edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Penulis Sejarah Kepanjen

Minggu, 01 Juli 2018

Rutin Tampil di Sidang Paripurna Istimewa 
HUT Kabupaten Malang

Posted on Jawa Pos, Senin, 5 Desember 2016 by Redaksi in Featured: Aris Syaiful Anwar

Agung Cahyo Wibowo, warga asli Kepanjen, memiliki 600 foto dokumentasi tentang sejarah Kepanjen tempo dulu hingga sekarang. Dia ingin menggali sejarah kepanjen dimulai dari masa kerajaan hingga saat ini.

Seperti apa upayanya...?
Suara azan Duhur menggema di sekitar kawasan Kepanjen, jl Welirang 29, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kamis lalu (1/12) dijalan Welirang yang berdekatan dengan pasar besar Kepanjen, itu ada lembaga latihan dan bursa kerja “Dharma Wiyata’ milik Agung.
Saat itu, dia keluar dari tempat tersebut untuk bergegas salat Duhur berjamaah. Tak berselang lama, dia menemui Jawa Pos - Radar Malang dan bercerita tengah mengumpulkan dokumen sejarah Kepanjen, mulai dari foto hingga cerita dari pelaku sejarah yang masih hidup. Ini semua berawal pada tahun 2007 silam, yakni saat rencana perpindahan ibu kota Kabupaten Malang ke Kepanjen”, kata alumnus STIKI Malang tahun 1993 ini.
Pria kelahiran 17 Juni 1969 yang juga direktur lembaga latihan dan bursa kerja Dharma Wiyata ini berkisah tentang foto dokumentasinya berjumlah lebih dari 600 buah, mulai bangunan kantor lama, sekolahan, kegiatan umum, kegiatan organisasi, jembatan, tempat rekreasi Metro dan Gunung Kawi, perang Belanda di Malang Selatan dan lain-lainnya. Foto-foto tersebut tersimpan rapi dirumahnya di Perum Kepanjen Permai II blok H-9 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Mengapa mereka mengkoleksi foto-foto itu..?
Dia beralasan, selain cerita dari saksi sejarah foto itu akan memperkuat sejarah Kepajen, “Siapa lagi yang mengumpulkan foto dokumen Kepanjen, apalagi pembangunan disana-sini sangat dinamis dan cepat”, terang alumnus SMA PGRI I Kepanjen tahun 1988 ini.
Dia juga membidik bisnis kreatif dengan mencari ciri khas Kepanjen, mulai dari ukir dan Batik dan gaya busananya.
Caranya mengoleksi foto-foto itu juga tergolong nyleneh. Dia harus mendekati saksi-saksi sejarah dengan mendatangi mereka dari rumah ke rumah, yang sebagaian besar dari saksi-saksi sejarah itu adalah itu berusia lanjut. “Setelah mereka (sesepuh) bercerita, saya tanyakan foto dokumentasinya, kalau ada ya saya pinjam. Tapi biasanya diberikan begitu saja”, kata anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Sumardi Atmodjo dan Sundanik tersebut.
Tak hanya itu, dia juga mengeluarkan uang pribadinya agar mendapat foto dokumentasi hingga cerita dongen tantang Kepanjen, dia enggan menyebutkan nominalnya.
Menurut dia, koleksinya itu pun sudah empat kali berturut-turut mengisi sisi sejarah pada even HUT Kabupaten Malang. Dia diminta membuat pameran karena Pemerintah Kabupaten Malang tertarik dengan koleksinya. Pengalaman itu dia peroleh dengan mengajukan proposal ke Pemkab Malang lebih dulu.
Pada Rapat Paripurna Istimewah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 1256 Kabupaten Malang di gedung DPRD. Hasil karyanya dibuat dalam bentuk vidio. Itu berisi foto dokumentasi mulai dari bangunan pemerintah, pasar, bangunan kantor polisi, busana pejabat pemerintah, hingga kondisi Kepanjen masa kini. Belum banyak yang tahu kalau busana setiap periode mulai tahun kemerdekaan hingga sekarang sudah mengalami perubahan. Seperti dulu memakai blangkon hingga sekarang memakai baju putih-putih”, terang alumnus SDN I Kepanjen tahun 1982 ini.
Dia juga menunjukkan foto dokumentasi bangunan Mapolres Malang tempo dulu. Yakni bangunan kantor polisi milik penjajah Belanda. Dan para pejabat mulai dari Bupati Rendra Kresna dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang Hari Sasongko juga ikut menyaksikan foto-foto lawas itu.
Agung juga menampilkan narasi dalam bentuk vidio yang dia bikin. Narasi itu berasal dari sumber wawancara langsung kepada sesepuh di Kepanjen. “Saya langsung turun mewawancarai saksi sejarah yang masih ada, sebab didalam buku sejarah maupun internet  masih belum ada”, terang alumnus SMPN 4 Kepanjen Malang tahun 1985 tersebut.
Menurut dia, kemampuan itu dia latih secara otodidak. Namun, hal itu didukung dengan latar belakang dan pekerjaan dibidang ilmu komputer. Kemudian dia membuat cerita Kepanjen beserta foto-fotonya diblognya agar diketahui oleh banyak orang. Dari blog itulah banyak yang menghubungi Agung. Mereka banyak yang memberi tahu jika ada foto maupun cerita yang mereka belum dapat. “Saya belajar sendiri, mulai dari memotret hingga menggali cerita sejarah, lalu ditulisnya sendiri”, kata suami dari ibu Fadjar Damayanti ini.
Namun, dia mengaku belum puas dengan kerja sosialnya itu. Makanya di menulis dua buku dengan judul “Ruyaknya Lentera Islam di Kerajaan Sengguruh” buku itu berisikan tentang sejarah keruntuhan  Majopahit karena perang saudara antara kerajaan Doho, Majapahit dan Demak. Kekalahan Kerajaan Mojopahit  membuat Raden Brawijaya V harus melarikan diri ke Padepokan Sengguruh (Tumapel) untuk meminta bantuan, lalu kembali menyusun kekuatan tentaranya. Kekuatan Mojopahit pulih kembali dan menaklukkan kerajaan Lamongan dan Giri Kedaton. Lalu peran dari adipati Sengguruh (Arya Terung), sebagai pimpinan pasukan, saat itu Arya Terung bertemu dengan Sunan Giri yang akhhirnyan dia memeluk agama Islam dan menyebarkan di wilayah Sengguruh. Saya dapat data itu dari cerita sesepuh, reverensi pustaka, patilasan dan Makam”, kata bapak tiga anak tersebut.
Buku Berikutnya berisi sejarah Mataram Islam yang mengalami konflik dengan kerajaan Sengguruh Malang) dan didalam peristiwa itu munculnya cerita pahlawan yang bernama putri Proboretno dan suaminya Raden Panji Pulang Jiwo. Peristiwa itu melatar belakangi munculnya namanya nama-nama dusun, desa dan daerah Malang, khususnya di Kepanjen (*/c2/Iid)