edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Legenda di Malang Selatan

Rabu, 26 Oktober 2011

 oleh : Agung Cahyo Wibowo

Mengungkap Misteri 
Desa Jenggola Kepanjen Malang
 
Foto bekas batu-batu patilasan benteng kono


Desa Jenggolo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, yang letaknya di tepi sungai Brantas dan Sungai Metro dan Sungai Sukun, atau lebih dikenalnya terletak di aliran sungai supit urang. Desa jenggola ini memiliki daya Misteri kuat yang disebabkan karena keberadaan sumber daya alam maupun sejarahnya yang cukup panjang Misteri daerah tersebut sampai sekarang masih belum terungkap

Penulis mencoba untuk berpendapat, dengan tujuan untuk mengungkap misteri desa tersebut melalui julukan desa  atau sumber alam yang ada,  untuk lebih jelas tentang julukan desa Jenggolo, silakan baca artikel dibawah ini


 Medang Kamulyan
Desa Jenggolo juga mempunyai  julukan Medang Kamulyan, kalau dilihat dari arti kata "medang" berarti membelah/memotong/memisahkan", sedangkan arti kata "Kamulyan" berarti kemulyaan/Kejayaan, dari arti tersebut maka penulis akan mencoba memberi ulasan sebagai berikut :

Penulis ingin mengawali dengan penjelasan dari pemerintahan Mataram dengan Rajanya Sindhok (929 — 949)  pada masa berakhirlah kekuasaan Dinasti Sanjaya. Raja Sindhok kemudian memindahkan ibu kota kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena
(1) sering meletusnya Gunung Merapi, dan
(2) Mataram sering diserang oleh Sriwijaya.

Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Timur ini sering disebut dengan nama "kerajaan Medang". Raja Sindhok merupakan penguasa baru di Jawa Timur dan telah mendirikan dinasti baru wangsa Icyana. Keturunan Mpu Sindok sampai Airlangga tertulis di Prasasti Calcuta (1042) yang dikeluarkan oleh Airlangga.

Raja Sindhok mendirikan sebuah Keraton di Gunung Kawi, dengan tujuan untuk mendekatkan ke Sang Yang Widi, setelah melakukan pertapaan di gunung Kawi namanya lebih dikenal dengan nama Empu Sindok.

Menurut Nagarakretagama, Pengganti Dharmawangsa adalah Airlangga, menantunya, yang berhasil lolos dari peristiwa pralaya. Airlangga berhasil membangun kembali kerajaan Medang di Jawa Timur. Pada akhir pemerintahannya Airlangga membagi kerajaannya menjadi
(1) Kerajaan Jenggala
(2)  Panjalu (Kediri),

Dengan kesaktiannya Mpu Barada, yang saat itu digambarkan telah terbang sambil memercikkan “Tirta Amerta” (air suci) untuk membagi wilayah menjadi dua. Konon Tirta Amerta tersebut setelah jatuh ke tanah berubah menjadi sungai dan selanjutnya (hingga sekarang) diberi nama Sungai Brantas.

Dengan peristiwa sejarah diatas dan wafat raja Airlangga pada tahun (1049), maka berakhirlah Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno. Penulis mencoba mengulas untuk pertama kali tentang keberadaan Malang dengan adanya nama "Medang Kamulya", berdasar "Aliran sungai Brantas", yang memisahkan wilayah, yaitu  :
    Wilayah Timur atau utara sungai Brantas masuk wilayah Kerajaan Jenggolo dengan pusat kota di Kahuripan

    Wilayah Barat atau Selatan sungai Brantas masuk wilayah Kerajaan Kadiri dengan pusat kota Panjalu/Daha

    Dalam perkembangannya penulis bisa berpendapat bahwa saat itu kerajaan Tumapel berada disebelah barat sungai Brantas, sehingga mempunya praduga bahwa Tumapel berada di kekuasaan Kediri, saat itu diangkatlah seorang Akuwu. Kota rajanya berada di (klik Tumapel Lama).

     Ternyata antara Jenggala dan Kadiri mengalami nasib yang bertolak belakang. Jenggala hanya bertahan beberapa saat sebelum kemudian menjadi wilayah Kediri.Penyebab dari runtuhnya Jenggala ini ditengarai oleh ketidak cocokan kondisi wilayahnya yang cenderung berciri “maritim” sedangkan ciri masyarakat Jawa pada waktu itu adalah “agraris”. Alhasil Jenggala tidak mampu berkembang dalam kepemerintahan dan ekonominya.

    Pada era Kekuasaan Kediri wilayah Tumapel terletak diujung paling timur, dengan wilayah kekuasaan adalah daerah Tegaron (Tugaran), Kemuning (Katurangan), Wagir, Kebalen (Kebalon), Kanjuruhan (Kanjuron), semuanya terletak di sebelah barat sungai Metro dan sungai Brantas dan dikaki gunung Kawi (disebelah selatan atau barat) gunung Kawi. Gunung Kawi pada saat itu dianggap suci oleh agama Hindu dan Budha.
    "Raja Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri. Dengan adanya Prasasti Hantang di Ngantang Batu Malang, menjelaskan bahwa Panjalu atau Kadiri pada masa Raja Jayabaya telah  berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri, lalu memberi hadiah untuk penduduk Desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang dengan Jenggala". Dengan keterangan diatas daerah Malang Raya dan yang berada disebeah Timur sungai Brantas masih mendukung kepemerintahan Kediri. Sepeninggalan Kerajaan Jenggala untuk peninggalannya sangat terbatas, bahkan hampir tidak dikenali dimana letak kerajaan Kahuripan Jenggala. 

    Penulisan mendapatkan pencerahan dari Almarhum.......(lupa nama), rumah beliau berada  dibarat gudang "selep beras",l tinggalnya berada diarea keluarga yang luas dibatasi dengan pagar tembok. Beliau adalah termasuk orang yang terpandang di desa Jenggolo dan tampak kalau orang berpendidikan dan termasuk keluarga Kepala Desa Dongko Jenggolo. Pada saat interview usianya sudah lebih 70, tetapi daya ingatnya masih bagus. Belia dengan jelas menceritakan  desa Jenggolo dan desa Sengguruh yang dipisahkan dengan Jalan kecil yang biasa dokar atau cikar, sekarang bernama jalan raya Jenggolo. Pemberian nama desa baru terjadi pada tahun 1926, yang dulunya merupakan wilayah kepemerintahan kerajaan yang disegani bernama Sengguruh.

    Tujuan dari penjajah Belanda, merubah atau membagi nama desa-desa, nama distrik-distrik  dan merubahan Karisedenan hanya digunakan untuk kemudahan administrasi yang sebagian besar untuk kepentingan penjajah Belanda, yaitu untuk mengeruk pajak dan kekayaan alam bangsa nusantara (belum ada nama Indonesia), yang dilakukan pada akhir abad 19 atau awal abad 20.

    Belanda mempunyai multi tujuan, salah satunya memecah belah daerah yang dianggap strategis dan masih memiliki kekuatan, contohnya, "Melakukan dengan cara mengaburkan sejarah kerajaan Sengguruh atau Tumapel atau Singgosari, dengan tujuan untuk melemahkan pengaruh raja lokal. Karena pada saat itu awal masuknya Belanda ke daerah kadipaten Sengguruh yang dianggap masih memiliki kekuatan, ini mulai taktik politik perancuan sejarah diakhir awal abad 17. Belanda masuk ke Jawa bagian Timur melalui kadipaten Pasuruan. Dasar penjajah...., sepak terjangnya selalu banyak yang tidak menguntungkan orang pribumi. 

    Kembali ke nama Medang Kamulyan, penjajah Belanda memberikan nama dengan "Jenggolo-Senguruh", untuk membingungkan penduduk pribumi dan dirubah lalu dibuat seakan akan menjadi wilayah kecil berupa nama desa, yang memiliki luas hanya beberapa puluh hektar saja......... gila memang penjajah...

    Nama Jenggolo dan Sengguruh menjadi nama desa kecil yang letaknya bersebelahan, dan sekarang  wilayah kecamatan Kepanjen. Dari gambaran sejarah nama desa Jenggolo dan Sengguruh semakin membinggungkan dan pemerintahan lokal setelah kemerdekaan juga kurang menghargai pentingnya sejarah suatu peradapan. Penggalian sejarah ini dianggap hanya membangkitkan budaya animesme dan hindu yang sudah dimakan jaman. 

    Kesimpulan dan juga saran, ketarangan diatas inilah awal dari timbulnya Misteri dari Jenggolo Manik yang memang kita sepakat telah diawali oleh penjajah Belanda. Sedangkan barang bukti tentang peradapan sejarah kita dibawah ke Negara Belada, sehingga kalau putra daerah atau petugas sejarawan yang ingin menguak kerajaan Sengguruh dan Jenggolo harus pergi dan bertanya ke Musium Belanda......