edisi kusus

edisi kusus
Klik gambar... untuk melihat cerita, silsilah, foto keluarga Darmoredjo

5. Kapan Kepanjen ada peradapan..?

Jumat, 10 November 2017



 Ditinjau dari Sumber Sejarah 


Sungai Metro yang mempunyai "hulu mata air" dilereng gunung Panderman kota Batu dan sungai Metro mengalir setengah melingkari sebelah timur gunung Kawi. Tepatnya di timur gunung Kawi dan tepi sungai Metro pernah berdiri pusat kerajaan Kanjuruhan, yang merupakan kerajaan pertama yang ada di Jawa Timur.

Bukti tertulis mengenai kerajaan Kanjuruhan adalah Prasasti Dinoyo yang ditulis pada tahun 682 saka atau tahun 760 M. Disebutkan seorang Raja yang bernama Dewa Singha, memerintah keratonnya yang amat besar yang disucikan oleh api Sang Siwa. Raja Dewa Singha mempunyai putra bernama Liswa, yang setelah memerintah menggantikan ayahnya menjadi raja bergelar Gajayana.


Pada sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu, melakukan perluasan ke Pulau Jawa bagian timur, tanpa peperangan. Hal ini praktis membuat Kerajaan Kanjuruhan dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintahan pusat. Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno zaman Raja Balitung, akhirnya Raja Kerajaan Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri diartikan perubahan bunyi dari kata Kanjuruhan. Menurut sumber data sejarah, saat kekuasaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu, berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur yang disebabkan oleh adanya gejolak politik istana dan terjadinya bencana alam gunung Merapi meletus sehingga merusak sendi-sendi kekuatan Istana Mataram, yang saat itu dipimpin Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu. Mahapatihnya bernama Empu Sendok terkenal karena berilmu tinggi, adil dalam menjalankan pemerintahan, bijaksana, dia juga seorang resi dan yang dia menjadi mahapatih yang sangat disegani oleh raja-raja di pulau Jawa.

Dalam pengembaraanya Empu Sendok mencari tempat untuk mengungsi dan perlindungan untuk keluarga raja, akhirnya rombongan pengungsi Mataram menuju ke daerah lembah terjal di  lereng selatan gunung Arjuna tepatnya dilembah utara hulu Brantas


Karena ada rombongan pengungsi masuk kewilayah kekuasaan Kanjuruhan, akhirnya diketahui oleh tentara kerajaan Kanjuruhan dan rombongan pengungsi dihentikan di suatu daerah yang diperkirakan berada diantara gunung Kawi dan gunung Arjuna. Maka utusan kerajaan Kanjuruhan meminta agar pimpinan rombongan untuk menghadap raja Kanjuruhan di Istanahnya.  Setelah diketahui oleh raja Kanjuruhan yang datang adalah Raja Agung Mataram, maka raja memerintahkan agar pera rombongan pengungsi  bisa tinggal di wilayah Kanjuruhan, sedangkan untuk keluarga raja diperbolehkan masuk istana Kanjuruhan. 
Selang beberapa waktu akhirnya raja kanjuruhan mempersilahkan Empu Sendok untuk membuat tempat bermukim di gunung Kawi, sebagai tempat tinggal dan sebagai sarana mendekatkan diri ke Sang Yang Widi, dengan membangun sebuah keraton sederhana yang  sampai sekarang masih ada.

Akhirnya selang beberapa tahun keberadaan Empu Sendok di gunung Kawi banyak diketahui dan didatangi oleh para kasatria, pangeran dan raja dari kerajaan kecil maupun dari kerajaan besar yang berada di pulau Jawa sehingga semakin lama  semakin ramai. Kedatangan para panji adalah untuk belajar ilmu dan meminta nasehat kepada Empu sendok bagaimana menjalankan kerajaan dengan benar tentunya tidak melanggar dan tetap menghargai mahluk dengan cara ber-dharma dan mempersiapkan hidup untuk jaman kelanggengan atau setelah manusia meninggal.

Perkembangannya pada masa abad 10  agama Hindu dan Budha berkembang dengan pesat dan kedudukan seorang resi dianggap sebagai suara dewa, sehingga harus dijadikan hukum tertinggi di kerajaan, sehingga saat raja Kanjuruhan meminta arahan kepada Empu Sendak tentang bagai mana sistem kerajaan yang bijak, yang akhirnya Empu Sendok memberi gambaran dengan membangun Kerajaan dengan Desentralisasi, ada kerajaan bawahan yang diberi otonomi. Tugas raja agung adalah mengatur strategi pembangunan dan mengelola pajak bakti dharma dari raja-raja kecil dibawah perlindungan Mataram Dengan pemberian kepercayaan dan pengangkatan kepercayaan yang diberikan Empu Sendok, 

Akhirnya kerajaan besar kanjuruan di pecah menjadi tiga daerah yaitu kerajaan rakryan Kanjuruhan meleburkan menjadi  Watak Kanuruhan. Watak adalah suatu wilayah yang luas, yang membawahi berpuluh-puluh wanua (desa). Jadi daerah watak itu dapat ditentukan hampir sama setingkat kabupaten. Dengan demikian "Rakrayan Kanjuruhan" membawahi wanua-wanua (desa-desa) yang terhampar seluas lereng sebelah timur Gunung Kawi sampai lereng barat Pegunungan Tengger-Semeru ke selatan hingga pantai selatan Pulau Jawa. Dan sistem susunan pemerintahan dirubah menjadi
Rakrayan  = Pemerintahan Kerajaan
Watak       =  Pemerintahan Setingkat Kadipaten
Wanua      =  Pemerintahan Desa 

Wilayah Rakrayan Kanjuruhan meliputi :
  • Wanua Ketawanggede (bangunan candi di dalam wilayah/kota Kanuruhan).
  • Wanua Balingawan (sekarang Desa Mangliawan-Pakis),
  • Wanua Kabalon (sekarang Dukuh Kabalon Cemarakandang),
  • Wanua Panawijyan (sekarang Kelurahan Palowijen Kecamatan Blimbing),
  • Wanua Bunulrejo (sekarang Bunulrejo)
  • Wanua Wurandungan (sekarang dukuh Kelandungan – Landungsari), 
  • Wanua Panawijyan  (sekarang desa Palawijen Blimbing)
  • Wanua Wonorejo   (sekarang desa Lowok Waru)
  • Wanua Wurandungan  (sekarang Dukuh Kelandungan – Landungsari) 
  • Wanua Ketawanggede 
  • Wanua Hujung = sekarang desa Ngujung Singosari
  • Wanua Jeru-Jeru = Tumpang
  • Wanua Balandit  (sekarang Mendit)
  • Karuman, 
  • Merjosari, 
  • Wanua Turryan (sekarang Kec.Turen),
  • Wanua Tugaran (dusun Tegaron Panggungrejo-Kepanjen)
Pada akhirnya Rakrayan Kanjuruhan bergabung kepada pusat agama Hindu yang ada di Mataram Kuna, saat rajanya bernama Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung dan telah ikut dan terlibat dalam pembangun candi prawara yang ada dicandi Prambanan.  

Dengan penjelasan diatas posisi Watak Kanuruhan tetap menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno, dengan memberikan posisi jabatan sebagai pejabat penting yang mengurusi urusan administrasi kerajaan. Struktur pemerintahan tentang kerajaan pusat dan juga menjadi negara bagiannya, yang tidak pernah dilakukan oleh pejabat (Rakyan) yang lainnya, dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno pada masa lampau.  Peristiwa bergabungnya Kerajaan Kanjuruhan untuk justru memperkuat agama Hindu dan penyebarannya di Jawa.

Tindakan cerdas tanpa dilakukan oleh raja Balitung sebagai Rakrayan Kanjuruhan pada saat itu, dengan ikut menjadi bagian pemerintahan raja Empu sendok secara otomati kekuasaan semakin luas tanpa melaui peperangan dan pertumpahan darah, sedangkan wilayah kekuasaan Kanjuruhan masih tetap

Untuk mengurangi tugas raja kanjuruhan maka tanggung jawab sebagai raja hanya perlu menganggkat pemimpin wilayah (watak), yaitu :

1. Watak Kanuruhan  (Krajan)

2. Watak Hujung,

3Watak Tugaran 
Sejauh ini nama-nama desa kuna yang bisa terlacak antara lain :
2.1. Wanua Tugaran         = sekarang desa Tegaron Kepanjen
2.2. Wanua Katuranggan  = sekarang desa Kranggan Ngajum
2.3. Wanua Paniwen         = sekarang desa Peniwen 
2.4. Wanua Turryan          = sekarang desa Turen 
2.5. Wanua Waharu          = sekarang desa Suwaru.  
Memang Sekalipun pada teks prasasti bisa terbaca, namun sejumlah nama desa kuno hingga saat ini masih sulit untuk diidentifikasikan dan masih belum akurat, karena minimnya patilasan yang ditemukan.

Dengan kehadiran Watak Tugaran menjadi pemicu lahirnya areal perkotaan Kepanjen yang letaknya diantara sungai Metro dan sungai Brantas, yang dalam lintas masa menjadi sentra pemerintahan dan peradaban Kabupaten Malang,  Oleh karena itu tidaklah tepat jika dikatakan bahwa wilayah kecamatan Kepanjen Malang adalah daerah baru hadir setelah adanya PP.18 tahun 2008, yaitu tentang penunjukan Ibu Kota Kabupaten Malang.

Cukuplah menjadi alasan untuk menyatakan bahwa watak Tugaran sebagai peletak dasar dan sekaligus pembentuk sistem sosial-budaya yang teratur di awal terjadinya peradapan ibu kota Kabupaten, yang menganggap dasar dari Rakyan Kanjuruhan pada abad 10 untuk menempatkan daerah Tugaran sebagai modal sosio-kultural yang dibuahkan awal oleh Kerajaan Kanjuruhan sebagai bagian daerah penting di jaman kerajaan Singhasari, Majapahit pada masa kerajaan Sengguruh di wilayah Malang.

Saat dibawah kekuasaan Mataram, wilayah Rakyan Tugaran sudah ada dengan bentuk pemerintahan yang dijabat oleh :
- seorang pejabat rake Tugaran. dan pejabatan rake
- bawahnya seorang patih Tugaran 
- beberapa Juru Gotra tugaran. 
    (sumber http://gchandrakirana.blogspot.co.id)

Paparan data diatas memberi kita gambaran bahwa Watak Tugaran memang sudah ada sejak jaman Kanjuruhan, yang letaknya sekarang berada  di selatan gunung Kawi, ditepi sungai Metro, tepatnya di dusun Tegaron Kepanjen. Penulis ingin menunjukkan koleksi foto peninggalan benda kuno yang didapat disekiatar daerah Tegaron,  adalah sebagai berikut :
Penemuan benda bersejarah Umpak berjumlah 8 dengan rincian 2 umpak besar, 4 umpak sedang, 2 umpak kecil  dan 1 lingga, Alhamdulillah..... benda tersebut masih terawat. Kumpulan umpak tersebut diduga pernah ada bangunan berupa "pendopo besar" di wilayah Tegaron. dan dari  bangunan pendopo tersebut mengalir sumber air. coba lihat foto diatas.
Penemuan arca Dewi Durga, gelas batu ukir dan 3 arca kuningan. Menurut penduduk di sekitar wilayah Tugaran, juga pernah ditemukan patilasan Candi yang sempat dibongkar oleh penduduk, saat itu keadaan candi tersebut masih di dalam lumpur sawah, beberapa penemuan yang sempat diperoleh oleh penduduk dan ditunjukan kepada penulis berupa foto yang terlihat diatas, yang letaknya tidak jauh dari peninggalan berupa pendopo.

Dengan bukti peninggalan sejarah diatas Penulis bisa memberi suatu gambaran tentang dugaan "posisi tempat pusat pemerintahan Watak Tugaran", dengan gambaran adalah sebagai berikut
  • Sebuah bangunan pendopo 
  • Dua (2) buah peninggalan candi yang letaknya tidak jauh dari bangunan pendopo, yang satu letaknya di senggreng (900 meter), yang satunya lagi di tepi sungai kali biru (3 kilo meter). yang dilihat dari batu batanya sama, arca Dewi Durganya juga sama. Penulis memperkirakan bangunan abad 10 - 12 masehi, dijaman Hindu. 
  • Tidak jauh dari posisi pendopo juga, arah ke timur terdapat sumber air
  • Tidak jauh dari posisi pendopo di sebelah timur, terdapat aliran sungai metro yang terlihat lebar,  dan  kelihatnya juga digunakan sebagai transportasi air ndengan menggunakan prahu kecil.
 (peta tata letak terlampir)





http://kursuskerja.blogspot.co.id/2015/08/kursus-di-lembaga.html


lanjut - pilih :
  1. Latar Belakang, Rumusan, Batasan danManfaat Penelitian
  2. Sumber Data Sejarah
  3. Kajian Data Sejarah,  Eksploitasi Eksternal
  4. Eksplotasi Internal, Ditinjau dari Geografis
  5. Ditinjau dari Sumber Penemuan Sejarah
  6. Ditinjau dari Hubungan  antaraWilayah