edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Kerajaan Kediri

Rabu, 14 Maret 2012


 Mengukir Pemerintahan Malang 




Pembawa keemasan Tumapel menjadi Kerajaan "Raja di Raja" adalah diawali pada masa Ken Arok, yang diperkirakan lahir pada tahun 1182  dan meninggal pada tahun 1227. 

Riwayat hidup Ken Arok juga diuraikan dalam kitab Pararaton dalam bentuk dongengan karya Mpu Tantular. Pararaton adalah salah satu sumber sejarah keberadaannya kerajaan Singasari, yang dibuat pada masa kerajaan Majapahit, yang diperkirakan oleh sejarawan kita ditulis pada tahun saka 1535. 

Bentuk  dongengan Ken Arok sebagai Raja Singasari yang pertama seperti dikisahkan dalam Pararaton pada hakikatnya adalah usaha para raja-raja Majapahit untuk menyusun peristiwa-peristiwa buku sastra pendidkikan tentang kepahlawanan Ken Arok yang dilatarbelakangi dari legenda yang berkembang pada masa itu.
Adanya runtutan cerita legenda sejarah tentang  peristiwa penting yang telah melatar belakangi kejayaan kerajaan Singosari  adalah :

  1. Pada masa pemerintahan Raja Jayabhoyo, terjadi peristiwa perang saudara antara Kediri dengan Jenggolo dan dimenangkan oleh kerajaan Kediri. Perang itu terjadi didaerah Ngantang, karena dukungan masyarakat Ngantang, maka Raja Jayobhoyo memberi menganugerahi suatu tanah perdikan atau tanah bebas pajak. (prasasti ini di Musium Leaden, Negeri Belanda). Prasasti ini ada diperkirakan tahun 1135 M.
  2. Dinasti berikutnya yang menguasai Kediri setelah kemunduran Mataram Hindu adalah keturunan dari Empu Sindok, Dharmawangsa, Airlangga dan terakhir Kertajaya (1216 - 1222). Pada masa ini pusat kekuasaan telah beralih dan dibagi dua kerajan Daha dan Jenggala. Daerah Malang pada masa itu dipimpin oleh seorang Akuwu yang kekuasaan setingkat Kadipaten. daerah Akuwu yang bernama Tumapel adalah daerah yang sudah berkembang terutama dibidang pendidikan Mandala/keprajuritan, pusat pendidikan ilmu spritual (keagamaan). Matapencarian penduduk Tumapel adalah di bidang pertania, mengelola hasil hutan dan berrdagang.
  3. Adanya peristiwa perpindahan pusat dari Kerajaan Mataram (Jawa Tengah) ke daerah baru di Jawa Timur, yang kelak setelah  berkembang menjadi Kerajaan Medang, sebagai awal sejarah yang akhirnya dipecah menjadi  Kerajaan Janggala dan Kerajaan Kediri.  Pada masa itu  Tumapel adalah berstatus Kadipaten dalam kekuasaan Kerajaan Jenggolo yang diperkirakan berada di hulu sungai Berantas Sidoarjo. Kekuasaan kerajaan Jenggolo tidak berlangsung lama yang akhirnya dikuasai kembali oleh Kediri.
  4. Terjadinya peritiwa pemberontakan antara Kerajaan besar Kediri oleh Tumapel yang dipelopori penguasa baru yang bernama Kenarok dari hasil taktik perang "membunuh lawan dengn pisau pinjaman", Saat itu kenarok didukung oleh para Brahmana dari Doho dan Kediri. Peristiwa pemberontakan Kediri ini termasuk kelihaian pasukan Tumpel dalam kemampuan politik dan taktik perang hanya memerlukan waktu singakat selama 2 tahun (terjadi 1220-1222 masehi). perang besar di daerah Ganter pun pecah antara akuwu baru Kenarok seorang mobilisator dengan Pasukan Kediri (Daha). Kertajaya (Dhanhang Gendis) merasa meremehkan kekuatan kekuatan Tumapel justru semangat prahurit Tumapel semakin tinggi dan akhirnya ditandai dengan terbunuhnya Mahesa Wulungan dan Sri Baginda Kertajaya maka kerajaan Kediri jatuh ke tangan Tumapel dan Kerajaan Kediri diturunkan statusnya menjadi kerajaan dibawah kekuasaan kerajaan Tumapel,  dengan kemenangan ini semakan untuk mendirikan kerajaan besar dan kuat maka membangun pusat kerajaan Tumapel Baru sebaga pusat pemerintahan Tumapel (bernama Kutaraja). Pada masa raja Kretanegara lebih dikenal menjadi daerah Singga Sari Raja.               cerita tumapel....klik


Pada Masa Setelah Kekuasaan Kenarok

Dalam prasati Mula Malurung (1979) dikemukakan bahwa sepeninggal Raja Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi kerajaan dibagi dua yakni Janggala dan Panjalu. Tumapel dipimpin oleh Anusapati dengan ibukota Kutaraja. Sedangkan Kadhiri dipimpin oleh Bhatara Parameswara dengan Ibukota Daha.

“Nama Singosari” sendiri sebenarnya baru digunakan pasa masa pemerintahan  Wisynuwarddhana pada 1254. Wisynuwarddhana inilah yang menyatukan kerrajaan Janggala dan Kediri Panjalu yakni perkawinannya antara "Tumapel" yang bernama Wisynuwarddhana dan "Kadhiri" yang bernama Waning Hyun  (putri Bhatara Prameswara)
melahirkan Kertanegara yang akhirnya menuju kerajaan Tumapel yg semakin berkembang besar. .

Sebenarnya peninggalan arkeologi di bekas Kerajaan Tumapel banyak, namun yang penulis ketahui adalah kurangnya tenaga ahli petugas pemerintah yang memang memeliki hobby, juga mampu membidangi secara sumber daya manusianya dan memiliki dedikasi untuk menggali kekayaan sejarah-budaya daerah Malang.

Bukti nama–nama toponomis daerah yang berkaitan dengan kerajaan tersebut tersebar luas di perbagai tempat di Malang.
Daerah-daerah yang disebut di Buku Pararaton (yang ditulis 1461 /250 tahun setelah masa kerajaan Singosari) adalah sebagai berikut :

  • Palandit (Wendit) adalah tempat pusat mandala atau perguruan agama disebut sebagai penepen/tempat nyepi (segi tiga pusat kegiatan, semua kegitan ini dilakukan di candi) = "candi Kegenengan" - "Candi Jago" - "Kutaraja" di jaman Ken Arok  raja Tumapel.
  • Kabalon (kebalen)  adalah pusat mandala yang berada ditepi sungai Brantas disekitar Kebalen/ Kuto bedah/ Das Brantas dan banyak dijumpai gua-gua buatan.
  • Turyan (turen)
  • Panawijyan (Polowijen) tempat mokshanya Kendedes di telaga kering 
  • Tumapel / Kutaraja (Kutorejo)
  • Lulumbang (Lumbangsari)
  • Kagenengan (Genengan)
  • Taloka (Talok),
  • Tagaron (Kepanjen),
  • Warigadya (Wagir) = Patilasan
  • Kaurman (Kauman) = Gribik
  • Dusun Agung (sekaranag Kebonagung dan Wagir) di sebelah Timur Gunung Kawi, adalah daerah makmur karena terdapat bermacam-macam hasil alamnya, itulah Akuwu tempat kementriannya yang bernama dusun “Kutaraja”, penduduknya padat. Kebon Agung tampaknya merupakan situs bekas taman Kaputren didalam puri kerajaan.

Peninggalan :  Arca Prajnaparamita, Arca Dharmapala, Kolam watu Gede,  Ganesha, 
             Candi Sumberawan, Candi Jago, Candi Kidal.

Jaman Singgosari ini seni budaya wayang topeng dengan lakon Panji diperkirakan muncul, Pada periode raja Kertanegara (1190-1214) saka atau 1268-1298 Masehi; Berg, 1928:65). 


Untuk menyelamatkan peninggalan peradapan suatu daerah diharapkan mampu menghilangkan pikiran  dan aturan yang membelenggu hanya karena terkendala oleh biaya,  aturan birokrasi kadang-kadang membelenggu diri  dalam menyelamatkan dan menlestarikan benda-benda peninggalan sejarah masa lampau.