edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Legenda Kerajaan Sengguruh

Selasa, 08 Desember 2009

Diceritakan oleh : Agung Cahyo Wibowo
 

Berdirinya daerah Kepanjen Malang setelah adanya Kerajaan Sengguruh (kerajaan kecil setingkat kadipaten) dimasa kerajaan Majapahit, dimana kerajaan Sengguruh ini dahulunya diawali dengan berdirinya suatu padepokan besar di jaman Mojopahit. Didaerah ini juga berdiri sebuah tempat untuk para pejabat atau kasatria yaitu berupa pasanggrahan atau tempat peristirahatan tamu pejabat.

Di daerah Sengguruh berfungsi untuk pendidikan Kanuragan dan pendidikan strategi Perang. Maka disekitar wilayah dengan radius lebih kurang 4 km kearah utara banyak bertempat tinggal para Kasatria atau disebut Panji yang tepatnya daerah Kepanjen ( tempat Panji / kepanjian ).

Karena Banyaknya para Panji yang bertempat di kepanjian pada saat akan berangkat menuju pada kepadepokan mereka berkata pada temannya "Ayo ke Sang Guru", istilah ini berkembang akirnya menjadi nama tempat yaitu "Sengguruh".

Padepokan Sengguruh pada akhirnya diberi wewenang menjadi suatu kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang resi ( guru besar ) dimasa kejayaan Mojopahit.

Maka kami coba menceritakan legenda kerajaan Sengguruh  adalah sebagai berikut:
Sengguruh terletak di sebelah barat selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang.
  1. Menurut Serat Kandha dan Babad Sangkala setelah runtuhnya Majapahit sisa – sisa kekuatannya di Jawa Timur bagian selatan terkonsentrasi di Sengguruh. Sejumlah nama toponomis di Selatan Kota Kepanjen seperti Sengguruh, Ngibik, Jenggala, Sumedang, dan Balerejo tampaknya memiliki kaitan historis dengan keberadaannya Kedipaten Sengguruh di masa lampau.
  2. Dr H.J.de Graaf dan DrTh.G.Th.Pigeaud (1986) : menyebutkan bahwa sesudah Kota Kerajaan Majapahit direbut oleh orang – orang Islam, Kiranya anak laki – laki Patih Majapahit, Raden Pramana, masih dapat bertahan untuk beberapa waktu di daerah pegunungan yang terpencil itu (wilayah sengguruh). Akhirnya Raden Pramana terpaksa menyingkir juga, karena datangnya serangan oleh Laskar Sultan Demak.
  3. Menurut Babad Tanah Gresik dan naskah Trah Brawijaya V Tedhak Pusponegaran, setelah runtuhnya Majapahit kekuasaan Hindu Terakhir berada di Sengguruh di bawah kepemimpinan Adipati Sengguruh yang memeliki nama Arya Terung. Adipati Sengguruh ini adalah Putera Raden Kusen, Adipati Terung, adik seibu Raden Patah. Jadi Adipati Sengguruh kemenakan Sultan Demak. Meski Raden Kusen, ayahandanya beragama Islam, Arya Terung dewasa itu masih beragama Hindu.

A. Masa Kerajaan Sengguruh adalah masa terakhir Kerajaan Besar Majapahit

Adipati Sengguruh dikisahkan pernah melakukan serangan ke daerah pesisir yakni Giri. Babad ing Gresik memberi identitas pasukan kerajaan Sengguruh sebagai pasukan Terung dengan jabatan Adipati Sengguruh.

Pasukan Sengguruh ini mula-mula menyerbu daerah Lamongan. Pasukan Giri dibantu 40 orang laskar Cina Muslim dipimpin Panji Laras dan Panji Liris menghadang pasukan Sengguruh. Terjadi pertempuran sengit di Lamongan, dengan kekalahan pasukan kerajaan Lamongan

Penguaasa Giri "Sunan Dalem" dalam mimpi bertemu ayahandanya yakni Prabu Satmata  (Sunan Giri I). Menurut mimpinya, pasukan pimpinan Adipati Sengguruh tidak perlu dilawan dan kota Giri harus ditinggalkan. Sunan Dalem kemudian memerintahkan kepala pasukannya yang bernama Jagapati untuk menghentikan pertempuran. Sunan Dalem kemudian pergi dari Giri, mengungsi ke Gumena. 
Pasukan Sengguruh menyerbu terus ke Giri hingga masuk ke Kompleks makam Prabhu Satmata atau Sunan Giri I. Pasukan Sengguruh akan merusak malam Prabhu Satmata yang saat ini ditelungkupi oleh juru kunci bernama She Grigis. Adipati Sengguruh kemudian menebas punggung She Grigis hingga juru kunci itu mati.

Tetapi secara tiba-tiba, sekawanan lebah keluar dari makam dan menyengati pasukan Sengguruh itu hingga mereka Lari Tunggang langgang. Adipati Sengguruh dikisahkan disengati oleh raja lebah (tawon endhas) selama tiga hari hingga ia meratap-ratap bertaubat kepada Allah. Bahkan Adipati Sengguruh berujar bahwa Kanjeng Sunan Prabhu Satmata adalah Wali yang Agung. Dan menurut Babad ing Gresik, sejak peristiwa itu Adipati Sengguruh sangat hormat kepada Prabhu Satmata. Tiap tahun sekali Adipati Sengguruh yang sudah memeluk Agama Islam itu bersama Balatentaranya berziarah ke Giri untuk berbhakti kepada Prabhu Satmata.
  • Menurut Tedhak Dermayuda, setelah peristiwa kekalahan Adipati Sengguruh, daerah Jaha, Wendit, Kepanjen, Dinaya, dan Palawijen masuk Islam karena para penguasanya ditaklukkan oleh Putera Sunan Giri.
  • Sedangkan menurut De Graaf (1986), di daerah Sengguruh telah beralih ke Agama Islam berkat jasa Syekh Penganti, Paman Sunan Giri.
B. Masa Kerajaan Sengguruh dengan Pemerintah Baru 

Setelah kegagalan penyerbuan ke Giri dan malah memeluk agama Islam, Arya Terung yang menjadi penyebar dakwah Islam di pedalaman dan mengalami pemberontakan oleh rakyatnya yang dipimpin oleh lawan lamanya yaitu Raden Pramana, putera Patih Majapahit, Udara. Saudara Raden Pramana yang menjadi Adipati di Pasuruan yakni Menak Supethak sisa pasukannya ikut bergabung mengobarkan pemberontakan di Sengguruh.

Kekuatan pemberontak untuk merebut Sengguruh itu masih ditambah lagi dengan dukungan Adipati Dengkol, anak Menak Supethak, Adipati Panjer (Nila Suwarna) dan Adipati Srengat. Petempuran pecah di sengguruh.

Dalam pertempuran yang sengit Adipati Sengguruh beserta sisa-sisa prajuritnya yang setia terdesak mundur meninggalkan Kedhaton. Ia kemudian membangun pertahanan di hilir sungai Brantas.

Dengan bantuan pasukan Kerajaan Demak pasukan Sengguruh berhasil merebut Ibukota Sengguruh lagi. Raden Pramana beserta para sentananya bertahan mati-matian, tetapi akhirnya kalah. Raden Pramana lari ke Timur. Pasukan Demak kemudian menobaltan Arya Terung sebagai Adipati Sengguruh kembali (tetapi sejak saat itu Sengguruh berada di bawah kekuasaan Demak)

Arya Terung menduduki jabatan Adipati Sengguruh sangat lama hingga masa wafatnya ketika melakukan perjalanan pulang dari Ziarah pulang ke Giri. Sisa-sisa kekuatan Panjer dan Srengat menghadang rombongan peziarah itu dan menyerangnya secara mendadak. Adipati Sengguruh beserta isteri terbunuh. Sejumlah prajurit Sengguruh juga ikut terbunuh.

Bahkan perlawanan Arya Balitar, adik kandung Adipati Sengguruh tak berarti apa–apa. Arya Balitar terbunuh tak jauh dari jenazah kakaknya. Jenazah Adipati Sengguruh, isteri, Arya Balitar, dan para prajurit Sengguruh kemudian dimakamkan di tepi sungai Brantas, tepatnya di Desa Rejotangan, Kadipaten Rawa (sekarang masuk Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung).

Sejarah mencatat bahwa Malang beberapakali tampil sebagai pusat pemerintahan. Pada masa Hindu-Buddha, setidaknya terdapat lima kerajaan yang berpusat di Malang, yaitu Kanjuruhan (abad VIII), Mataram masa pemerintahan Pu Sindok (abad X), Singhasari (abad XIII), Majapahit di Tumapel dan Kabalan (abad XIV-XV), serta kerajaan kecil Sengguruh (abad XVI).

Keberadaan pusat pemerintahan berlatar agama Hindu di Malang berakhir dengan adanya ekspansi Kasultanan Demak terhadap “kantong kekuasaan Hindu terakhir Sengguruh (Malang selatan)” dibawah pimpinan Trenggana tahun 1545. Kekuasan Demak atas Malang tidak berlangsung lama, seiring dengan runtuhnya Kasultanan Demak dan selanjutnya digantikan oleh Kasultanan Pajang dan Mataram. 


Sumber Songo
( Versi kerajaan Sengguruh )

Kerajaan kecil pada masa runtuhnya  Istana Agung Majapahit (berkisar abad 15itu  sudah dalam pengaruh kekuasaan Demak, identik dengan Islam ajaran Wali Songo, Kerajaan  Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya,

Sedangkan Kerajaan Sengguruh - Malang dikuasai Kerajaan Demak 1545 menjadi sistem pemerintahan islam, sesuatu yang sulit di terima oleh warga Tumapel dan  lingkungan keluarga yang masih setia dan ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Majapahit, maka  siar agama Islam oleh raja kerajaan Sengguru

.Tempat Sumber Songo suatu nama yang sudah tidak asing lagi di desa Sengguruh atau desa Jenggolo di wilayah Kec. Kepanjen - Malang, Tempat  "sumber air" yang terletak di jalan Kalinyamat desa Jenggolo ini dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari oleh masyarakat sekitar, sampai sekarang in.

Ulasan asal usul cerita Sumber Songo ini penulis memperkirakan daerah ini pada  masa dalam kekuasaan kerajaan Jenggolo dengan rajanya Airlangga, yang merupakan suatu kampung terletak didalam hutan, yang merupakan batas kerajaan dari kerajaan Jenggolo yang terletak paling selatan yang keberadaannya di tepi sungai Brantas (paling timur batas Kerajaan Kediri)


Penduduknya hidup dari perkebunan, pertanian dan mencari ikan di sungai Brantas. Karena tempat ini subur dan strategis masa tempat ini jalur pintas menuju daerah Singosari, Pasuruan dan Banyuwangi sehingga tempat ini cepat menjadi wilayah penting.

Pada masa kejayaan kerajaan Singosari daerah sudah ramai, Penulis perkirakan garda benteng yang digunakan untuk pertahanan adalah di daerah perbukitan Selorejo Batu, dan Selorejo Karangkates, dan  daerah ini difungsikan sebagai lumbung pertahanan di sebelah selatan. Daerah lumbung pertahanan ini sebagai  persediaan makanan,  tempat  prajurit dan persediaan air bersih. 
  
Pada saat Kerajaan Mojopahit, tempat ini beralih fungsi sebagai lumbung pertahanan yang dibangun padepokan kepercayaraja-raja untuk menggembleng kasatria dan brahmana, yang akhirnya menjadi tempat dikenal dan menjadi ramai.

Kembali kepada permasalah sumber air tersebut, saat itu digunakan ritual pengejawantahan prajurit dan airnya digunakan untuk kebutuhan minum. 

Pada saat jaman Kerajaan Sengguruh menjadi kerajaan Islam, sumber ini yang pada awalnya memiliki satu sumber, karena dirasa kebutuhan air bersih dirasa kurang, maka secara  upacara ritual berdo'a berkat kharomah seorang murid wali songgo, maka  sumber tersebut bisa memancarkan sembilan  mata air, maka sampai sekarang sumber itu lebih dikenal dengan nama "Sumber Songo"


Posisi Kerajaaan Sengguruh bukan berada didesa Sengguru kecamatan Kepanjen sekarang, maka penulis akan mencoba ceritakan di artikel lain. (klik....lagi.....ok)