edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Cerita Panji dari Malang Selatan

Jumat, 21 Oktober 2011




Penyebaran Cerita Panji
oleh : Agung Cahyo Wibowo


Sebagai suatu karya sastra yang berkembang dalam masa Jawa Timur, kisah Panji telah cukup mendapat perhatian para ahli, antara lain membicarakannya :

  1. Cohen Stuart 1853 banyak mengulas dari segi kesusasteraannya
  2. Poerbatjaraka 1968 tentang perbandingkan dengan berbagai macam cerita Panji yang telah ada.
  3. C.C.Berg(1928) memberikan informasi bahwa masa penyebaran cerita Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu) hingga ± 1400 M.
  4. Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M.  
  5. Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India).
  6. Dwi Cahyono, namun lantaran Panji populer dalam cerita rakyat atau sejarah lokal, maka satu hal yang biasa jika kemudian terjadi hal-hal yang diakronis. Ada peran-peran lain yang muncul seolah-olah berada dalam satu masa yang sama. Kediri dan Majapahit seperti berada pada satu masa yang sama.
  7. DR. Narongchai, mengatakan bahwa Champa itu berasal dari Jawa. Konon pernah ada raja dari Jawa yang berkuasa di Thailand. Karena itu, ekonom yang juga aktivis gerakan sosial budaya ini sangat menyayangkan hilangnya budaya Panji di Jawa Timur sendiri 
  8. Berg (1930) selanjutnya berpendapat bahwa cerita Panji mungkin telah populer di kalangan istana raja-raja Jawa Timur, namun terdesak oleh derasnya pengaruh Hinduisme yang datang kemudian. Dalam masa selanjutnya cerita tersebut dapat berkembang dengan bebas dalam lingkungan istana-istana Bali'.
  9. R.M.Ng.Poerbatjaraka membantah pendapat Berg tersebut, berdasarkan alasan bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (India). Berdasarkan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang diketemukan di daerah Gambyok, Kediri, Poerbatjaraka juga menyetujui pendapat W.F.Stutterheim yang menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M.
Ditambahkannya bahwa tentunya telah ada cerita Panji dalam Bahasa Jawa Kuno dalam masa sebelumnya, kemudian cerita tersebut disalin dalam bahasa Jawa Tengahan dan Bahasa Melayu.   




Pemikiran penulis :

Basis historis dengan budaya Panji adalah :
  1. Kediri
  2. Sidoarjo (Jenggala), 
  3. Malang, 
  4. Jombang, dan sejumlah kota lainnya. 
Kami mempunyai dasar untuk acuan pemikiran :tentang daerah Malang Selatan adalah salah satu penyebaran  dan pengembangan  sampai sekarang yang masih ada, dasar penyebarannya adalah sebagai berikut :
  1. Keberadaan Gunung Kawi,  sebagai tempat Pertapaan sejak tahun 861 dibangun pada masa Sailendra (Mataram Hindu), Karena ada perselisihan di Mataram, maka kekuasaan Empu  Sendok  beralih ke Jawa Timur dan mendirikan pertapaan , dan ini bisa dilihat timbulnya  raja-raja kuat di Jawa Timur (Singosari dan Majapahit), dan tempat ini digunakan sebagai tempat belajarnya raja-raja di jawa Timur pada masa itu.
  2. Daerah Jenggolo (dengan istilah Sendang Kamulyan) yang berada di tepi sungai Brantas sebagai batas paling selatan pada masa pembagian Kerajaan Jenggolo dengan Kerajaan Kediri.
  3. Kerajaan Sengguruh pada masa keemasan Majapahit atau dalam masa akhir kejayaan.d
  4. Pengaruh Kerajaan Demak di Kerajaan Sengguruh dan Kerajaan Singosari.
  5. Pada Masa Mataram Islam berpengaruh di kerajaan Sengguruh

Kita sering timbul kekhawatiran dampak negatif masuknya budaya asing, maka sesungguhnya negeri ini pernah mengekspor budaya. Hal ini terbukti dengan penyebaran cerita Panji yang asli dari Jawa Timur, ternyata beredar luas di berbagai negara Asia Tenggara.

Karena itu diperlukan langkah Konservasi Budaya Panji agar tidak terjadi klaim oleh negara lain. Konservasi Budaya Panji juga mendesak dilakukan karena cerita Panji bukan sekedar karya sastra atau kesenian belaka, namun telah memiliki relevansi dengan birokrasi pemerintahan, militer, politik, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, religi, seni dan budaya.