Legenda di Malang Selatan

Rabu, 26 Oktober 2011

 oleh : Agung Cahyo Wibowo
Foto bekas batu-batu patilasan benteng kono

Jenggolo  Manik
( Versi kerajaan Sengguruh )

Kerajaan kecil pada masa runtuhnya  Istana Agung Majapahit (berkisar abad 15itu  sudah dalam pengaruh kekuasaan Demak, identik dengan Islam ajaran Wali Songo, Kerajaan  Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya,

Sedangkan Kerajaan Sengguruh - Malang dikuasai Kerajaan Demak 1545 setelah tidak berhasil menaklukan Giri Kedaton - (Gresik - Surabaya). Perubah dari pemerintahan yang berbasik Hindu, menjadi sistem pemerintahan islam, sesuatu yang sulit di terima oleh lingkungan keluarga yang masih setia dan ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Majapahit, maka serangan mendadak dilakukan pada kerajaan Sengguruh.

Pada masa Kalah perang dengan Penguasa Majapahit yang setia, Raja Sengguruh (Arya Terung) dan pasukan melarikan  diri ke daerah barat ke arah Kerajaan Kediri.yang sudah dibawah kekuasaan Demak. 

Dengan Bantuan dari Pasukan dari Barat (Arya Balitar, Arya Kahuripan/Kediri) dan didukung penuh oleh pasukan Demak akhirnya bisa merebut kembali daerah Kerajaan Sengguruh. 


Dengan pemerintahan baru maka kekuasan raja Sengguruh kembali dan kerajaan demak memberi keluasaan penuh dan akhirnya Kerajaan Sengguruh siap dibawah kerajaan Demak.Pada masa itu daerah ini dikenal daerah yag sangat subur,  mempunyai padepokan yang  mengajarkan ilmu keprajuritan.

Kerajaan Sengguruh dipimpin raja Arya Terung cukup lama sehingga kejayaan ini  oleh  kerajaan lain atau rakyat pendatang digambarkan suatu kerajaan Majapahit yang hidup lagi.  Istilah gambaran ini bisa diartikan "Bankitnya suatu Permata" atau  "Jenggelak  Maneh"  atau "Jenggolo Manik" dalam bahasa jawa.

Sampai sekarang yang lebih dikenal masyarakat lokal bernama "Jenggolo Manik" baca artikel "Legenda Kerajaan Sengguru"



J e n g g o l o 
( Versi Kediri )

Desa Jenggolo yang terletak di Malang Selatan, juga mempunyai  julukan Medang Kamulyan, kalau dilihat dari arti kata "medang" berarti membelah/memotong", sedangkan arti kata "Kamulyan" berarti kemulyaan/Kejayaan, dari arti tersebut maka penulis akan mencoba memberi ulasan sebagai berikut :

Kalau dihubungak dengan Sejarah kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kahuripan adalah sat dua wilayah baru yang berdiri berkat kebijaksanaan Raja Airlangga (kerajaan Kediri) yang membagi secara adil dua wilayah untuk kedua orang puteranya. Sebelum memutuskan pembagian ini, Raja Airlangga meminta petunjuk dari Mpu Barada, Brahmana yang terpercaya kerajaan di masa itu. Dengan kesaktiannya Mpu Barada, yang saat itu digambarkan telah terbang sambil memercikkan “Tirta Amerta” (air suci) untuk membagi wilayah menjadi dua. Konon Tirta Amerta tersebut setelah jatuh ke tanah berubah menjadi sungai dan selanjutnya (hingga sekarang) diberi nama Sungai Brantas

Dalam perkembangannya ternyata antara Jenggala dan Kahuripan (yang disebut pula Kadiri/Kediri) mengalami nasib yang bertolak belakang. Jenggala hanya bertahan beberapa saat sebelum kemudian menjadi wilayah Kahuripan.

Penyebab dari runtuhnya Jenggala ini ditengarai oleh ketidak cocokan kondisi wilayahnya yang cenderung berciri “maritim” sedangkan ciri masyarakat Jawa pada waktu itu adalah “agraris”. Alhasil Jenggala tidak mampu berkembang. Peninggalan Kerajaan Jenggala ini juga sangat terbatas — hampir tidak dikenali.




Sumber Songo
( Versi kerajaan Sengguruh )

Tempat Sumber Songo suatu nama yang sudah tidak asing lagi di desa Sengguruh atau desa Jenggolo di wilayah Kec. Kepanjen - Malang, Tempat  "sumber air" yang terletak di jalan Kalinyamat desa Jenggolo ini dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari oleh masyarakat sekitar, sampai sekarang in.

Ulasan asal usul cerita Sumber Songo ini penulis memperkirakan daerah ini pada masa dalam kekuasaan kerajaan Jenggolo dengan rajanya Airlangga, yang merupakan suatu kampung terletak didalam hutan, yang merupakan batas kerajaan dari kerajaan Jenggolo yang terletak paling selatan yang keberadaannya di tepi sungai Brantas (paling timur batas Kerajaan Kediri)


Penduduknya hidup dari perkebunan, pertanian dan mencari ikan di sungai Brantas. Karena tempat ini subur dan strategis masa tempat ini jalur pintas menuju daerah Singosari, Pasuruan dan Banyuwangi sehingga tempat ini cepat menjadi wilayah penting.

Pada masa kejayaan kerajaan Singosari daerah sudah ramai, Penulis perkirakan garda benteng yang digunakan untuk pertahanan adalah di daerah perbukitan Selorejo Batu, dan Selorejo Karangkates, dan  daerah ini difungsikan sebagai lumbung pertahanan di sebelah selatan. Daerah lumbung pertahanan ini sebagai  persediaan makanan,  tempat  prajurit dan persediaan air bersih. 
  
Pada saat Kerajaan Mojopahit, tempat ini beralih fungsi sebagai lumbung pertahanan yang dibangun padepokan kepercayaraja-raja untuk menggembleng kasatria dan brahmana, yang akhirnya menjadi tempat dikenal dan menjadi ramai.

Kembali kepada permasalah sumber air tersebut, saat itu digunakan ritual pengejawantahan prajurit dan airnya digunakan untuk kebutuhan minum. 

Pada saat jaman Kerajaan Sengguruh menjadi kerajaan Islam, sumber ini yang pada awalnya memiliki satu sumber, karena dirasa kebutuhan air bersih dirasa kurang, maka secara  upacara ritual berdo'a berkat kharomah seorang murid wali songgo, maka  sumber tersebut bisa memancarkan sembilan  mata air, maka sampai sekarang sumber itu lebih dikenal dengan nama "Sumber Songo"