edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

Kitab Pararaton ( 1 )

Jumat, 31 Maret 2017



KITAB RUJUKAN
CERITA KERAJAAN SINGASARI
Menurut Pararaton kerajaan Tumapel (Singosari) 
didirikan oleh Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi 
yang bernama kecil Ken Angrok (umumnya disebut Ken Arok). 
Bagi yang belum sempat mengetahui Karya Sastranya silakan dibaca :



Serat Pararaton ditulis dalam bahasa Kawi
Adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan
terdiri 32 halaman ditulis sebanyak 1126 baris. 
Isinya : sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit.
----------------------------------------------------------------------------




ISI KITAB PARARATON
Karya : Empu Tantular
Tuhan adalah Sang Pencipta, Sang Pelindung dan Pengakhir Alam, 
Semoga tak ada halangan, Sudjud hambamu sesempurna-purnanya.



BAB I. 
Kisah Asal Mula Ken Angrok, dijadikan manusia:

Awal dari cerita ini adalah kisah seorang bernama Ken Angrok.yang akhirnya dijadikan menjadi seorang Manusia adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, melanggar norma kesusilaan, menjadi gangguan Sang Hyang yang bersifat gaib; yang menyuruh  dari Jiput untu pindah ke daerah Bulalak. Seorang penguasa di Bulalak itu adalah Mpu Tapawangkeng, pada saat ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, tiba-tiba dimintailah tumbal seekor kambing merah jantan oleh roh penunggu pintu. Kata Tapawangkèng: "Tak akan berhasil susah-susah berfikir sampai pusing, yang akhirnya akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi seperti hal tersebut aku akan marah dan membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menolak permintaan korban kambing merah itu." Kemudian orang melanggar norma kesusilaan tadi berkata, saya sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya.
Ketika permintaanya direstui oleh Mpu Tapawangkeng untuk dapat menjelma jadi manusia, diajarkan pada inti sari kematiannya, yaitu akan melewati tujuh Alam. Apabilah dirimu berada dalam kematian, maka harus ada korban yang harus dilakukan oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke Surga Wisnu, dan menagih perjanjian untuk dijadikan korban, lalu meminta untuk dijelmakan manusia di sebelah timur Kawi (1). Dewa Brahma melihat-lihat siapa akan dijadikan temanya untuk bersepasangan. Sesudah demikian itu, akan ada mempelai baru dengan dasar saling cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara dan yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini adalah petani. Ken Endok pergi ke sawah untuk mengirim suaminya Gadjahpara disawah tempat ia: mengirim Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur
Dewa Brahma turun menemui Ken Endok, didalam pertemuan mereka kedua melakukan hubungan badan seperti manusia umumnya di ladang Lalaten; dewa Brahma berpesan  kepada isteri itu: "Jangan kamu bertemu dengan suamumu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, karena disebabkan janin anakku itu, yang bernama: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa". Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu kembali kesawa untuk berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: "Kakak Gajahpara, hendaknya saya dimaafkan, saya telah bertemu dengan Hyang pada waktu tidak di ladang Lalateng, pesan beliau kepada saya adalah jangan tidur dengan suamimu lagi, karena suamimu akan matil jika memaksa tidur dengan kamu maka akan tercampurlah janni anakku.dan anak itu kelak akan memerinta tanah Jawa.

Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur dengan suaminya. Ken Endok tidak bisa menolak terhadap suaminya. "Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi."

Kata Gadjahpara: "Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi". Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur (2) di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara (3) di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: "Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia". Akhirnja sesudah genap 9 bulan 10 hari, lahirlah seorang anak laki-laki lalu dibuang di tempat kuburan anak anak oleh Ken Endok. 

Selanjutnya ada seorang pencuri yang bernama Lembong sedang tersesat pada malam hari di kuburan anak -anak tersebut, saat melihat  ada benda menyala didatangi oleh Lembong dan mendengar tangisan bayi, setelah didekati oleh Lembong ternyata bayi yang sedang menangis, lalu diambil dan dibawa pulang kerumahnya selanjutnya bayi itu dianggap seperti anaknya sendiri.

Beberapa saat kemudian Ken Endok mendengar dari temannya bahwa, Lembong telah menemukan bayi dan diangkat menjadi anak. Lalu Ken Endok mendatang Lembong untuk memberitahu perasaanya bahwa sebenarnya itu adalah anak yang lahir dari rahimnya. Ken Endok: berkata "Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu bahwa anak yang tuan temukan itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya adalah seperti ini bahwa Dewa Brahma telah bertemu dengan saya, lalu pesan saya jangan tuan sia-siakan anak itu sebab  anak itu riwayatnya diumpamakan seperti lahir dari dua ayah satu ibu". Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang anak kecil tersebut, lambat laun anak itu telah menjadi remaja dan bernama Ken Angrok dan sangat lama tinggal di Pangkur.

Saat mulai dewasa ken Angrok berkembang secara wajar tetapi sayang bimbingan dari tidak ada dan hanya memanjakan dan pengaruh jelek dari lingkungan sangat kuat sehingga  berubah menjadi seorang penjudi. Kenarok yang masih remaja akhirnya terpengarug lingkungannya dan menjadi seorang penjudi sampai akhirnya harta benda dari Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan judi oleh Ken Angrok. 

Setelah harta benda kedua orang tuanya habism kemudian ia menjadi anak gembala pada yang majikan di Lebak (4), dia diberi tugas oleh majikannya menggembalakan sepasang kerbau, karena keteledoran saat mengembala akhirnya sepasang kerbau yang digembalakan itu hilang. Akhirnya Ken Angrok melapor kepada majikannya bahwa kerbau yang dikembala telah hilang. Sifat jujur dan keterusterangan kenarok telah mendapatkan marah dan majikannya minta ganti rugi. oleh majikannya disuruh mengganti kerbau sepasang atau menganti dengan uang dan harga mahal sebesar delapan ribu.

Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan sambil menagis sedih, "aduh anakku kalau bapak dan ibu harus mengganti uang sebesar itu uang dari mana, sebagai rasa sayangku kepada anakku dan tanggung jawab atas kehilangan sepasang kerbau kami berdua siap menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi anakku..". yang akhirnya kedua orang tuanya menjadi  hamba tanggungan pada majikan di Lebak". Ken Angrok merasa hatinya sedih dan berdosa, agar bisa menebus kesalahannya dia harus mencari uang untuk mengganti kerbau yang hilang dan secepatnya agar kedua orang tuanya terbebas hamba tanggungan. Dengan hati merasa bersalah  Ken Angrok akhirnya pergi dari daerah Campara dan  Pangkur. 

Ken Angrok pergi mencari penghidupan di Kapundungan (5), didaerah  baru ini tidak ada berlindung dan tidak ada orang yang menaruh belas kasihan kepadanya. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman (6) yang bernama Bango Samparan.

Pada sat itu Bango Samparan barusan kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di daerahnya dan harus segera membayar hutang yang cukup besar. Karena tidak mampu membayar Bango Samparan itu pergi tempat tinggalnya, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu (7), saat sedang kidmat ke tempat keramat dia mendengar suara dari angkasa, agar dia segera dia pulang ke Karuman lagi dan kamu akan menemukan anak usia remaja yang nantinya akan bisa menyelesaikan hutang-hutangmu, anak ini bernama Ken Angrok". Maka dengan cepat cepat dia meninggalkan dari tempat keramat Rabut Jalu.

Saat didalam perjalanan pulang malam hari dengan hati binggung, ragu-ragu tiba-tiba dia melihat seorang anak remaja yang terkeletak lemas sedang bersandar dibawah pohon memelas, hatinya terhenyak lalu merasa iba dan ingin secepatnya menolongnya tanpa harus berpikir panjang dan lupa akan petunjuk Hyang Widi, dia hanya berfikir ingin menolong dengan membawa pulang ke rumahnya di Karuman  dan ingin dijadikan anak angkat. Keiklasan dan ketulusan inilah yang akhirnya bisa mempermudah bisa ketemu dengan cita-cita ketemu dengan anak remaja yang bernama Ken Angrok, tanpa harus sulit-sulit mencari.

Beberapa hari Bango Samparan di rumah Karuman dia ketemu bandar Judi untuk menagih hutang-hutanya dengan keinginan bulusnya memiliki rumah besarnya di  menantang judi lagi. Dengan berat hati karena takut pada centeng-centeng bandar judi akhirnya dia pergi ketempat berjudian, bandar judi menunggu Bango Samparan untuk berjudi habis-habisan. Pada kenyataan akhirnya bandar judi itu kalah main dengan Bango Samparan sampai hutang-hutangnya lunas dan setelah itu berhenti dan tidak berjudi lagi sebab kemenangan ini adalah pertolongan Hyang widi.

Bango Samparan pulang untuk menemui Ken Angrok dan keluarganya, dia ingin menceritakan pengalaman hidup yang seperti mimpi yang barusan didapat lalu memperkenalkan Ken Angrok dan ingin menyampaikan taubat atas kesalahannya kepada Genuk Buntu,  istri tuanya dan Tirtaya nama isteri mudanja. Bango Samparan mempunyai anak dari isteri muda yang bernama Panji Bawuk, Panji Kuncang,  Panji Kunal, Panji Kenengkung dan si bungsu perempuan bernama Cucu Puranti. Sedangkan Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu istri tuanya. 

Ken Angrok tidak lama tinggal di Karuman, dia selau teringat kedua orang tuanya yang menjadi hamba tanggungan di Pangkur dan  merasa tersayat hatinya jika dia melihat adik para Panji anak dari Bango Samparan merasah  kasih sayangnya yang hilang. 

Akhirnya Ken Angrok berpamitan pergi dari Karuman untuk pergi mencari kerja ke Kapundungan. Untuk mencari makan di menemui dan membantu kerja seorang anak gembala anak tuwan Sahaja yang menjabat Kepala Desa Tua di Sagenggeng (8). Teman baru kenarok ini bernama Tuwan Tita, Persahabatan antara Tuwan Tita dan Ken Angrok sangatlah akrap yang akhirnya Ken Angrok diperbolehkan tinggal di rumah Tuwan Sahaja. keduanya bekerja dan bermain-main selalu bersama. 

Melihat orang orang yang mempunyai kedudukan, jabatan dan jadi orang kaya yang membuat Ken Angrok ingin belajar tentang bentuk huruf huruf sebagai kemapuan dasar untuk mengapai sebuah cita-cita luhur, akhirnya berdua pergilah ke seorang guru di Sagenggeng dan dia menjadi murid yang taat. Ken Angrok tergolong anak yang pandai dia dengan mudah menyerap ilmu kesusasteraan, tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu. 

Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya diajari ilmu ketrampilan dan pengetahuantentang tanaman agar bisa menjadi hiasan halaman, menanam beberapa pohon pohon dan pohon jambu dia tanam sendiri, hasil buahnya sangat lebat dan banyak diwaktu musimnya. Pohon tanamannya dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. 

Kata guru: "Jika sudah masak jambu itu, petiklah". Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok tanpa disadari dengan berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu milik sang guru yang ditaati. Akhirnya pada waktu paginya buah jambu tampak berserakan di halaman lalu diambil oleh pengiring guru dan dilaporkan ke guru, dan guru telah melihat buah jambu menjadi rusak dan jatuh berserakan di halaman itu, maka guru kelihatan susah. Kata guru kepada murid murid: "Apakah afda yang tahu penyebab jambu itu rusak.", pengiring guru menjawap "Guru rusaknya jambu itu itu, karena bekas kelelawar yang makan jambu". Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambu-jambu yang tersisah dan harus dijaga semalaman. Pada saat Ken Angrok tertidur diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat guru biasanya menganyam atap.

Menurut penglihatan seorang guru ada banyak kelelawar yang keluar dengan berbondong bondong dari ubun ubun Ken Angrok dan semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, dia merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu kepada Ken Angrok yang tidak tahu apa-apa dengan di bangunkan pada tengah malam dan diusir dari balai-balai. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi dan tidur di tempat lapang berumput ilalang yang letaknya di luar. 
Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : "Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru yang saya hormati"


Kenarok dari usia remaja sampai tumbuh menjadi orang dewasa berada dipadepokan diasuh oleh seorang guru yang mumpuni. Setelah ilmunya dirasa cukup Ken Angrok dan Tuwan Tita diijinkan untuk mandiri dengan berternakan kambing dan lembu. Berdua dengan suka cita membangun sebuah pondok yang bertempat di sebelah timur Sagenggeng (9), di ladang Sanja (10) untuk dijadikan tempatnya pertemuan orang-orang yang lalu lalang di jalan. 
Temannya teman Tuwan Tita sangat banyak ada yang bekeraja sebagai seorang penyadap enau di hutan Kapundungan. Temannya mempunyai seorang anak perempuan yang berparas cantik dan sering ikut pergi ke hutan dengan ayahnya.
Tak terasa ken Angrok menjadi anak dewasa yang mulai tertarik pada siperempuan tadi, Ken Angrok kadang-kadang menghantar gadis cantik menunggui menyadap enau. Karena bekerja dengan senang hati maka hasil yang didapat semakin banyak. 
Ada teman salah satu teman gadis cantik yang bernama Adiyuga tidak suka dengan keakraban Ken Angrok, pada waktu mereka berduaan mengangkat hasil penyadapan enau di hutan dengan cara berpegangan tangan, temanya semakin cemburu.

Adiyuga sakit hati melihat keduanya semakin akrap akhirnya membuat cerita fitna tentang
Ken Angrok telah memperkosa gadis-gadis yang lewat jalan kehutan, lalu diberitakan kepada orang-orang yang melewati jalan menuju hutan, bahwa ada orang yang suka memperkosa orang-orang perempuan yang bernama ken Angrok

Akhirnya berita fitna itu semakin meluas dan sempat didengar oleh penguasa Negara Daha (11), Dan penguasa Daha mencari kenarok yang telah dianggap pembuat kerusuhan dan keonaran, maka yang namanya Ken Angrok harus ditindak dan dihukum berat oleh penguasa daerah setempat  yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. 

Akhirnya untuk lari dari fitnah  Ken Angrok secara diam-diam meninggalkan Sagenggêng dan lari bersembunyi ke tempat keramat bernama Rabut Gorontol (12). Ditempat itu Ken Angrok menenggelamkan diri kedalam air dengan harapan meninggal dan terlepas dari masalah yang melilit yaitu berhadapan langsung orang yang ingin melenyapkan dan hukuman dari negara Doho. Tapi takdi Sang Yang Widi berkehendak lain Ken Angrok semoga keluar air dan masih hidup, tetapi kematian Ken Angrok telah menyebar.

Menghadapi tahun tahun sulit untuk keluar dari keruwetan menuju kebaikan  yang ada dipenguasa Jawa, Ken Angrok pergi dari Rabut Gorontol untuk mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala (13).

Ada seorang pemikat burung pipit, ia mekaksa orang yang sedang rnemanggil-manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu (14). Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, tenpat itu digunakan untuk persembunyia di Jun Watu (15), daerah yang  sempurna untuk tempat tinggal baru adalah di Lulumbang (16), dan yang tinggal tempat itu adalah keturunan atau golongan tentara.
Nana Gagak Uget sangat lama tinggal disitu, dia sering memaksa orang yang sedang rnelalui jalan untuk pergi ke Kapundungan, ada seoran pencuri di Pama Lantenan ketahuanlah telah mencuri dan dikejar tak tahu dia telahdikepung dan tak bisa kemana-mana untuk tinggal sembunyi, akhirnya ia memanjat pohon tal yang berada di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu dan telah ditunggu orang Kepundungan saat turun dibawah ditangkap dan sambil dipukulkan canang, pohon tal ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. 
Sekarang dia menangis sedih ingat akan menyebut Sang Pencipta atas kebaikan pada dirinya, setelah ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong 2 helai daun tal, untuk didjadikan sayap sebelah kiri dan kanan agar bisa melayang ke seberang ke arah timur dan mengungsi ke Nagamasa (17)  yang letaknya di manca negara supaya tidak dikejar dan diburu lagi dan pergi dari daerah Kapundungan tanah yang subur

Ken Angrok yang merupakan buronan kerajaan Dhaha meminta perlindungan kepada  seorang pejabat Tumapel agar dijadikan anak angkat. Pejabat itu memiliki wilaya persawahan yang luas dan dibagikan dan dirawat oleh anaknya sebanyak enam orang yang kebetulan yang seorang anaknya sedang pergi untuk membeli alat pengeringan yang diletakan diempangan rumah, tinggal lima orang  yang sedang mengerjakan sawahnya dan anak yang pergi diganti oleh Ken Angrok. Saat itu sempat didatangi tentara Dhaha untuk mencari Ken Angrok, seraya berkata kepada pejabat tersebut: "Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari.". Pejabat itu menjawab: "Tuan tuan-kami tidak bisa berbohong, sebab disini kami berenam, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini" Kata orang-orang yang mengejar: "Memang sungguh, anak pejabat itu ada enam orang, betul juga dihitung ada enam orang." Segera pergilah tentara yang mengejar.Kata pejabat daerah kepada ken Angrok: "Pergilah kamu, jangan kembali,  kalau ada yang mendengar pembicaraan saya tadi, kamu akan sia-sia menolongmu, pergilah kamu dan bersembunyilah dihutan". Ken Angrok: berkata, "Semoga tuan dianggap melindungi saya dari mengejar prajurit Tumapel", itulah sebabnya maka Ken Angrok pergi bersembunyi di dalam  hutan Terwag (18).

ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: "Apakah sebabnya maka nasi itu hilang".......




   terdiri 32 halaman ditulis sebanyak 1126 baris   .

 1    2    3     4     5     6     7    Next