Kerajaan Kediri


Nama Kerajaan ini lebih dikenal sebagai Tumapel. Nama Singasari baru populer digunakan pada masa pemerintahan Wisnuwardhana atau Kertanegara. Dan Fakta Menarik, Ken Arok mendirikan Wangsa Rajasa, dinasti yang nantinya tidak hanya menurunkan raja-raja Singasari, tetapi juga raja-raja Majapahit melalui Raden Wijaya.

Riwayat hidup Ken Arok diuraikan dalam Kitab Pararaton yang disusun dengan gaya narasi sastra (folkloristik). Pararaton merupakan salah satu sumber primer mengenai keberadaan Kerajaan Singasari dan Majapahit. Kitab ini diperkirakan ditulis jauh setelah masa Ken Arok, yakni pada masa akhir Majapahit, dengan angka tahun yang terlacak dalam kolofonnya sekitar tahun Saka 1522 (1600 Masehi).

Meskipun mengandung unsur mitos dan dongeng (terutama pada bagian kelahiran Ken Arok yang disebut sebagai anak dewa), para sejarawan tetap menganggap Pararaton sebagai sumber penting untuk mencocokkan silsilah raja-raja yang juga tercatat dalam Prasasti dan Kakawin Negarakretagama.

Pengisahan Ken Arok sebagai raja pertama Singasari dalam bentuk legenda di Kitab Pararaton pada hakikatnya merupakan upaya legitimasi politik. Narasi tersebut disusun sebagai sastra sejarah yang mengangkat nilai kepahlawanan Ken Arok, dengan memanfaatkan legenda yang berkembang di masyarakat pada masa itu untuk memperkuat kedudukan wangsa (dinasti) penguasa. 

Untuk Legitimasi Wangsa Rajasa, para raja Majapahit adalah keturunan langsung dari Ken Arok. Dengan menggambarkan Ken Arok sebagai titisan dewa (Brahma, Wisnu, dan Siwa) dalam Pararaton, penulis memberikan "stempel" kesucian dan hak ilahi kepada keturunannya untuk memerintah Jawa.

Terdapat beberapa peristiwa kunci yang dijalin dalam narasi legenda atau sejarah yang menjadi fondasi kejayaan Kerajaan Singosari (Tumapel). Runtutan ini sering kali mencampurkan fakta politik dengan unsur mitis untuk memperkuat legitimasi Wangsa Rajasa:

a. Kemenangan Jayabaya dan Prasasti Hantang

Pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (Joyobhoyo), terjadi perang saudara antara Kerajaan Kediri (Panjalu) dan Kerajaan Jenggala yang berakhir dengan kemenangan Kediri. Pertempuran penentu tersebut terjadi di daerah Ngantang. Sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas dan dukungan masyarakat Ngantang, Raja Jayabaya menganugerahkan status Tanah Perdikan (tanah bebas pajak) yang diabadikan dalam Prasasti Hantang (berangka tahun 1135 M), yang merupakan salah satu artefak penting Indonesia yang saat ini berada di luar negeri, tepatnya di Museum Volkenkunde, Leiden. Saat ini, prasasti tersebut menjadi koleksi di Museum Leiden, Belanda.

Di bagian atas Prasasti Hantang, terdapat semboyan terkenal Pangjalu Jayati yang berarti "Kediri Menang". Ini adalah seruan kemenangan Jayabaya atas Jenggala yang menandai bersatunya kembali kerajaan yang sempat terbelah.

Setelah kemunduran Kerajaan Mataram Hindu (Era Jawa Tengah), pusat kekuasaan bergeser ke Jawa Timur di bawah Wangsa Isyana yang didirikan oleh Mpu Sindok. Dinasti ini kemudian diteruskan oleh raja-raja besar seperti Dharmawangsa Teguh dan Airlangga.

Pembagian Kerajaan dan Munculnya Kediri

Pada akhir masa pemerintahannya (sekitar 1042 M), Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua untuk menghindari perang saudara antara kedua putranya:

Kerajaan Jenggala (berpusat di Kahuripan/Sidoarjo).

- Kerajaan Panjalu atau Kediri (berpusat di Daha).

Seiring berjalannya waktu, Kediri muncul sebagai kekuatan dominan hingga masa pemerintahan raja terakhirnya, Kertajaya (1194–1222 M).

c. Perpindahan Pusat Kekuasaan ke Jawa Timur

Peristiwa besar dalam sejarah Nusantara ditandai dengan perpindahan pusat Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok pada abad ke-10 (sekitar 929 M). Di wilayah baru ini, kerajaan berkembang menjadi Kerajaan Medang (Mataram Kuno periode Jawa Timur) dengan Wangsa Isyana sebagai dinasti penguasa.

Pembagian Kerajaan: Jenggala dan Panjalu (Kediri)

Puncak kejayaan Medang terjadi di masa Raja Airlangga. Namun, di akhir pemerintahannya pada tahun 1042 M, ia membagi wilayahnya menjadi dua untuk mencegah perang saudara:

  1. Kerajaan Jenggala
  2. Kerajaan Panjalu (Kediri) 

Status Tumapel dalam Geopolitik

Pada masa pembagian tersebut, Tumapel (wilayah Malang) berstatus sebagai Kadipaten atau daerah bawahan yang berada dalam lingkup kekuasaan Kerajaan Jenggala. Hal ini strategis karena posisi Tumapel berada di wilayah hulu yang subur.

Namun, dominasi Jenggala tidak bertahan lama. Melalui serangkaian konflik berkepanjangan, Kerajaan Kediri akhirnya berhasil menaklukkan Jenggala dan menyatukan kembali otoritas kekuasaan di Jawa Timur. Seiring dengan jatuhnya Jenggala, Tumapel pun beralih menjadi wilayah bawahan Kerajaan Kediri hingga masa pemerintahan Raja Kertajaya.

Tumapel pada awalnya hanya sebuah kadipaten kecil, posisi Tumapel yang jauh dari pusat pemerintahan Daha (Kediri) memungkinkan wilayah ini berkembang menjadi kekuatan militer dan spiritual yang mandiri sebelum akhirnya Ken Arok melakukan pemberontakan.

d. Runtuhnya Kediri dan Lahirnya Singasari (1220–1222 M)

Pemberontakan besar melawan Kerajaan Kediri dipelopori oleh penguasa baru Tumapel, Ken Arok. Ia menggunakan taktik politik yang cerdik, yang dalam istilah modern sering disebut sebagai strategi "membunuh lawan dengan pisau pinjaman"—memanfaatkan konflik internal dan dukungan dari pihak lain untuk mencapai ambisinya

Aliansi Politik dengan Kaum Brahmana

Keberhasilan Ken Arok tidak lepas dari dukungan kaum Brahmana dari Daha dan Kediri. Para pendeta ini melarikan diri ke Tumapel karena merasa ditindas oleh Raja Kertajaya (Dhandhang Gendis) yang menuntut agar dirinya disembah sebagai dewa. Dukungan moral dan spiritual ini memberikan legitimasi bagi Ken Arok untuk memobilisasi pasukan.

Pertempuran Ganter (1222 M)

Hanya dalam waktu singkat (sekitar dua tahun), Ken Arok berhasil membangun kekuatan militer yang solid. Puncaknya adalah pertempuran hebat di daerah Ganter.=

Sikap Meremehkan: Raja Kertajaya awalnya meremehkan kekuatan Tumapel, namun semangat prajurit Tumapel justru berkobar tinggi.

Kemenangan Mutlak: Pertempuran ini berakhir tragis bagi Kediri dengan gugurnya panglima andalan Mahesa Wulungan. Kekalahan ini menandai jatuhnya kekuasaan Kertajaya dan berakhirnya kedaulatan Kediri.

Pembangunan Pusat Pemerintahan: Kutaraja

Pasca kemenangan di Ganter, status Kediri diturunkan menjadi wilayah bawahan di bawah kekuasaan Tumapel. Untuk menegaskan kekuasaannya, Ken Arok membangun pusat pemerintahan baru yang megah bernama Kutaraja.

Transformasi Menjadi Singasari

Seiring berkembangnya waktu, terutama pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, pusat pemerintahan di Kutaraja ini lebih populer dengan nama Singasari. Di bawah panji Singasari Inilah, ambisi untuk menyatukan Nusantara (melalui Cakrawala Mandala Dwipantara) mulai dicanangkan.





Kerajaan Kediri (Kadhiri), dipimpin oleh Bhatara Parameswara (yang diidentifikasi sebagai putra Ken Arok lainnya), di Ibukota Daha, dengan status menjadi kerajaan bawahan atau bagian dari federasi keluarga besar Wangsa Rajasa.

Prasasti ini mengubah banyak persepsi sejarah lama karena beberapa alasan penting, Hubungan Antar Tokoh didalam Pararaton, Anusapati dikisahkan membunuh Ken Arok karena dendam, Prasasti Mula Malurung lebih menonjolkan sisi formalitas suksesi dan hubungan kekeluargaan di mana wilayah-wilayah strategis diberikan kepada anggota keluarga kerajaan.

Penyatuan Kembali pada masa-masa berikutnya (terutama masa Wisnuwardhana), dilakukan upaya penyatuan kembali yang lebih solid hingga mencapai puncaknya di era Kertanegara.(saat masih menjadi raja muda/yuvaraja) untuk meresmikan penganugerahan desa kepada pranaraja. Ini adalah dokumen administratif paling otentik untuk membedah silsilah awal Singasari.



Pernikahan Politik, adalah cara menyatukan Dua Garis Keturunan trah Tumapel dan Kediri,
- Wisnuwardhana : Mewakili garis keturunan Tumapel (putra Anusapati).
- Waning Hyun     : Mewakili garis keturunan Kediri 
                               (putri Bhatara Parameswara/cucu Ken Arok).

Dampak penyatuan, dualisme dalam satu Pernikahan ini secara efektif menyatukan kembali wilayah Jenggala dan Panjalu (Kediri) di bawah satu komando pusat. Dari persatuan ini lahirlah Kertanegara, raja terbesar yang nantinya membawa Tumapel/Singasari mencapai puncak imperium Nusantara. Dengan hilangnya rivalitas antara Daha (Kediri) dan Kutaraja (Tumapel), energi kerkuatan kerajaan dapat dialihkan untuk ekspansi wilayah dan pembangunan kekuatan maritim.

2. Wilayah Penyangga dan Ekonomi
3. Struktur Pemerintahan dan Pertahanan


Catatan Penulis :


Ketersediaan Air: Jika kita perhatikan, hampir semua daerah yang Anda sebutkan (Wendit, Polowijen, Kebalen) memiliki sumber mata air atau berada di aliran sungai besar. Ini membuktikan bahwa peradaban Tumapel sangat bergantung pada Sistem Irigasi Brantas.

Gua Buatan di Kebalen : Temuan gua-gua di tebing sungai Brantas (Kuto Bedah) sering dikaitkan dengan tradisi pertapaan kaum Rishi di masa Singasari.

Meskipun peninggalan arkeologi di bekas wilayah Kerajaan Tumapel sangat melimpah, upaya pelestariannya masih menghadapi kendala serius. Penulis mencermati bahwa tantangan utama terletak pada keterbatasan tenaga ahli dan aparatur pemerintah yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga dedikasi serta minat mendalami terhadap sejarah dan dibutuhkan sinergi sumber daya manusia yang mumpuni untuk menggali, meneliti, dan menjaga kekayaan sejarah-budaya daerah Malang agar tidak hilang ditelan zaman.


ARTIKEL POPULER

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO

KELUARGA DALEM DHARMOREDJO
PILIH JUDUL DIBAWAH INI :