarakannya :

  1. Cohen Stuart 1853 banyak mengulas dari segi kesusasteraannya
  2. Poerbatjaraka 1968 tentang perbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah ada.
  3. C.C.Berg(1928) memberikan informasi bahwa masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M.
  4. Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M.  
  5. Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India).
  6. Dwi Cahyono, namun lantaran Panji populer dalam cerita rakyat atau sejarah lokal, maka satu hal yang biasa jika kemudian terjadi hal-hal yang diakronis. Ada peran-peran lain yang muncul seolah-olah berada dalam satu masa yang sama. Kediri dan Majapahit seperti berada pada satu masa yang sama.
  7. DR. Narongchai, mengatakan bahwa Champa itu berasal dari Jawa. Konon pernah ada raja dari Jawa yang berkuasa di Thailand. Karena itu, ekonom yang juga aktivis gerakan sosial budaya ini sangat menyayangkan hilangnya budaya Panji di Jawa Timur sendiri 
  8. Berg (1930) selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.
  9. R.M.Ng.Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M.
Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu.   




Pemikiran penulis :

Basis historis dengan budaya Panji adalah :
  1. Kediri
  2. Sidoarjo (Jenggala), 
  3. Malang, 
  4. Jombang, dan sejumlah kota lainnya. 
Kami mempunyai dasar untuk acuan pemikiran :tentang daerah Malang Selatan adalah salah satu penyebaran  dan pengembangan  sampai sekarang yang masih ada, dasar penyebarannya adalah sebagai berikut :
  1. Keberadaan Gunung Kawi,  sebagai tempat Pertapaan sejak tahun 861 dibangun pada masa Sailendra (Mataram Hindu), Karena ada perselisihan di Mataram, maka kekuasaan Empu  Sendok  beralih ke Jawa Timur dan mendirikan pertapaan , dan ini bisa dilihat timbulnya  raja-raja kuat di Jawa Timur (Singosari dan Majapahit), dan tempat ini digunakan sebagai tempat belajarnya raja-raja di jawa Timur pada masa itu.
  2. Daerah Jenggolo (dengan istilah Sendang Kamulyan) yang berada di tepi sungai Brantas sebagai batas paling selatan pada masa pembagian Kerajaan Jenggolo dengan Kerajaan Kediri.
  3. Kerajaan Sengguruh pada masa keemasan Majapahit atau dalam masa akhir kejayaan.d
  4. Pengaruh Kerajaan Demak di Kerajaan Sengguruh dan Kerajaan Singosari.
  5. Pada Masa Mataram Islam berpengaruh di kerajaan Sengguruh

Kita sering timbul kekhawatiran dampak negatif masuknya budaya asing, maka sesungguhnya negeri ini pernah mengekspor budaya. Hal ini terbukti dengan penyebaran cerita Panji yang asli dari Jawa Timur, ternyata beredar luas di berbagai negara Asia Tenggara.

Karena itu diperlukan langkah Konservasi Budaya Panji agar tidak terjadi klaim oleh negara lain. Konservasi Budaya Panji juga mendesak dilakukan karena cerita Panji bukan sekedar karya sastra atau kesenian belaka, namun telah memiliki relevansi dengan birokrasi pemerintahan, militer, politik, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, religi, seni dan budaya.


Asal Topeng Panji

diulas oleh : Agung Cahyo Wibowo



Wayang Topeng Malangan merupakan tradisi budaya dan religiusitas masyarakat Jawa semenjak Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Raja Gajayana semasa abad ke 8 M. Ini bisa penulis tafsirkan tentang fungsi Candi Badut (arti badut = tontonan) ini menunjukan bahwa saat itu candi berfungsi untuk tontonan “pendidikan yang disampaikan oleh Petinggi / Raja”. Sedangkan Raja Gajayana ini juga mahir menarikan tarian Topeng. Coba anda cermati dari bentuk bangunan candi.

Di Buku Henri Supriyanto, dituliskan Wayang Topeng Malangan mengikuti pola berfikir India, karena sastra yang dominan adalah sastra India. Jadi cerita Dewata, cerita pertapaan, kesaktian, kahyangan, lalu kematian itu menjadi muksa. Sehingga sebutan-sebutannya menjadi Bhatara Agung. Jadi itu peninggalan leluhur kita, sewaktu leluhur kita masih menganut agama Hindu Jawa, yang orientasinya masih India murni. Termasuk wayang topeng juga mengambil cerita cerita dari India, seperti kisah kisah Mahabarata dan Ramayana

Dari keterangan diatas bisa diperkuat oleh Almarhum Karimun Bahwa “Kesenian Topeng tidak diperuntukkan acara acara kesenian seperti sekarang ini. Topeng waktu itu yang terbuat dari batu adalah bagian dari acara persembahyangan. Barulah pada masa Raja Erlangga, topeng dikontruksi menjadi kesenian tari. Topeng digunakan menari waktu itu untuk mendukung fleksibilitas si penari. Sebab waktu itu sulit untuk mendapatkan riasan (make up), untuk mempermudah riasan, maka para penari tinggal mengenakan topeng di mukanya”

Saat kekuasaan Kertanegara di Singasari, wayang topeng ceritanya digantikan dengan cerita cerita Panji. Hal ini dapat dipahami ketika Kertanagera waktu itu menginginkan Singasari menjadi kekuasaan yang sangat besar ditanah Jawa. Panji yang didalamnya mengisahkan kepahlawanan dan kebesaran kesatria kesatria Jawa, terutama masa Jenggala dan Kediri.

Cerita Panji dimunculkan sebagai identitas kebesaran raja raja yang pernah berkuasa ditanah Jawa. Cerita cerita Panji yang direkonstruksi oleh Singasari adalah suatu kebutuhan untuk membangun legitimasi kekuasaan Singasari yang mulai berkembang.

Wayang Topeng ini dipakai media komunikasi antara kawulo dan gusti, antara raja dan rakyatnya. Kemampuan untuk menyerap segala sesuatunya dan membumikan dalam nilai kejawaan juga banyak terjadi tatkala Islam dan Jawa mulai bergumul dalam konteks wayang topeng.

Pada saat agama Islam masuk Jawa untuk merebut hati orang Jawa. Proses Islamisasi wayang topeng oleh para wali dengan menampilkan kisah marmoyo sunat adalah sederet cerita bagaimana Islam memproduksi nilai didalamnya. Cerita menak adalah sebagai tanda masuknya Islam ditanah Jawa. Oleh karena itu cerita menakjinggo yang selama ini dominan berkembang adalah cerita menak yang dikonstruk oleh keraton Mataram yang notabene Islam.

Topeng Malang Selatan
Sulitnya keraton keraton Islam menaklukkan brang wetan yang didalamnya termasuk bekas keraton Singosari, mengakibatkan wayang topeng cerita menak kurang mendapatkan respon diwilayah ini. Hal lain yang mendorong wayang topeng cerita panji benar benar mendarah daging diwilayah brang wetan dikarenakan kebijakan mengembangkan wayang topeng yang ditanam kuat oleh Raden Wijaya, Raja Majapahit pertama. Topeng oleh Raden Wijaya dipergunakan sebagai media rekonsiliasi antara Kediri, Singosari dan Majapahit, Dalam merebut kuasa digunakan sebagai pengaruh dominan untuk tegaknya identitas politik.

Pada masa kolonial, daerah daerah perkebunan oleh mandor mandor belanda didirikan kembali kelompok kelompok topeng. Kenapa? Sebab daerah perkebunan adalah daerah daerah yang tingkat ekonominya sangat rendah dan kurang hiburan dan mudah dipengaruhi.

Perkembangan Topeng Malangan hanya menampilkan cerita cerita Panji sebagai relasi historis dengan sejarah Malang sendiri yang panjang, dan puncak perkembangan topeng mulai berkembang lagi saat pelarian pasukan Mataram Diponegoro, yang banyak bersembunyi di Malang Selatan yaitu daerah Panjen (Kepanjen) dan sekitarnya.

Para pelarian diponegoro menggunakan tari topeng digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan jati dirinya salam mendidik rakyat kecil dengan tujuan membangkitkan jiwa kemerdekaan dari ketidak adilan penguasa.

Dari cerita diatas bisa kita lihat secara jelas adanya pengrajin-pengrajin yang masih meproduksi, berada didaerah, misalnya :
1. Pakisaji,
2. Wonosari,
3. Kromengan
4. Sengguruh / Jenggolo
5. Senggreng
6. Tumpang,

Demikian sedikit data yang kebenarannya masih perlu di pertajam lagi, agar kejelasan identitas yang dari : Tari Topeng, Kerajinan Topeng Malang Selatan bisa semakin Hidup.

ARTIKEL POPULER

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO
PILIH JUDUL DIBAWAH INI :