edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Pelukis Komik Asal Kepanjen Malang

Minggu, 07 Maret 2010



Menemukan Berlian di Tumpukan Jerami

Bio Data Teguh Santosa

Bagi para pencinta komik nama Teguh Santosa tentu tak asing lagi. Komikus kelahiran Malang, Jawa Timur 1 Februari 1942 (meninggal 25 Oktober 2000) ini pernah melaju sebagai komikus papan atas Indonesia sezaman dengan R.A. Kosasih, Jan Mintaraga, Hans Jaladara dan Ganes Th. Lewat ciri khas gambar-gambarnya yang eksotik dan kedetailan garis-garis ilustratif, Teguh Santosa pernah dipinang oleh Marvel Comics salah satu penerbit komik terbesar dunia yang berbasis di New York sebagai ink-man. Serial Conan, Alibaba dan Piranha adalah tiga serial komik yang pernah digarap oleh komikus yang kesohor lewat tokoh Mat Pelor ciptaannya ini sebagai ink-man.

Teguh Santosa meninggal dunia di tengah kegalauan ketika dunia komik Indonesia ”dijajah” komik impor Jepang pada 20 Oktober 2000 silam akibat kanker yang menyerang tangan kanannya. Karya Teguh Santosa yang pertama berjudul Paku Wojo yang dibuatnya pada tahun 1964, disusul karya roman sejarah Ranggalawe di tahun yang sama. Lalu hingga ia meninggal dunia tidak kurang dari 125 judul komik dibuatnya.


Teguh yang menikah dengan Sutjiati (almarhumah) dikaruniai empat anak: Theaterina Onwardini, Dhani Valiandra, Aprodita Anggraini, dan Dody Syailendra. Jiwa seni menurun kepada Dhani dan Dody yang kuliah di Institut Seni Indonesia. Darah seni Teguh berasal dari ayahnya Soemarmo Adji dan ibunya Lasiyem yang merupakan seniman ketoprak. Mereka pemilik tobong ketoprak ”Krido Sworo pada waktu itu. Mbah Marmo—sebutan untuk Soemarmo—dikenal sebagai pelukis layar sebagai latar belakang panggung ketoprak. Teguh hanya menamatkan sekolah di SMA 4 Malang, kemudian pada tahun 1966 pindah ke Yogya dan bergabung dengan ”Sanggar Bambu” dan berguru melukis pada Kentardjo, Soenarto PR, dan sastrawan Kirdjomulyo. Menjelang meninggal dunia, komikus Teguh masih mengigau dalam ketidaksadarannya: ”Keris itu harus dilempar ke lereng Tengger...” Dan Teguh meninggal dalam tenang pada dini hari 25 Oktober 2000.