Kerajaan - Galuh Dirgantara


Jejak Cerita Panji 
Dalam Tradisi Cerita Lokal Kepanjen
oleh : Agung Cahyo Wibowo


Tulisan ini merupakan hasil penelusuran cerita Panji yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan Eyang Supriyadi. Beliau mendapatkan cerita tersebut secara turun-temurun dari para leluhurnya. Keluarganya dipercaya memiliki garis keturunan bangsawan yang sejak dahulu sangat dekat dengan cerita dan sejarah masyarakat Malang Selatan.
Logo dari Medang Kamulyan dan Galuh Dirgantara
Menurut cerita yang diwariskan dalam keluarganya, terdapat catatan tentang silsilah keluarga yang menceritakan garis keturunan dari seorang raja kerajaan kuno yang pernah ada di wilayah Malang. Kerajaan tersebut dalam cerita leluhur disebut Hujung Galuh atau Galuh Dirgantara.

Eyang Supriyadi diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai salah satu sesepuh dan tokoh yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Desa Senggreng dan wilayah sekitarnya. Beliau dikenal karena perannya dalam menjaga dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan serta cerita budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Desa Senggreng merupakan salah satu desa tua yang berada di sebelah barat kawasan yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama “Beting” atau benteng Jenggolo Manik. Saat ini, kawasan tersebut dikaitkan dengan keberadaan puing-puing benteng yang berada di wilayah Desa Jenggolo.

Untuk mencapai kawasan tersebut, seseorang harus melewati aliran Sungai Metro dan Sungai Brantas. Letak geografis seperti ini menarik untuk diperhatikan karena sungai sejak dahulu memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Sungai menyediakan air, mendukung pertanian, menjadi jalur perjalanan, serta membantu terbentuknya permukiman.

Dalam cerita dan tradisi masyarakat, para leluhur, kesatria, atau tokoh penting pada masa lampau sering dikisahkan memilih tempat yang tenang dan dekat dengan sumber air untuk membangun permukiman. Bahkan, dalam perkembangan masyarakat pada masa kerajaan, kawasan di sekitar sungai dapat menjadi tempat tumbuhnya kehidupan dan pusat kegiatan masyarakat.

Oleh karena itu, keberadaan Desa Senggreng yang berada di sekitar Sungai Metro dan Sungai Brantas menjadi bagian yang menarik untuk ditelusuri. Namun, hubungan antara lokasi tersebut dengan pusat kekuasaan kerajaan pada masa lampau masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui sumber sejarah, prasasti, peninggalan arkeologi, kajian lingkungan, dan tradisi lisan masyarakat setempat.


Sebelum membahas tentang babat kerajaan Hujung Galuh atau Goluh Dirgantara, Medang Kamulan dan alangkah baiknya penulis mencoba mengartikan tenta kata "Galuh" dan "Dirgantara dan "Hujung" ke bahasa Jawa kuno, yakni :

Arti kata "Galuh"
Menurut kamus : Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75
artinya : galuh (galUh) : (S) kn 1 intên; 2 putri.

Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun, Wintêr, 1928, #1506.
galuh (galUh) : prawan, èstri, êbèng.

Arti kata "Dirgantara"
Menurut kamus : Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
dirgantara (dIrgantOrO) : kw awang-awang.

Menurut kamus : Javaansch-Nederduitsch Woordenboek, Gericke en Roorda, 1847, #16.
dirgantara (dIrgantOrO) : Kw. het luchtruim [=awang-awang, Skr. digantara].

Arti kata "Hujung"
Menurut kamus : Kawi - Indonesia, Wojowasito, 1977, #1019.
hujung : ujung; humujung, menuju ke. ujung

Arti kata "Medang"
Menurut kamus : Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
Medang (medaG) : kn. ngombe wedang (ing nalikane ngaso); [x]-i: 1 wis manuh ngombe wedang (tèh, kopi); 2 mènèhi wedang tèh (kopi); 3 ngêsoki lsp. nganggo wedang; kc. wedang. Sumber: Bausastra.

Arti kata "Kamulan"
Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, #75.
Menurut kamus :
kamulan (kamulan) : kn. ak asal, wiwitan; kc. mula.

Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun, Wintêr, 1928, #1506.
kamulan (kamulan) : kawitan.


Dengan cara mengetahui kosa kasa diatas lalu dihubungkan dengan penafsiran berdasar literasi dan tapak-tilas penulis kelapangan langsung, diharapkan mampu membuka jalan bagi Literasi Baru Sejarah Malang, khususnya dalam mengungkap tabir peradaban klasik yang selama ini masih tersimpan rapi di bumi Malang Selatan.


Tafsir Bebas arti Kata 
dan Berdasar 
( Makna Sanepo Basa )

1. Galuh Dirgantara

Istilah Galuh Dirgantara (dibaca GalUh DirgantOrO) yang etimologis :
  • Kata Galuh dalam tradisi bahasa dan sastra Jawa dapat dikaitkan dengan makna “intan atau permata”. Dalam konteks ini, Galuh dapat dimaknai secara simbolis sebagai sesuatu yang wilayah berharga.
  • Kata Dirgantara berarti angkasa atau ruang yang sangat luas di atas bumi langit. Secara simbolis, Dirgantara dapat dimaknai sebagai wilayah yang tinggi dan luas. Dalam konteks sejarah dan kebudayaan, istilah tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan suatu wilayah yang telah tertata dan memiliki pemerintahan.

Dengan demikian, Galuh Dirgantara dapat dimaknai secara sederhana sebagai wilayah yang berharga dan luas, yang berkembang menjadi wilayah yang tertata dan memiliki pemerintahankerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja-diraja, pemaknaan tersebut perlu ditempatkan sebagai interpretasi budaya atau etimologis, bukan sebagai kesimpulan sejarah yang telah terbukti secara epigrafis.

Menurut hasil wawancara Eyang Supriyadi, seorang budayawan yang turut menjaga dan melestarikan (uri-uri) tradisi Topeng asal Senggreng, terdapat cerita lokal yang berkembang di wilayah Kepanjen dan sekitarnya yang memiliki keterkaitan dengan tradisi cerita Panji. Salah satu cerita yang dikenal oleh masyarakat adalah :.

Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan bernama Jenggala. Di kerajaan itu hiduplah seorang pangeran bernama Panji Asmarabangun. Ia dikenal sebagai pangeran yang baik hati dan bijaksana.

Panji Asmarabangun sangat mencintai istrinya, Dewi Sekartaji, putri dari Kerajaan Kediri. Namun, karena suatu keadaan, mereka harus berpisah.

Panji kemudian meninggalkan istana dan melakukan perjalanan untuk mencari Dewi Sekartaji. Agar tidak dikenali, ia menyamar dengan nama Ande-Ande Lumut. Ia tinggal sebagai anak angkat seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Rondo di Desa Dadapan.

Suatu hari, Ande-Ande Lumut mengadakan sayembara. Ia ingin mencari seorang perempuan yang memiliki hati baik untuk menjadi pendampingnya.

Kabar sayembara itu segera terdengar oleh beberapa gadis. Di antara mereka ada Kleting Merah, Kleting Biru, dan Kleting Kuning. Mereka pun berangkat menuju Desa Dadapan.

Dalam perjalanan, mereka harus menyeberangi sebuah sungai yang airnya cukup deras. Di sungai itu tinggal seekor makhluk bernama Yuyu Kangkang. Ia bersedia membantu menyeberangkan orang, tetapi meminta imbalan.

Kleting Merah dan Kleting Biru menerima bantuan Yuyu Kangkang. Mereka akhirnya dapat menyeberangi sungai.

Ketika Kleting Kuning tiba, ia juga diminta memberikan imbalan. Namun, Kleting Kuning tidak mau melakukan sesuatu yang menurutnya tidak baik. Ia memilih berusaha sendiri untuk menyeberangi sungai.

Dengan kesabaran dan keberaniannya, Kleting Kuning akhirnya berhasil sampai ke Desa Dadapan.

Sesampainya di sana, Ande-Ande Lumut memperhatikan semua peserta sayembara. Ia melihat bahwa Kleting Merah dan Kleting Biru lebih mementingkan kemudahan bagi diri mereka sendiri. Sementara itu, Kleting Kuning tetap jujur, sabar, rendah hati, dan memiliki hati yang bersih.

Ande-Ande Lumut kemudian memilih Kleting Kuning.

Namun, ada sebuah rahasia yang belum diketahui semua orang. Kleting Kuning sebenarnya adalah Dewi Sekartaji, istri Panji Asmarabangun yang selama ini ia cari.

Akhirnya, Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji dapat bertemu kembali. Mereka saling mengenali dan merasa sangat bahagia.

Dari cerita Ande-Ande Lumut, kita dapat belajar bahwa kebaikan hati, kejujuran, kesabaran, dan ketulusan lebih berharga daripada kecantikan atau kemudahan yang diperoleh dengan cara yang tidak baik.

Pesan moral : Jadilah anak yang jujur, sabar, rendah hati, dan selalu berbuat baik kepada orang lain.

Cerita tersebut merupakan bagian dari khazanah cerita Panji yang berkembang luas ke seluruh di Jawa Timur dan memiliki berbagai versi lokal. Oleh karena itu, apabila dikaitkan dengan kawasan Kepanjen dan sekitarnya, kisah tersebut lebih tepat dipahami sebagai tradisi lisan dan memori budaya masyarakat setempat yang perlu dikaji melalui pendekatan sejarah, filologi, folklor, antropologi, serta kajian toponimi.

Dalam konteks penelitian sejarah lokal, keterangan lisan dari tokoh budaya seperti Eyang Supriyadi memiliki nilai penting sebagai sumber sejarah lisan (oral history). Akan tetapi, informasi tersebut perlu dibandingkan dengan sumber lain, seperti prasasti, naskah kuno, data arkeologis, toponimi, dan sumber tertulis lainnya, agar dapat diketahui hubungan antara tradisi cerita masyarakat dengan kondisi historis kawasan Kepanjen pada masa lampau.

2. Hujung Galuh Dirgantara

Istilah Hujung Galuh Dirgantara (dibaca GalUh DirgantOrO) yang etimologis :
  • Kata hujung berarti : ujung; humujung, menuju ke. ujung, dalam kontek ini berarti bahwa Letak hujung wilayah yang berasal dari muara hulu sungai (awal suatu aliran air)
  • Kata Galuh dalam tradisi bahasa dan sastra Jawa dapat dikaitkan dengan makna “intan atau permata”. Dalam konteks ini, Galuh dapat dimaknai secara simbolis sebagai sesuatu yang wilayah berharga.
  • Kata Dirgantara berarti angkasa atau ruang yang sangat luas di atas bumi langit. Secara simbolis, Dirgantara dapat dimaknai sebagai wilayah yang tinggi dan luas. Dalam konteks sejarah dan kebudayaan, istilah tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan suatu wilayah yang telah tertata dan memiliki pemerintahan.

Dengan demikian kata Hujung Galuh Dirgantara  dalam bahasa Jawa berarti ujung atau bagian paling akhir dari suatu tempat. Kata hujung juga dapat berkaitan dengan pengertian menuju ke suatu ujung hulu sungai  supit iurang atau batas wilayah.

Dalam konteks sejarah wilayah ini, kata hujung dapat dipahami sebagai sebutan untuk wilayah yang berada di bagian ujung atau pertemuan beberapa aliran sungai. Wilayah tersebut berkaitan dengan aliran Sungai Brantas, yang berasal dari kawasan pegunungan di sekitar Gunung Arjuno, kemudian bertemu dengan aliran Sungai Metro dari arah utara Gunung Kawi dan Sungai Lesti dari arah Turen.

Pertemuan aliran sungai tersebut berada di sekitar wilayah sebelah barat Desa Jenggolo dan Desa Senggreng. Oleh karena itu, secara sederhana, istilah hujung dapat dipahami sebagai wilayah yang berada di bagian ujung atau pada suatu kawasan penting tempat beberapa aliran sungai bertemu.

Bagi masyarakat pada masa dahulu, sungai sangat penting sebagai sumber air, jalur perjalanan, batas wilayah, dan tempat berkembangnya permukiman. Karena itu, letak suatu wilayah yang berada di sekitar pertemuan sungai dapat memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat.






Sumber Data
  1. Wawancara dengan Eyang Supriyadi, "Medang Kamulyan", Sumberpucung, hari Jum'at legi, tanggal7 Agustus 2026, pada jam 8 malam - 12 malam
  2. Karya Tulis, Watak Tugaran -Wilayah Medang Kamulan, 



< SABAR ..... : masih proses penyusunan >

GEMA PANJI BUDAYA MALANG


MENJAGA BUDAYA dalam BERKESENIAN
BERJALAN SUKSES

Kabupaten Malang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, namun belum sepenuhnya terkelola menjadi kekuatan ekonomi. Disisi lain, tantangan pengangguran dan minimnya keterampilan seni kreatif masih menjadi persoalan nyata.

Melalui program ini, Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) berinisiatif menghidupkan kembali budaya sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pelatihan seni dan pengembangan industri kreatif berbasis budaya dengan cara gotong royong.

Dukungan dari pemerintah melalui dana hibah tetaplah sebuah bentuk pengakuan dan sport (dorongan) yang berharga bagi pergerakan ekosistem kebudayaan di daerah. Sering kali, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat para penggiat seni dan sejarah untuk terus merawat tradisi.

Justru dalam kesederhanaan, kreativitas dan ketulusan sering kali melahirkan karya serta kegiatan yang lebih membumi, mulai dari workshop edukasi hingga pementasan swadaya yang sarat makna. Nilai substansial dari sebuah perhelatan budaya tidak pernah diukur dari kemewahan fasilitasnya, melainkan dari seberapa dalam pesan kearifan lokal tersebut sampai kepada masyarakat dan generasi penerus.

Kolaborasi strategis antara Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) melalui Departemen Situs dan Sejarah bersama Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Malang akhirnya membuahkan hasil nyata. Pada pertengahan Juli 2026 ini, sebuah perhelatan akbar yang memadukan edukasi, seni pertunjukan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian tradisi telah resmi digelar.


Rangkaian acara tersebut dikemas dalam tema "Gema Panji Budaya Malang Kuceswara", dengan inti acara :

  • Louncing logo Hari Ulang Tahun Kabupaten Malang ke 1466 dan Pembukaan Kegiatan Gema Panji Budaya Malang Kucecwara, yang dihadiri beberapa pengusaha

  • Workshop Budaya Panji Sesi edukatif dan ruang diskusi mendalam yang melibatkan para pegiat sejarah, pendidik, dan generasi muda untuk menggali nilai-nilai luhur  berupa workshop Tari Jaranan Dor Kas Lereng Semeru untuk guru dan workshop Ludruk dikhususkan untuk remaja yang dihadiri setiap acara 60 oroang.

  • Pentas Seni & Pertunjukan Tradisi Panggung ekspresi bagi para seniman lokal Malang untuk mementaskan kesenian berbasis tradisi mulai dari tari topeng khas Gunung lereng Kawi, pentas Jarandor yang diikuti lebih dari 60 orang dengan original Musik khasnya, Pentas ludruk.

  • Pameran & Bazar UMKM Lokal Wujud nyata pemberdayaan ekonomi kerakyatan, di mana para pelaku usaha mikro, dalam binaan Dinas Perindustrian sebanyak 17 stan, pelaku Usaha yang selalu berdampingan dengan DKKM menampilkan produk jamu leluhur, pengrajin Topeng, Produk UMKM budaya seperti keris, batu akhik, barang antik cirikas Jawa, UMKM seni-lukisan, pernak-pernik karya kerajinan tangan dan cindramata budaya dan sponsor acara. .

  • Lomba Anak Bertema Budaya Panji Ruang apresiasi dan pembinaan sejak dini melalui berbagai lomba kreatif bagi anak-anak yang dirangkum dalam acara lomba mewarnai, lomba menggambar, dan lomba menyanyi semua lomba memperebutkan Piala Bupati Malang, sedangkan acara hiburan berupa musik dan nyanyian untuk mendorong semangat peserta lomba dan penonton yang hadir 


Keberhasilan sebuah kegiatan, baik dalam skala kecil maupun besar, sangat bergantung pada solidnya sistem kepanitiaan yang dibentuk. Kepanitiaan bukan hanya sekadar pembagian tugas administratif, melainkan fondasi utama yang menentukan arah, efisiensi, dan kualitas eksekusi sebuah acara. Ketika sebuah kepanitiaan dirancang dengan matang dan dijalankan secara profesional, setiap potensi kendala dapat dimitigasi sejak dini, dan tujuan kegiatan pun dapat tercapai secara optimal.
 













Dewan Kesenian Kab. Malang -DKKM-

Bayangkan Kabupaten Malang sebagai sebuah taman yang sangat luas. Di dalam taman ini, setiap sudutnya menyimpan "harta karun" yang tak ternilai harganya, mulai dari gemulainya tarian, harmoni musik gamelan, hingga cerita-cerita kuno dan karya seni leluhur. Namun, harta karun berupa identitas bangsa ini memerlukan penjaga agar tidak lekang oleh cepatnya perubahan zaman.

Di balik pelestarian ini, terdapat Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM). Sebuah lembaga yang dipercaya oleh Pemerintah Kabupaten untuk menjadi "Penjaga Harta Karun" kebudayaan kita. Tugas mereka bukan sekadar urusan administratif, melainkan memastikan agar seni dan budaya lokal tetap relevan dan memiliki daya tawar yang kuat di tengah arus modernisasi.

Sebagai penulis yang memiliki kegemaran blusukan ke situs-situs bersejarah, penulis merasa terpanggil ketika sebuah panggilan telepon datang dari rekan di pemerintahan. Penulis diajak untuk duduk bersama, berdiskusi dalam suasana yang hangat dan penuh canda dengan para tokoh seniman dari Turen, Sumberpucung, Pakisaji, Gondanglegi, Tumpang, Wajak, Dau hingga Singosari.

Meski pertemuan tersebut berlangsung santai khas masyarakat seni, di mana diskusi serius sering kali diselingi gelak tawa, wakaupun esensi yang dibicarakan sangatlah penting. Di sanalah saya menyadari bahwa bergabung dalam kegiatan seperti ini bukan sekedar berorganisasi, melainkan salah satu bentuk bakti kepada ibu pertiwi.

Sering kali kita bertanya, bagaimana cara mencintai ibu pertiwi di masa damai..? Melalui kacamata ilmiah, ketahanan sebuah daerah sangat bergantung pada seberapa peduli masyarakatnya terhadap sejarah dan identitas budayanya sendiri. Ketika identitas itu kuat, masyarakatnya akan tumbuh menjadi pribadi yang ramah, kreatif, dan memiliki jati diri.

Bagi penulis, menulis dan berpikir adalah "senjata" untuk membela bangsa. Dengan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan lokal dan mendokumentasikan pemikiran para praktisi seni dan Budayawan di DKKM, kita sebenarnya sedang membangun sebuah "benteng" mental agar karakter khas orang Malang tidak luntur.

    Gambar penulis berada no 4 dari atas, sebelah kiri saat pelantikan digedung DPR 2021

    Akhirnya dari bendera Panji DKKM berkibar dengan didasari Surat Keputusan Bupati Malang No. 188.45/758/KEP/35.07.013/2021  akan menjadi sebuah simbol pembuktian atas tiga hal:





    NAMA DESA TUA DI MALANG

    Jurnal Sejarah :

    Rekonstruksi Epigrafi dan Arkeologi Desa Segenggeng
    sebagai Pusat Peradaban Lintas Zaman

    Abstrak

    Artikel ini bertujuan untuk mengungkap tabir sejarah Desa Segenggeng di wilayah Pakisaji, Malang, yang selama ini terfragmentasi dalam narasi lisan dan naskah kuno. Dengan mengintegrasikan data dari Prasasti Ukir Negara, teks sastra sejarah Pararaton, serta temuan artefaktual berupa bata kuno dan sebaran benda cagar budaya di kawasan sekitarnya, studi ini merekonstruksi posisi Segenggeng bukan sekadar desa agraris, melainkan sebuah entitas penting dalam peta politik dan spiritual Jawa Timur sejak era Singhasari hingga transisi Mataram Islam.

    Abstract

    This article aims to unveil the historical veil of Segenggeng Village in the Pakisaji region, Malang, which has long been fragmented within oral narratives and ancient manuscripts. By integrating data from the Ukir Negara Inscription, the historical literary text Pararaton, as well as artifactual findings such as ancient bricks and the distribution of cultural heritage objects in the surrounding area, this study reconstructs the position of Segenggeng not merely as an agrarian village, but as a significant entity within the political and spiritual landscape of East Java, spanning from the Singhasari era to the Mataram Islam transition.


    I.   Pendahuluan

    Kawasan Malang Selatan, khususnya daerah yang kini dikenal sebagai Pakisaji dan sekitarnya, menyimpan memori kolektif tentang keberadaan pusat kekuasaan kuno. Salah satu nama yang muncul secara konsisten dalam berbagai lapisan sumber sejarah adalah Segenggeng. Signifikansi wilayah ini menjadi krusial pasca runtuhnya Kerajaan Sengguruh pada tahun 1613 M di tangan ekspansi Sultan Agung dari Mataram Islam. Pergeseran pusat pemerintahan dari Benteng Kebalon menuju Segenggeng menandai fase transisi penting dalam geopolitik lokal di Malang Raya.


    Peta Desa Segenggeng 
    dikelilingi oleh situs-situs yang terletak di sekitarnya
    .
    Struktur bata kuno berukuran besar ditemukan tepat di bawah bangunan Langgar Baru, di Segenggeng.

    Ditemukan batu bata putih di Punden Gelanggang yang terletak di tepi sungai.

    II. Tinjauan Sumber Epigrafi: Prasasti Ukir Negara

    Bukti paling otentik mengenai eksistensi Segenggeng ditemukan dalam Prasasti Ukir Negara (juga dikenal sebagai Prasasti Pamotoh). Dalam naskah tembaga tersebut, nama Segenggeng disebut dalam satu rangkaian konteks wilayah bersama dengan Kebalon, Kotaradja, Gadang, Segenggeng,  dan Dungulan [1].

    III. Perspektif Sastra Sejarah: 

        Narasi Ken Arok dalam Kitab Pararaton 

    Validasi historis Segenggeng melampaui data administratif prasasti dan masuk ke dalam ranah biografi tokoh besar. Dalam Kitab Pararaton, dikisahkan bahwa tokoh Ken Arok, pendiri Wangsa Rajasa, memiliki keterkaitan erat dengan Segenggeng.

    Dalam perspektif sastra sejarah (historiografi tradisional), perjalanan Raja Hayam Wuruk dalam Kakawin Nagarakretagama (Pupuh 35–38) bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan penegasan Kosmologi Kekuasaan dan pemetaan wilayah spiritual Majapahit dan letaknya tidak jauh dari desa Segenggengb dan dan bisa diduga memiliki keterkaitan wilayah pemerintahan dan sistem ekonomi kedaerahan..
         👍Danau Bureng (Umbul Bureng/Sumber Sirah)
    Dalam teks, Bureng digambarkan sebagai tempat persinggahan yang sakral. Secara sastra, air sumber yang besar disebut danau (segaran) melambangkan amerta (air suci). Kehadiran raja di sini menegaskan peran penguasa sebagai pemelihara kesuburan dan keseimbangan alam. Penulis (Mpu Prapanca) menggunakan deskripsi keindahan alam untuk memposisikan raja sebagai sosok yang menyatu dengan lingkungan kedewataan. Lokasi sekarang masih berupa danau luas terletak di kecamatan Gondanglegi, dikenal sebagai Wisata Sumber Sirah < klik >
        👍 Sumber Biru (Kali Biru)

    "Analisis struktural sastra sejarah tentang perjalanan raja Hayamuruk ini adalah Yatra (ziarah). Singgah di tempat-tempat tersebut bertujuan untuk menghormati leluhur, terutama saat menuju daerah-daerah di lereng Gunung Kawi dan sekitarnya yang dianggap suci"

    IV. Bukti Arkeologis dan Observasi Lapangan

    Eksistensi literatur tersebut didukung secara empiris melalui temuan material di lapangan yang mencakup:

    1. Struktur Bata Kuno: Penemuan bata berukuran besar (khas era Majapahit dan pra-Majapahit) di area pemukiman penduduk Desa Segenggeng menjadi bukti fisik adanya struktur bangunan permanen diemungkinan berupa rumah bangsawan atau tempat ibadah, atau gelanggang tempat para panji.[2].
    2. Sebaran Artefak Hindu-Buddha : Kawasan Pakisaji, khususnya di Sonotengah atau Kebonagung   < klik >, dan wilayah Kagenengan (Gunung Katu), menunjukkan konsentrasi benda cagar budaya yang tinggi. Hal ini sinkron dengan letak Segenggeng yang secara geografis terjepit di antara pusat-pusat sakral tersebut.
    3. Memori Kolektif Masyarakat : Tradisi lisan penduduk asli yang menyebutkan adanya pemukiman tua memberikan lapisan validasi tambahan (etnohistori) mengenai kontinuitas hunian di wilayah ini selama berabad-abad.

    V. Transisi Era Mataram Islam dan Sengguruh (1613 M)

    Kehancuran Kerajaan Sengguruh pada tahun 1613 M oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Surontani memaksa sisa-sisa kekuatan lokal untuk bergeser. Penaklukan Benteng Kebalon mengakibatkan perpindahan pusat aktivitas ke area yang lebih aman namun tetap strategis, yakni Segenggeng (kini meliputi area Pakisaji, Gelanggang, Sutojayan, Genengan, dan Sonosari).[3].

    VI. Kesimpulan

    Misteri Desa Segenggeng tersibak melalui sinkronisasi data multidimensional. Sebagai wilayah yang disebut dalam prasasti, dikisahkan dalam naskah kuno sebagai tempat berguru Ken Arok, dan dibuktikan dengan temuan arkeologis, Segenggeng sah dinyatakan sebagai salah satu titik penting (sentral) dalam sejarah Malang. Penelitiam lebih lanjut melalui penggalian arkeologis sistematis (ekskavasi) sangat diperlukan untuk mengungkap sisa-sisa kemegahan "Kota Tua" yang terkubur di bawah pemukiman modern Pakisaji saat ini.

     

    Daftar Pustaka :

    1. "Terjemahan Prasasti Ukir Negara dari Jawa kuno ke Bahasa Indonesia", Penerbit : dharma wiyata, agung cahyo Wibowo, halaman 22       < klik >
    2. Kitab Pararaton, Bab 1 : Asal-usul Ken Angrok  < klik >
    3. "Putri ayu Proboretno dan Panji Pulang Jiwo",Bab3 : Runtuhnya benteng Kutho Bedhah (Kebalon), Penerbit : Arta Media, 2025, halaman 46-55
    4. Vidio Wawancara langsung di tepi Brantas desa Segenggeng 







    BUDAYA PANJI


    Berdasarkan analisis sejarawan (seperti C.C. Berg, 1928), periode ini menjadi titik awal berkembangnya romansa kepahlawanan lokal yang tidak lagi sepenuhnya berkiblat pada cerita kepahlawanan dari budaya India (Ramayana/Mahabharata).

    Lakon Panji berpusat pada kisah cinta dan petualangan antara Raden Panji Asmoro Bangun (dari Jenggala) dan Dewi Sekartaji (dari Kediri). Munculnya lakon ini di era Singasari memiliki makna simbolis:

    Foto tahun 70-an Mbah Karimun yang Melegenda di Malang Selatan
    Mbah Karimun Tokoh yang melegenda di Pakisadji, Malang
    (Foto : 1970, re-color dari BW)


    Wayang Topeng sebagai Media Dakwah & Politik

    Wayang Topeng pada masa itu bukan sekadar hiburan, melainkan:

    Hingga saat ini, Malang Raya khususnya Malang Selatan dikenal sebagai pusat Wayang Topeng Malangan. Jejak kebudayaan ini membuktikan bahwa akar kesenian tersebut memang sangat kuat berasal dari bumi Tumapel sejak era keemasan Singasari.


    Baca tentang :

    sejarah-topeng-malangan



    Prasasti Ukir Negara / Pamotoh





    BACA BUKU PARARATON ATAU NEGARA KERTAGAMA

     

    Buku Legenda Malang










    Legenda Putri Proboretno  & Panji Pulang Jiwo

    Buku ini mengungkap kisah cinta legendaris Putri Adipati Malang dan putra Madura yang menyatukan kembali ikatan era Singhasari, lengkap dengan bukti autentik asal-usul nama dusun dan desa di Malang hingga saat ini.



    ARTIKEL POPULER

    KELUARGA DALEM DHARMOREDJO

    KELUARGA DALEM DHARMOREDJO
    PILIH JUDUL DIBAWAH INI :